Di lengkung alisnya, tersimpan tarian cendrawasih dari surga,
Bukan sekedar molek yang tertangkap mata, melainkan magis yang menjerat jiwa.
Ia adalah rima yang tak sempat di tuliskan pujangga terdahulu,
Sebuah simfoni diam yang meruntuhkan logika di setiap jamuannya.
Ia lebih dari sekadar jelita, sebab ia adalah pembuat hukum bagi keindahan,
Setiap geraknya adalah pasang surut samudera yang menelan kata-kata.
Wajahnya bukan kanvas, melainkan cakrawala tempat matahari memilih terbenam,
Meninggalkan sisa pijar yang membuat rembulan merasa malu untuk berpendar.
Andai seluruh semesta diringkas menjadi sebaris aksara,
Maka ia adalah titik yang mengakhiri pencarian akan kesempurnaan.
Tak ada kamus yang sanggup menampung getar kehadirannya,
Sebab ia bukan untuk dieja, melainkan untuk diimani dalam sunyi yang paling dalam.