SPOILER TILANG BERUJUNG NIKMAT
"Selamat malam, Mas. Lampu belakang motor mati, kecepatan juga melebihi batas. Bisa Tunjukkan SIM dan STNK-nya," kata Toni dengan suara dalam berwibawa, tapi ada sedikit kelembutan di ujung kalimat.
Andi buru-buru mengambil dompet dari saku belakang. SIM ada, tapi STNK tidak ada. "Waduh, Pak. STNK ketinggalan di rumah. Lampu belakang mungkin rusak karena kehujanan tadi. Maaf sekali, Pak."
Toni mengangguk sambil mencatat di buku tilang, matanya tetap memperhatikan Andi dengan tajam. "Pelanggaran ganda ini, Mas. Lampu mati dan ngebut. Total denda 750 ribu. Bayar sekarang atau ikut ke pos polisi?"
Andi memeriksa dompet lagi—hanya ada 100 ribu. Gaji baru cair besok. "Pak… saya benar-benar nggak bawa uang sebanyak itu. Besok pagi boleh bayar? Saya janji, Pak. Saya kerja di kafe, gaji masuk besok pagi."
Toni tersenyum tipis, matanya menelusuri tubuh Andi dari atas ke bawah. Andi berusia 28 tahun, badan ramping tapi berotot dari gym, celana jeans ketat membentuk bokong bulat dan tonjolan depan yang cukup jelas. "Besok? Aturannya harus lunas sekarang, Mas. Kalau tidak, motor bisa ditahan atau kamu yang ditahan. Tapi… ada cara lain kalau kamu mau."
Andi bingung sekaligus penasaran. "Cara lain seperti apa, Pak? Saya sungguh nggak punya uang sekarang."
Toni mendekat, suaranya jadi pelan hampir berbisik. "Kita pindah ke tempat lebih sepi
BACA SELENGKAPNYA DI KARYAKARSA @Bxb09