Afifa_fmr

Teka Teki Rasa
          	.
          	.
          	Aku memilih diam karena khawatir perasaan kita tak sama. Tapi diperjalanan pulang, ternyata kami sama-sama mendengarkan melodi itu. Namun akhirnya aku hanya bisa tediam dan terbungkam oleh keadaan. "Namanya Randy, Selepas pulang kerja dia sengaja mampir ke toko musik itu untuk mendengar melodi yang sama denganmu. Dia selalu penasaran dengan perempuan yang menatap sendu kotak musim di ujung ruangan toko" Aku hanya terdiam di depan pusara nya. Aku juga sengaja berlama-lama di toko musik itu agar bisa bertemu lelaki yang belakangan ini kukagumi. Tak kusangka takdir megambilnya secepat ini. Perasaan kami ternyata sama, tapi takdir tak menginginkan kami bersama.

Afifa_fmr

Teka Teki Rasa
          .
          .
          Aku memilih diam karena khawatir perasaan kita tak sama. Tapi diperjalanan pulang, ternyata kami sama-sama mendengarkan melodi itu. Namun akhirnya aku hanya bisa tediam dan terbungkam oleh keadaan. "Namanya Randy, Selepas pulang kerja dia sengaja mampir ke toko musik itu untuk mendengar melodi yang sama denganmu. Dia selalu penasaran dengan perempuan yang menatap sendu kotak musim di ujung ruangan toko" Aku hanya terdiam di depan pusara nya. Aku juga sengaja berlama-lama di toko musik itu agar bisa bertemu lelaki yang belakangan ini kukagumi. Tak kusangka takdir megambilnya secepat ini. Perasaan kami ternyata sama, tapi takdir tak menginginkan kami bersama.

Afifa_fmr

Menunggu
          .
          .
          Sedari tadi aku tak henti-hentinya menengok ke arah utara, Kereta nya tak kunjung tiba. Ku tengok kembali keranjangku yang penuh dengan tangkai mawar putih. Ah, keretanya tiba juga. Mataku fokus mencari diantara kerumunan itu. Pandanganku terhenti pada pria yang memakai kemeja putih tulang. Aku menatapnya yang berjalan menghampiriku. "satu mawar putih" ucapnya sambil tersenyum manis. Aku tak menjawab, hanya memberinya setangkai mawar putih sambil tersenyum. Dia pun berlalu dari hadapanku. Aku kembali hanya bisa menatap punggung nya saja. Ada frekuensi yang mendalam meski pertemuannya tidak lama. Dan sialnya jantungku selalu berdebar tak karuan saat bertatapan dengannya. Dia pria yang tak ku kenal yang selalu membeli setangkai mawar putihku.

Afifa_fmr

Lelah
          .
          .
          Sungguh, kali ini aku benar-benar lelah dari gemerlapnya dunia yang hanya bisa kunikmati dari pinggiran. Aku lelah dengan manusia nya yang kian hari tak menentu. Aku sungguh ingin pulang. Tapi ada yang selalu membisikki telingaku. "Tak perlu cepat-cepat pulang, nanti jika memang sudah waktumu pulang, aku pasti akan menjemputmu. Selesaikan dulu semuanya. Jika matamu lelah dengan cahaya gemerlap itu, tutuplah matamu sebentar."

Afifa_fmr

Tersadar
          .
          .
          Kalau keadaan lagi uring-uringan kayak gini, jujur aku jadi merindukannya. Aku rindu dia yang selalu mendengarkan keluh kesahku, tanpa menyela omonganku yang panjang lebar, hanya diam mendengarkan. lalu aku bertanya "aku harus bagaimana?" barulah dia menasehatiku tanpa menyinggung perasaanku. Nasehatnya tak pernah menyakitkan, aku selalu bisa menerimanya dengan lapang. Dia selalu bisa melihat masalahku dari sudut pandang ku. Rasanya dia seperti paham apa yang aku rasakan. Dan dengan bodohnya aku melepaskan seseorang yang seperti itu, sambil dengan entengnya menghibur diri sendiri dengan pikiran bodohku "suatu saat pasti aku bisa menemukan orang yang lebih baik dari dia" Kami berpisah hanya gara-gara egoku yang masih seperti bayi. Aku berpisah dengan harapan aku bisa lebih bahagai, aku bisa bersama seseorang yang lebih baik dari dia. Tapi kini apa yang kudapat? kesepian, rindu yang setiap hari datang menyapa dan juga penyeselan yang menghantui malam-malamku. Kali ini Tuhan seolah sedang menghukumku karena melepas seseorang sebaik dia.

Afifa_fmr

Kelabu
          .
          .
          Siang ini aku berjalan sendirian menuju halte bis, lagu aviwkila doa untuk kamu masih terdengar sedari tadi, lagu terhenti, digantikan nada dering ponselku, ada telvon masuk dari Keenan. "mi, lagi apa?" ah keenan, suaranya terdengar lembut ditelingaku. Aku berhenti, lalu menjawab teleponnya sambil memandangi langit pagi yang cerah "Aku sedang memandang bulan." entah mengapa jawaban ngawur seperti itu yang keluar "mana ada bulan siang-siang gini mi, nggak usah ngaco deh." Aku tertawa, membayangkan ekpresi malas keenan karena mendengar jawabanku. "iya key, tidak ada bulan, aku tidak bisa melihatnya. aku hanya bisa menyebut namanya saja."
          
          Bulan dan kamu. aku sama-sama tidak bisa melihat kedua nya. Entah itu siang ataupun malam. Aku juga penasaran dengan siang. kata Keenan, aku bisa melihat apa saja dengan lebih jelas saat siang hari. Aku penasaran betapa terangnya siang hari. aku tidak penasaran dengan malam, kata keenan  malam itu gelap. Karena dunia ku seperti malam. Dimana-mana hanya gelap yang kulihat.
          
          "kita sedang dimana dik?" "dika jangan lama-lama ya" "dika aku udah selesai kok" "dika lanjut besok aja ya, aku capek" Namanya Dika, dan sampai sekarang aku belum tau rupanya seperti apa. Dika dan bulan. Keduanya tidak bisa kulihat. Tapi, kata keenan aku bisa melihat bulan saat malam hari. Tuhan, sampai kapan kau tidak mengijinkanku melihat bulan? Tuhan, apa sampai disini batasku mengenal dika, hanya suaranya yang dapat kukenali.