AdikaraRindu

Saya ingin terlelap dalam mimpi yang panjang, menghindar dari segala kerumitan nyata yang melelahkan. Setiap ikatan membebani saya untuk menjadi manusia sempurna, dan setiap kesepian memberi saya kehampaan yang menakutkan.
          	Rasanya tidak ada cara yang benar untuk menjalani hidup, semua berjalan tanpa kepastian. Kesadaran bahwa hidup ini adalah sebuah tanda tanya besar seringkali menjadi kutukan bagi saya setiap harinya, seperti berdiri di tepian dimensi berbeda, dimana saya menyaksikan orang-orang tersesat,naif,dan hancur karena hidup itu sendiri.
          	Saya lelah kali ini, tidak tahu lagi bagaimana cara menjalani hidup di hari esok.

AdikaraRindu

Saya ingin terlelap dalam mimpi yang panjang, menghindar dari segala kerumitan nyata yang melelahkan. Setiap ikatan membebani saya untuk menjadi manusia sempurna, dan setiap kesepian memberi saya kehampaan yang menakutkan.
          Rasanya tidak ada cara yang benar untuk menjalani hidup, semua berjalan tanpa kepastian. Kesadaran bahwa hidup ini adalah sebuah tanda tanya besar seringkali menjadi kutukan bagi saya setiap harinya, seperti berdiri di tepian dimensi berbeda, dimana saya menyaksikan orang-orang tersesat,naif,dan hancur karena hidup itu sendiri.
          Saya lelah kali ini, tidak tahu lagi bagaimana cara menjalani hidup di hari esok.

AdikaraRindu

Aku menyusuri jalan paling sunyi dalam pengembaraan panjang ini.
          Hanya kicauan burung, desiran angin yang menghantam dedaunan, dan deru ombak yang mengiringi setiap langkahku.
          Takdir yang mengikat jiwa seolah memenjarakan raga dalam kesunyian.
          Di titik ini, aku menyadari—segala yang terjadi dalam hidup hanyalah bintik-bintik kecil di bawah galaksi yang luas.
          Segala persoalan, pengekangan, pengkhianatan, kehilangan, hingga kebahagiaan…
          mungkin hanyalah cara takdir menunda sang akhir.
          Ada yang dipangku oleh keramaian,
          ada yang dipeluk oleh kesunyian.
          Dan pada akhirnya, mungkin tidak ada yang benar-benar salah dalam hidup ini.
          Semuanya telah tertulis—dalam skenario yang rapi,
          atau justru… rapuh.

AdikaraRindu

Aku yang mengembara waktu
          Menyusuri lorong ketidakpastian hidup
          Menelaah dari jendela-jendela berdebu
          Merasa dan menyaksikan sorakan bahagia,dan rintihan duka makhluk-makhluk di sela ruang takdir
          Seolah kehidupan ini seperti jalanan berkabut
          Aku tidak tahu pasti apa yang ada di depanku. hingga apa yang telah kulewati perlahan mengabur
          Waktu membawaku,meninggalkanku,dan menemaniku,ia tak terhentikan.
          
          
          

AdikaraRindu

Makhluk Kecil di Tepian Samudera:
          
          Arai, seorang pemuda yang jatuh cinta terlalu dalam dan terlalu cepat, memutuskan menikah muda dengan Sonya—perempuan yang ia yakini adalah rumahnya. Namun tak lama setelah pernikahan itu dimulai, hidupnya retak.
          Ia kehilangan ibunda tercintanya—satu-satunya tempat ia pulang saat dunia terasa berat. Duka belum sempat sembuh, ketika pernikahannya sendiri mulai goyah. Sonya perlahan kehilangan dirinya dalam peran sebagai istri. Mimpi masa kecilnya menjadi model terasa semakin menjauh, seolah pernikahan adalah sangkar yang tak pernah ia sadari.
          Sonya dihadapkan pada pilihan: bertahan bersama Arai atau mengejar mimpi yang selama ini ia pendam.
          Dan pada akhirnya, Arai harus merelakan dua perempuan yang paling ia cintai—ibunya oleh takdir, dan Sonya oleh pilihan.
          Sendirian, dengan luka yang tak lagi punya nama, Arai berdiri di tepi lautan. Hampir saja ia menyerah pada gelapnya pikiran. Namun di hadapan samudera yang luas dan tak berujung, ia tersadar: dirinya dan seluruh masalahnya hanyalah setitik kecil di tepi keabadian.