Assalamualaikum, aku baru saja merilis cerita baru berjudul 'Prasasti di Balik Kanvas'.
Berlatar di sebuah kota pelabuhan yang sibuk pada tahun 1920-an, cerita ini mengikuti kasih yang terhalang antara Suryo, seorang pelukis idealis yang hidup dari guratan kuasnya, dan Ratna Juwita, putri seorang bangsawan yang telah dijodohkan demi kepentingan perniagaan keluarga.
"Duhai, Ratna. Manalah mungkin hamba yang hanya bermodalkan jemari berlumur cat ini, berani menengadah menatap bulan yang bertahta di langit tinggi? Engkau adalah cahaya yang menyilaukan mata, sedang aku hanyalah bayang-bayang yang merayap di kaki tembok tua.
Namun, biarlah kiranya angin malam ini menyampaikan bisik sanubari yang kian sesak. Bukan emas, bukan pula permata yang kuharap darimu, melainkan seulas senyum yang tulus, seumpama embun pagi yang membasuh dahaga sukma yang merana. Jikalau takdir memanglah sebilah pedang yang memisahkan kita, biarlah ia membelah raga, asalkan ruh kita tetap bertaut dalam doa-doa yang melangit."