"Berbicaralah seperlunya. Dan bertindaklah lebih banyak dibandingkan bicara mu. Karena kita lebih butuh hasil bukan omong kosong,"
Terlihat 15 orang siap dengan senjata mereka masing-masing. Mereka melingkar sembari menatap satu persatu lawan mereka.Seorang perempuan berambut pendek dengan pakaian serba hitam menatap datar 15 orang yang di bawah mereka.
"Mulai!" serunya. Ia memantau pertarungan yang sengit itu dari atas Balkon Ruangan.
15 orang itu saling bertarung.
Sejak awal memantau, Viara sudah merasa tertarik dengan 3 orang gadis yang sepertinya memang memiliki bakat yang tidak biasa.
Salah satu dari mereka yang Viara tau bernama Angelista slalu melepaskan peluru tepat sasaran meski dari jarak jauh dan tidak dalam keadaan diam. Dia berusaha menghindari perlawanan tetapi masih bisa membidik dengan tepat. Itu bukan hal yang mudah. Satu-satu nya penembak terbaik yang Viara kenal adalah Selena.
Dan gadis yang memegang pisau kecil itu sangat cekatan. Permainan pisau nya sangat mencengangkan. Dia menggerakkan pisau seolah itu adalah tangan nya sendiri. Bahkan dia bisa melempar pisau nya dari jarak jauh dan mengenai tepat di dada kiri salah satu dari ke 15 orang.
Dan, Adiera. Gadis keras kepala yang mengira bahwa Mafia ini hanyalah sekedar perkumpulan Perampok bodoh tidak berpengalaman. Anak yang sombong. Tetapi permainan pedang nya luar biasa. Tidak ada keraguan dalam setiap gerakan nya. Benar-benar gadis yang kejam karena sangat menginginkan kematian orang lain. Dia tidak segan menusuk salah satu mata lawan nya. Bahkan ada yang jari nya sampai terputus. Dia memiliki firasat yang tepat karena dia bisa menebak setiap gerakan lawan.
"Kekejaman yang sangat di butuhkan." batin Viara tertarik.
Seorang wanita mendekat pada Viara lalu membisikkan sesuatu pada gadis itu. Viara mengangguk, lalu wanita itu mundur dan Viara menekan ipad yang berada di tangannya.
Dari atas sana, Viara yang menjabat sebagai Ketua Tim Informasi terlihat berbicara dengan seseorang.
"Mereka bertarung dengan kekuatan dan otak mereka. Mereka tidak mengandalkan kekuatan, tapi juga ketepatan dalam mengambil keputusan. Tapi anak itu, dia bermain dengan emosi dan kekejaman," ujar Viara sambil melirik Angelista, Charlotte dan terakhir Adiera.
"Bagaimana kondisi mereka?" sebuah suara terdengar dari entah mana.
"Kondisi mereka semua masih baik, hanya saja ada beberapa yang telah tumbang," Viara menatap santai tubuh orang-orang yang telah berada di lantai itu.
"Bagus! Aku tak sabar bertemu dengan orang-orang inti itu,"
"Baiklah Rum."
Komunikasi terputus. Tak ada yang tau teknologi yang mereka kembangkan. Viara Sang Ketua Tim Informasi mengembangkan alat komunikasi yang dibuat dengan warna kulit pengguna.
"Selena sudah siap kan?" tanya Viara pada orang di belakangnya.
"Dia sudah siap Nona." Viara mengangguk.
Selang beberapa jam, tersisa tiga orang yang ingin saling menyerang. Viara langsung bertindak. Ketiganya membeku sebelum senjata mereka menyabet lawan mereka.
Adiera seolah ingin menebas kepala Angelista, sedangkan Angelista menggenggam pistol yang ia letakkan di kepala charlotte, dan charlotte yang sudah menempelkan pisaunya di leher Adiera.
"Kenapa tubuhku gak bisa bergerak?" tanya Angelista.
"Sial!" desis Die.
Ketua Tim Informasi itu langsung naik ke atas Pagar Balkon dengan sekali lompatan membuat pandangan ketiga orang itu mengarah padanya karena cahaya lampu menyoroti dirinya dari belakang. Viara langsung melompat ke bawah dengan mulus tanpa terjatuh sedikitpun, lalu ia mendekat pada ketiga gadis yang saat ini telah ia bekukan dan jangan lupakan ipad kesayangannya yang setia berada di kedua tangannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Queen
Fantasy"Lihat itu Selena mulai beraksi lagi!" "Iya bener Tuh, kemarin si Tera yang gangguin Selena, masuk Rumah sakit jiwa. Kita jangan sampe bikin masalah sama Selena pokoknya." _------_ "Lihat itu Angelista, kemarin Bevan nembak dia. Diterima dong!" "Ah...