Kamu tahu apa yang terjadi dengan sisa hidup yang kau tinggalkan kini?
Menyusun kembali harapan-harapan yang runtuh, mengais-ngais sisa spark yang meredup pada lima tahun terakhir.
Untuk menopang kemampuan melanjutkan hidup ditengah hela-hela napas yang menyakiti sudut hati.
Goresannya seperti selalu baru saat terdiam mengingat semuanya. Aku tak ingin benar-benar megulanginya bersamamu, yang aku ingin hanya berhasil mengumpulkan cukup kekuatan untuk bertahan dalam setiap waktu yang masih diberiNya.
Aku tak bisa membencimu, namun biarlah rangkaian kalimat ini menembus tembokmu yang dingin dan berperasaan itu.
Kamu berhasil melukaiku, menghancurkan hati hingga remah dan mencampakannya begitu saja. Aku harus mulai dari mana? Meminta penjelasan? Membalas dengan doa-doa menuntut pembalasan pada sepertiga malam atau terus merutuki kenaifanku hingga mati perlahan?
Semoga siapapun tidak akan pernah merasakan ini. Rasanya sakit sekali hingga lebih baik memilih mati daripada hidup dalam bayang-bayang ribuan pertanyaan yang menghakimi diri sendiri.
Untukmu yang mencintai dengan cara menyakitkan, semoga hal-hal baik memelukmu agar tak ada lagi yang seperti aku.