Don't Come

469 69 12
                                        


~°~

"Aku bakalan anggap apa yang kamu bilang tadi cuma bercandaan. Kita lupain, oke?"

Jisung mengacak surainya kasar. Entah sudah berapa kali bibirnya mengutuk dirinya sendiri. Matanya menatap lurus pada langit yang bertaburan bintang, tak selaras dengan hatinya yang tengah kacau.

Apalagi saat bayangan raut wajah Changbin yang begitu kecewa setelah ia melontarkan kalimat biadab itu tanpa pikir panjang. Baiklah, ia mengingkari janjinya.

Dikala dirinya tengah meratapi kebodohan yang ia lakukan, ponsel yang berada didalam saku celananya bergetar. Sesegera mungkin ia mengambil benda pipih tersebut, dengan harapan sahabatnya yang menelponnya.

Namun harapan hanya tinggal harapan tak bermakna. Daripada Changbin, nama orang lain lain kini terpampang jelas pada layar ponsel pintarnya. Dengkusan kecewa lolos dari bibir sembari menggeser ikon hijau tersebut tak minat.

"Kenapa?"

"Kamu mau ke alun-alun kota nggak? Lagi ada pertunjukan sirkus."

"Enggak, aku capek," sahutnya tanpa pertimbangan.

Yang menghubunginya adalah sang kekasih, gadis cantik dari kelas lain di sekolahnya. Mereka menjalin hubungan baru dua bulan, setelah gadis itu menyatakan perasaan dan memintanya untuk menjadi pacarnya. Dan Jisung baru saja memutuskan hubungan dengan adik kelasnya.

"Yaahh, kok gitu? Masa kamu tega aku pergi sendiri."

"Ya nggak usah pergi, lagian ini udah malam."

"Ck, sekalian kita kencan. Aku kangen kamu, disekolah kita jarang banget ketemu. Kamu sibuk sama kegiatanmu dan gak ada waktu buat aku--"

"Iya-iya. Sepuluh menit lagi aku sampe rumah kamu."

Terdengar seruan riang dari gadis yang berstatuskan sebagai kekasih seorang Han Jisung tersebut.

"Makasih, Han."

Tak perlu baginya untuk bersusah payah membalas ucapan tersebut. Jisung memutus sambungan dengan telepon segera.


~°~

Pusat kota kini benar-benar ramai, selain dipenuhi dengan berbagai macam wahana permainan dan puluhan penjaja makanan ringan, suara riuh dari para penonton yang bersorak untuk penampil sirkus itu membuat kota tersebut jauh dari kata sepi.

Dan Han Jisung dibuat frustasi karenanya. Ia tak begitu menyukai keramaian, terlebih jika harus berdesakan dengan banyak orang. Tidak, itu mimpi buruk baginya.

"Bisa nggak kita duduk aja, aku pusing liat orang lalu lalang."

Setelah berkeliling cukup lama, dan hanya dalam rute yang sama berulang kali, Jisung akhirnya mengutarakan protesnya pada sang kekasih yang begitu antusias.

"Iihh, Han, ngapain kita jauh-jauh datang kesini kalo cuma buat duduk doang. Aku mau naik wahana yang itu." Gadis cantik dan manis bernama Rina itu menuding salah satu wahana permainan, viking. Dan Jisung hanya menggeleng tak minat.

"Kamu yang maksa aku kesini. Kalo mau naik, sana naik sendiri. Aku tunggu disini." Ucapnya mutlak.

"Haann, ayo doongg."

"Kamu pergi sendiri atau aku pulang?"

Bukan pilihan yang baik, namun daripada ditinggal pergi, Rina pada akhirnya memilih untuk menikmati wahana cukup ekstrim itu sendirian. Membiarkan Jisung yang kini duduk di sebuah kursi yang berada di dekat kedai es krim, sendirian seperti orang bodoh.

Ia kembali menenggelamkan diri pada pikirannya. Menyelami gundah gulana yang menyelimuti. Karena Seo Changbin. Ia tidak akan tenang sebelum mengutarakan maaf dan dimaafkan oleh temannya tersebut.

Dan ia betah belagak bak patung disana dalam beberapa menit, tak mau acuh dengan suara teriakan atau bising yang memenuhi tempat tersebut.

Hingga pada akhirnya pandangan menerawangnya itu jatuh pada satu sosok yang tengah berdiri dalam barisan pada salah satu wahana permainan, bianglala.

Entah harus senang atau apa, namun sosok tersebut membuat lamunannya buyar. Dimana objek yang ia lamunkan kini tertangkap penuh oleh netra temaramnya.

Sepertinya hari itu dewi keberuntungan tengah berbaik hati.

Sosok tersebut, Changbin, tampak tengah berdiri didalam barisan menunggu giliran untuk menaiki wahana permainan tersebut. Dan Jisung mengulum senyum kala figur itu kini sedang mengerucutkan bibir, mungkin sudah cukup lelah menunggu.

Akhirnya Jisung dapat berterima kasih kepada Rina karena telah memaksanya untuk datang ke tempat bising ini.

~°~

Ia mendengkus lelah sembari berulang kali meregangkan kakinya yang terasa pegal karena telah terlalu lama berdiri menunggu giliran untuk menaiki satu-satunya wahana yang ia gemari. Bianglala.

Ia suka perasaan gugup ketika berada di puncak wahana tersebut, dari sana ia bisa merasakan angin malam yang berembus pelan membelai wajah dan rambutnya. Hal itu dapat membuat pikirannya tenang meski tak jarang ia ketakutan setengah mati.

Changbin menghela napas pelan dan membuangnya lambat serta teratur.

Hingga tiba gilirannya, ia mengulurkan tiket yang ia beli dengan harga yang cukup murah untuk ukuran remaja sepertinya. Meskipun ia tak sadar untuk berada di dalam bilik bianglala tersebut, tak bisa dipungkiri bahwa dirinya pun sedikit tidak nyaman. Karena harus berada satu ruang dengan orang asing.

Biasanya, orang asing tersebut adalah Jisung. Namun hari ini Changbin tak ingin mengingat temannya tersebut. Ia tak ingin melihat Jisung untuk beberapa waktu kedepan. Benar-benar tidak, tanpa pengecualian.

Namun, nampaknya semesta sedang tak berpihak.

Saat dirinya baru saja merubuhkan pantat pada dudukan besi bilik tersebut, seseorang masuk menyusulnya. Bukan orang asing seperti apa yangharapkan.

Changbin tertegun, lidahnya kelu kala menemukan senyum yang terlihat menyebalkan namun sekaligus mendebarkan. Tubrukan netra antara keduanya itu berlangsung untuk beberapa sekon kedepan.

Demi Tuhan, Han Jisung itu benar-benar brengsek ulung.

"Harusnya minta aku buat nemenin kamu. Aku tau kamu takut ketinggian--"

"Kamu ngapain disini?"

Satu hal yang Changbin pelajari setelah apa yang ia hadapi hari ini. Yaitu untuk tidak memberi ruang untuk seseorang seperti Jisung untuk menerobos masuk. Dan kembali merampas hatinya yang tersisa setengah.

~°~

~°~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

[39]2012 | H.Jisung & S.Changbin | 3 | [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang