AdikaraRindu

Makhluk Kecil di Tepian Samudera:
          	
          	Arai, seorang pemuda yang jatuh cinta terlalu dalam dan terlalu cepat, memutuskan menikah muda dengan Sonya—perempuan yang ia yakini adalah rumahnya. Namun tak lama setelah pernikahan itu dimulai, hidupnya retak.
          	Ia kehilangan ibunda tercintanya—satu-satunya tempat ia pulang saat dunia terasa berat. Duka belum sempat sembuh, ketika pernikahannya sendiri mulai goyah. Sonya perlahan kehilangan dirinya dalam peran sebagai istri. Mimpi masa kecilnya menjadi model terasa semakin menjauh, seolah pernikahan adalah sangkar yang tak pernah ia sadari.
          	Sonya dihadapkan pada pilihan: bertahan bersama Arai atau mengejar mimpi yang selama ini ia pendam.
          	Dan pada akhirnya, Arai harus merelakan dua perempuan yang paling ia cintai—ibunya oleh takdir, dan Sonya oleh pilihan.
          	Sendirian, dengan luka yang tak lagi punya nama, Arai berdiri di tepi lautan. Hampir saja ia menyerah pada gelapnya pikiran. Namun di hadapan samudera yang luas dan tak berujung, ia tersadar: dirinya dan seluruh masalahnya hanyalah setitik kecil di tepi keabadian.

AdikaraRindu

Makhluk Kecil di Tepian Samudera:
          
          Arai, seorang pemuda yang jatuh cinta terlalu dalam dan terlalu cepat, memutuskan menikah muda dengan Sonya—perempuan yang ia yakini adalah rumahnya. Namun tak lama setelah pernikahan itu dimulai, hidupnya retak.
          Ia kehilangan ibunda tercintanya—satu-satunya tempat ia pulang saat dunia terasa berat. Duka belum sempat sembuh, ketika pernikahannya sendiri mulai goyah. Sonya perlahan kehilangan dirinya dalam peran sebagai istri. Mimpi masa kecilnya menjadi model terasa semakin menjauh, seolah pernikahan adalah sangkar yang tak pernah ia sadari.
          Sonya dihadapkan pada pilihan: bertahan bersama Arai atau mengejar mimpi yang selama ini ia pendam.
          Dan pada akhirnya, Arai harus merelakan dua perempuan yang paling ia cintai—ibunya oleh takdir, dan Sonya oleh pilihan.
          Sendirian, dengan luka yang tak lagi punya nama, Arai berdiri di tepi lautan. Hampir saja ia menyerah pada gelapnya pikiran. Namun di hadapan samudera yang luas dan tak berujung, ia tersadar: dirinya dan seluruh masalahnya hanyalah setitik kecil di tepi keabadian.

AdikaraRindu

Andai aku seorang penjelajah waktu,
          akan kutempuh berapa pun lamanya perjalanan,
          menembus ruang,
          memecah dimensi,
          hanya untuk kembali padanya.
          Bukan untuk mencegah pertemuan,
          bukan untuk mengubah arah hubungan,
          bukan pula menantang takdir.
          Aku hanya ingin mengatakan satu hal
          yang tak sempat tinggal lama di udara:
          bahwa aku sangat mencintainya.
          Meski kejujuran
          takkan menggeser
          apa yang telah disuratkan Tuhan
          pada garis hidup kita masing-masing,
          aku hanya ingin dia tahu.
          Bahwa di hidupku,
          dia pernah menjadi segalanya—
          nama yang kusebut dalam doa,
          rasa yang kusyukuri setiap hari,
          kehadiran yang membuat dunia
          terasa cukup.
          Aku tak meminta untuk dimiliki,
          tak berharap untuk kembali,
          aku hanya ingin kenangan ini
          tidak diam sendirian di dadaku.
          Aku ingin dia tahu:
          pernah ada seseorang
          yang mencintainya dengan utuh,
          tanpa syarat,
          tanpa penyesalan.

AdikaraRindu

Dulu, ada seorang perempuan bernama Naina.
          Ia ceria, penuh cahaya, dan menghadirkan rasa hangat sejak pandangan pertama.
          Aku terpukau bahkan sebelum sempat mengenalnya.
          Takdir mempertemukan kami di sebuah panggung kabaret sekolah.
          Aku terpilih sebagai pemeran utama, dan dia—ia menjadi istriku dalam cerita.
          Di sanalah, di balik latihan-latihan panjang dan sorot lampu panggung, aku mulai mengenalnya… dan diam-diam jatuh.
          Ia hadir dengan perhatian kecil yang berarti besar.
          Snack di sela jam sekolah.
          TTS buatan tangannya.
          Cerita tentangku yang ia titipkan pada teman sebangkunya.
          Satu Cup Minuman segar dikala terik mentari, bahu yang ia tawarkan saat aku lelah,
          tangan yang dengan ringan menolong membawa bebanku ketika aku kewalahan.
          Setelah pementasan usai, ia mengajakku makan berdua.
          Di tengah euforia keberhasilan kabaret, ia mencariku di atas panggung,
          lalu menyusulku ke belakang panggung—
          dan memelukku, seolah ingin menahan waktu agar tak cepat berlalu.
          Suatu hari ia bertanya,
          “Setelah ini… kita mau jadi apa?”
          Padahal sebelumnya, kami hanyalah dua orang asing yang dipertemukan peran.
          Di akhir semuanya, ia mengajakku bicara empat mata sepulang sekolah.
          Ia ingin tahu perasaanku.
          Lalu dengan suara jujur yang nyaris bergetar, ia berkata,
          “Aku punya perasaan sama kamu.
          Cuma sayangnya… kamu telat hadir ke dalam hidupku.”
          Karena sebelum aku datang,
          seseorang telah lebih dulu menempati ruang di hatinya.
          Dan sejak itu, aku belajar satu hal:
          bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimiliki—
          ada yang hanya singgah,
          meninggalkan jejak,
          lalu menjadi kenangan yang paling pelan menyakitkan.