AUAHbingung

Di peron ini, genggamanmu mulai melonggar,
          	Seperti senja yang dipaksa menyerah pada malam.
          	Janji-janji kita kini hanya gema yang pudar,
          	Meninggalkan jejak sunyi di dada yang lebam.
          	
          	Aku menatap matamu yang mulai mendingin,
          	Mencari sisa hangat dari kenangan yang kita beri.
          	Dahulu kita lincah berlari bagai seekor kelinci,
          	Kini terpaku membeku di ujung jalan yang berduri.
          	
          	Pergilah, biarkan gerimis menghapus langkahmu,
          	Sebab menahanmu hanya akan melukai sayapmu sendiri.
          	Aku akan belajar akrab dengan ketiadaanmu,
          	Merawat rindu yang kini tak lagi memiliki arti.

AUAHbingung

Di peron ini, genggamanmu mulai melonggar,
          Seperti senja yang dipaksa menyerah pada malam.
          Janji-janji kita kini hanya gema yang pudar,
          Meninggalkan jejak sunyi di dada yang lebam.
          
          Aku menatap matamu yang mulai mendingin,
          Mencari sisa hangat dari kenangan yang kita beri.
          Dahulu kita lincah berlari bagai seekor kelinci,
          Kini terpaku membeku di ujung jalan yang berduri.
          
          Pergilah, biarkan gerimis menghapus langkahmu,
          Sebab menahanmu hanya akan melukai sayapmu sendiri.
          Aku akan belajar akrab dengan ketiadaanmu,
          Merawat rindu yang kini tak lagi memiliki arti.

AUAHbingung

Dulu aku si kancil yang lincah berlari,
          Melompati parit, menantang terik matahari.
          Tawa pecah bagai riak sungai yang jernih,
          Dunia terasa luas, tanpa ada rasa letih.
          
          Kini kaki melangkah di atas aspal yang kaku,
          Mengejar tenggat waktu di balik meja kayu.
          Sorot mata yang dulu binar, kini mulai redup,
          Tersapu hirup-pikuk demi mencukupi hidup.
          
          Tak ada lagi cerdik yang mencari celah bermain,
          Hanya sisa lelah yang dibalut kemeja kain.
          Si kancil kecil kini telah tumbuh dewasa,
          Menyimpan tawa lamanya di balik tumpukan rasa.

AUAHbingung

Riuh rendah badai datang menghantam karang,
          Menjadikan sisa tawa sebagai korban yang hilang.
          Namun di balik buih yang pecah dan menderu,
          Ada hening yang tersimpan dalam dan membiru.
          
          Luka ini mungkin menetap hingga sebulan,
          Atau mungkin lebih lama, Menanti sebuah jawaban.
          Tapi hati belajar untuk tidak lagi gemetar,
          Menemukan titik diam di saat dunia bertengkar.
          
          Aku belajar pada sabar seekor penyu tua,
          Mengarungi samudera tanpa harus banyak bicara.
          Meski arus menyeret jauh ke tengah lautan,
          ia tetap tenang, pulang menuju keteduhan.

AUAHbingung

Di sudut kamar yang lembap semut hitam mulai datang,
          Mengitari remah hati yang hancur berkeping di lantai.
          Mereka lebih setia daripada bayangmu yang hilang,
          Hadir saat aku ringkih dan tak lagi mampu bermimpi permai.
          
          Aku melihat mereka menggotong sisa-sisa kenangan kita,
          Satu per satu dibawa masuk ke liang gelap yang dalam.
          Seolah tahu bahwa cinta kini hanyalah bangkai tanpa kata,
          Dibiarkan membusuk di pelukan malam yang paling kelam.
          
          Kini aku berteman akrab dengan sunyi dan barisan itu,
          Menghitung detik yang merayap di sela nadi yang perih.
          Sebab patah hati kali ini tak lagi butuh bahu untuk mengadu,
          Cukup kelu, debu, dan kelabu yang menyaksikan aku tersisih.

AUAHbingung

Di sudut kedai yang dulu riuh oleh tawa kita,
          kini hanya ada hening yang merambat di sela jemari.
          Sialnya, ingatan tentangmu masih menetap,
          Seperti aroma kopi yang menolak pergi meski cangkir telah sepi.
          
          Kau kini menjelma sosok yang begitu asing,
          Seperti sebuah nama dalam buku yang tak lagi kubaca.
          Kita adalah dua pengembara yang sempat searah,
          Sebelum akhirnya memilih jalan berbeda untuk saling melupa.
          
