Dulu, ada seorang perempuan bernama Naina.
Ia ceria, penuh cahaya, dan menghadirkan rasa hangat sejak pandangan pertama.
Aku terpukau bahkan sebelum sempat mengenalnya.
Takdir mempertemukan kami di sebuah panggung kabaret sekolah.
Aku terpilih sebagai pemeran utama, dan dia—ia menjadi istriku dalam cerita.
Di sanalah, di balik latihan-latihan panjang dan sorot lampu panggung, aku mulai mengenalnya… dan diam-diam jatuh.
Ia hadir dengan perhatian kecil yang berarti besar.
Snack di sela jam sekolah.
TTS buatan tangannya.
Cerita tentangku yang ia titipkan pada teman sebangkunya.
Satu Cup Minuman segar dikala terik mentari, bahu yang ia tawarkan saat aku lelah,
tangan yang dengan ringan menolong membawa bebanku ketika aku kewalahan.
Setelah pementasan usai, ia mengajakku makan berdua.
Di tengah euforia keberhasilan kabaret, ia mencariku di atas panggung,
lalu menyusulku ke belakang panggung—
dan memelukku, seolah ingin menahan waktu agar tak cepat berlalu.
Suatu hari ia bertanya,
“Setelah ini… kita mau jadi apa?”
Padahal sebelumnya, kami hanyalah dua orang asing yang dipertemukan peran.
Di akhir semuanya, ia mengajakku bicara empat mata sepulang sekolah.
Ia ingin tahu perasaanku.
Lalu dengan suara jujur yang nyaris bergetar, ia berkata,
“Aku punya perasaan sama kamu.
Cuma sayangnya… kamu telat hadir ke dalam hidupku.”
Karena sebelum aku datang,
seseorang telah lebih dulu menempati ruang di hatinya.
Dan sejak itu, aku belajar satu hal:
bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimiliki—
ada yang hanya singgah,
meninggalkan jejak,
lalu menjadi kenangan yang paling pelan menyakitkan.