Kelabu
.
.
Siang ini aku berjalan sendirian menuju halte bis, lagu aviwkila doa untuk kamu masih terdengar sedari tadi, lagu terhenti, digantikan nada dering ponselku, ada telvon masuk dari Keenan. "mi, lagi apa?" ah keenan, suaranya terdengar lembut ditelingaku. Aku berhenti, lalu menjawab teleponnya sambil memandangi langit pagi yang cerah "Aku sedang memandang bulan." entah mengapa jawaban ngawur seperti itu yang keluar "mana ada bulan siang-siang gini mi, nggak usah ngaco deh." Aku tertawa, membayangkan ekpresi malas keenan karena mendengar jawabanku. "iya key, tidak ada bulan, aku tidak bisa melihatnya. aku hanya bisa menyebut namanya saja."
Bulan dan kamu. aku sama-sama tidak bisa melihat kedua nya. Entah itu siang ataupun malam. Aku juga penasaran dengan siang. kata Keenan, aku bisa melihat apa saja dengan lebih jelas saat siang hari. Aku penasaran betapa terangnya siang hari. aku tidak penasaran dengan malam, kata keenan malam itu gelap. Karena dunia ku seperti malam. Dimana-mana hanya gelap yang kulihat.
"kita sedang dimana dik?" "dika jangan lama-lama ya" "dika aku udah selesai kok" "dika lanjut besok aja ya, aku capek" Namanya Dika, dan sampai sekarang aku belum tau rupanya seperti apa. Dika dan bulan. Keduanya tidak bisa kulihat. Tapi, kata keenan aku bisa melihat bulan saat malam hari. Tuhan, sampai kapan kau tidak mengijinkanku melihat bulan? Tuhan, apa sampai disini batasku mengenal dika, hanya suaranya yang dapat kukenali.