          Biarkan rasa ini terbang serupa kupu-kupu,
          Mencari taman baru setelah sayapnya lelah menetap di masa lalu.
          Sebab melupakan bukanlah tentang menghapus jejak,
          Melainkan tentang berdamai dengan apa yang tak lagi berdetak.

AUAHbingung

Di taman yang dulu penuh warna pelangi,
          Kini hanya debu yang menari di sela jemari.
          Sesuatu yang kucinta telah pergi menjauh,
          Meninggalkan raga yang kian rapuh dan luruh.
          
          Bak mengejar bayang unicorn di tengah hutan,
          Aku mencari jejak yang hilang dalam ingatan.
          Makhluk indah itu tak lagi menampakkan diri,
          Hanya menyisakan sunyi yang menikam sanubari.
          
          Tak ada lagi binar yang layak untuk dijaga,
          Sebab duniaku kini kehilangan nyawa.
          Seperti kepingan dongeng yang berakhir luka,
          Aku terasing di antara cinta yang tlah sirna.

AUAHbingung

Di lengkung alisnya, tersimpan tarian cendrawasih dari surga,
          Bukan sekedar molek yang tertangkap mata, melainkan magis yang menjerat jiwa.
          Ia adalah rima yang tak sempat di tuliskan pujangga terdahulu,
          Sebuah simfoni diam yang meruntuhkan logika di setiap jamuannya.
          
          Ia lebih dari sekadar jelita, sebab ia adalah pembuat hukum bagi keindahan,
          Setiap geraknya adalah pasang surut samudera yang menelan kata-kata.
          Wajahnya bukan kanvas, melainkan cakrawala tempat matahari memilih terbenam,
          Meninggalkan sisa pijar yang membuat rembulan merasa malu untuk berpendar.
          
          Andai seluruh semesta diringkas menjadi sebaris aksara,
          Maka ia adalah titik yang mengakhiri pencarian akan kesempurnaan.
          Tak ada kamus yang sanggup menampung getar kehadirannya,
          Sebab ia bukan untuk dieja, melainkan untuk diimani dalam sunyi yang paling dalam.

AUAHbingung

Di balik tirai embun yang luruh perlahan,
          Sang kumbang menari dalam pusaran rindu yang kelam,
          Mengeja sisa wangi pada bibir angin yang bungkam,
          Mencari jejak cahaya di antara bayang-bayang legam.
          
          Ia bertahta di atas singgasana sunyi yang rapuh,
          Sebuah kursi kayu tua yang di pahat oleh waktu dan peluh,
          Di sana ia merajut doa-doa yang hampir lumpuh,
          Menanti fajar menyembuhkan sayapnya yang luruh.
          
          Hingga tiba saatnya satu kelopak terakhir terjatuh,
          Menyentuh tanah seperti janji yang tak lagi utuh,
          Keindahan itu sirna, meninggalkan duka yang jenuh,
          Dalam dekapan malam yang memeluk segalanya dengan patuh.

AUAHbingung

Di ujung senja, binar janji kian redup,
          Menelan cahaya yang dulu kau tiup.
          Aku terdiam di antara bayang yang memanjang,
          Menyadari kehangatanmu hanyalah fatamorgana yang gersang.
          
          Kau pandai bersandiwara, laksana seekor rubah,
          Memoles dusta hingga takdir terasa indah.
          Namun di balik topengmu yang nyaris sempurna,
          Hanya ada jebakan yang kau sebut sebagai rencana.
          
          Kini aku terkunci dalam ruang hampa,
          Diperdaya kata manis yang kau sebut selamanya.
          Sebab ternyata, kekekalan yang kau tawarkan,
          Hanyalah cara paling sunyi untuk sebuah penyamaran.

AUAHbingung

Ia serupa lebah yang mengitari hari tanpa henti,
          Memungut beban, menukar sisa usia dengan sunyi.
          Tak ada manis yang ia tuju, tak ada rumah yang ia rindu,
          Hanya kepatuhan yang bergerak otomatis dalam kalbu.
          
          Ia hanyut dalam arus waktu yang kian mengasing,
          Di antara deru dunia yang membuatnya terus berpusing.
          Tak ada lagi tanya tentang alasan atau ke mana arahnya,
          Sebab tujuannya telah lama menguap bersama udara.
          
          Kini ia hanya raga yang memiilih jalan untuk pasrah,
          Menjalani ritual panjang tanpa gairah yang merekah.
          Ia terus bekerja sebagai budak waktu yang tak berhati,
          Menghuni hidup riuh, di dalam jiwa yang mati.