AkMu19

Sedangkan cold choice buntu
          	
          	Zale tampak terkejut sejenak, namun dalam hitungan detik, tangannya sudah melingkar erat di pinggangku, menahanku agar tidak terjatuh. Ia tidak bertanya mengapa aku begitu ceroboh dengan komik-komik itu. Ia hanya diam, membelai rambutku dengan ritme yang sangat menenangkan.
          	
          	"Kau benar-benar hancur hari ini, ya?" bisiknya tepat di puncak kepalaku.
          	
          	Setelah beberapa saat, ia menuntunku perlahan menuju sofa. Zale melirik sekilas ke arah tumpukan komik yang tergeletak di lantai, lalu kembali menatapku dengan sorot mata yang penuh pengertian.
          	
          	"Weekend ini, kita tidak akan melakukan ini lagi," ucap Zale tiba-tiba, suaranya tegas namun sarat akan perhatian. "Kita akan sama-sama memindahkan seluruh sisa koleksi itu dari rumahmu ke apartemenku. Nanti aku siapkan truk angkut juga supaya kau tidak perlu repot lagi membawanya sedikit demi sedikit setiap hari."
          	
          	Aku mendongak, menatapnya dengan lelah namun juga geli karena rencananya yang begitu terencana. "Jadi... kau mengakui bahwa selama ini kau
          	
          	
          	

AkMu19

Sedangkan cold choice buntu
          
          Zale tampak terkejut sejenak, namun dalam hitungan detik, tangannya sudah melingkar erat di pinggangku, menahanku agar tidak terjatuh. Ia tidak bertanya mengapa aku begitu ceroboh dengan komik-komik itu. Ia hanya diam, membelai rambutku dengan ritme yang sangat menenangkan.
          
          "Kau benar-benar hancur hari ini, ya?" bisiknya tepat di puncak kepalaku.
          
          Setelah beberapa saat, ia menuntunku perlahan menuju sofa. Zale melirik sekilas ke arah tumpukan komik yang tergeletak di lantai, lalu kembali menatapku dengan sorot mata yang penuh pengertian.
          
          "Weekend ini, kita tidak akan melakukan ini lagi," ucap Zale tiba-tiba, suaranya tegas namun sarat akan perhatian. "Kita akan sama-sama memindahkan seluruh sisa koleksi itu dari rumahmu ke apartemenku. Nanti aku siapkan truk angkut juga supaya kau tidak perlu repot lagi membawanya sedikit demi sedikit setiap hari."
          
          Aku mendongak, menatapnya dengan lelah namun juga geli karena rencananya yang begitu terencana. "Jadi... kau mengakui bahwa selama ini kau
          
          
          

AkMu19

          
          "Duduk, Lely," perintahnya datar.
          Dia sudah memberi tau semua.. Tentang 'sangkar' yang kau rusak, tentang Koh Samui, dan tentang... keberanianmu membawa barang-barang yang tidak pernah Papa izinkan kau beli," Papa menatapku tajam, merujuk pada paket-paket bikini online shop yang sepertinya sudah diketahui beliau lewat laporan kartu kredit atau entah apa.
          Aku menelan ludah. "Pa, aku bisa jelaskan—"
          "Tidak perlu," potong Papa cepat. "Dia sudah menjelaskan lebih dari cukup. Dia benar-benar bertingkah seperti pria yang kehilangan akal sehatnya karena kau."
          Papa menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya. "Papa memang ingin menjodohkanmu, tapi Papa tidak menyangka kau akan mengambil jalan se-ekstrem itu untuk merusak martabat pria suci ini"
          Aku membelalak. "Pa! Dia tidak sesuci itu! Dia itu—"
          "Dia sudah mengakui semuanya, Lely. Termasuk tanggung jawabnya jika terjadi sesuatu pada perutmu beberapa bulan ke depan," Papa memijat pangkal hidungnya.
          
          
          
          Draft ide sudah tamat untuk lely..