Arisya-Ramadhan

BAB 23 Spoiler:
          	
          	“Sial!”  Vee menyeka rambutnya dengan kasar. Pikirannya sangat kacau, kepalanya sangat sakit dan panas. ”Bangsat!” Bangku tribun yang sudah rusak ia banting dengan keras ke lantai. 
          	
          	Napas Vee memburu. Dadanya naik turun dengan cepat. Berkali-kali ia memukuli lemari besi hingga buku-buku jarinya robek dan mengeluarkan darah dari kulitnya. Vee melihat darah itu. Bibirnya tertarik kecil. Kenapa rasanya tidak sakit? Kenapa hatinya masih lebih sakit daripada luka itu?  
          	
          	Vee menjatuhkan tubuhnya bersandar pada lemari besi. Kepalanya mendongak, matanya terpejam lelah, sebelah tangannya terangkat menutupi wajah. Sepertinya ia sudah tahu apa yang membuatnya begitu marah. Sekali lagi… ia gagal melindungi Irina.
          	
          	
          	https://www.wattpad.com/1638877099?utm_source=ios&utm_medium=link&utm_content=share_writing&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Arisya-Ramadhan

Arisya-Ramadhan

BAB 23 Spoiler:
          
          “Sial!”  Vee menyeka rambutnya dengan kasar. Pikirannya sangat kacau, kepalanya sangat sakit dan panas. ”Bangsat!” Bangku tribun yang sudah rusak ia banting dengan keras ke lantai. 
          
          Napas Vee memburu. Dadanya naik turun dengan cepat. Berkali-kali ia memukuli lemari besi hingga buku-buku jarinya robek dan mengeluarkan darah dari kulitnya. Vee melihat darah itu. Bibirnya tertarik kecil. Kenapa rasanya tidak sakit? Kenapa hatinya masih lebih sakit daripada luka itu?  
          
          Vee menjatuhkan tubuhnya bersandar pada lemari besi. Kepalanya mendongak, matanya terpejam lelah, sebelah tangannya terangkat menutupi wajah. Sepertinya ia sudah tahu apa yang membuatnya begitu marah. Sekali lagi… ia gagal melindungi Irina.
          
          
          https://www.wattpad.com/1638877099?utm_source=ios&utm_medium=link&utm_content=share_writing&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Arisya-Ramadhan

Arisya-Ramadhan

Bab 19 up
          Spoiler:
          
          “Ini apa?”
          
          Mata Irina melebar. Itu adalah novel romansa yang tidak seharusnya ada di dalam tasnya. Sepertinya saat memasukkan buku dari atas meja belajar, novel itu ikut masuk.
          
          “Maaf, Kak. Itu…”
          
          “Nggak sengaja kebawa?” Gia membuka halaman-halaman novel itu dengan cepat dan malas. “Basi.”
          
          “Kak, santai aja dong,” sela Yuri. “Dia udah minta maaf. Kalau mau sita, sita aja.”
          
          ⛈️⛈️⛈️
          
          https://www.wattpad.com/1636974133?utm_source=ios&utm_medium=link&utm_content=share_writing&wp_page=create_writer&wp_uname=Arisya-Ramadhan

Arisya-Ramadhan

BAB 18 up
          
          Spoiler bab:
          
          Irina segera maju ke dapur, namun langkahnya terhenti karena pergelangannya ditahan.
          
          “Lu mau kemana?” 
          
          “Bantuin, Tante, Kak.”
          
          “Bantuin gimana? lo lagi sakit gitu.”
          
          Irina mendengkus. “Kak, yang di perban kaki, tanganku masih baik-baik aja loh.”
          
          Vee menjitak pelan kepala Irina. “Lu keras kepala banget sih di kasih tahu. Udah sini.” Vee menarik Irina untuk duduk di sofa depan TV.
          
          https://www.wattpad.com/1636402049?utm_source=ios&utm_medium=link&utm_content=share_writing&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Arisya-Ramadhan

Arisya-Ramadhan

~Before You Become My Wound~
          
          Hujan selalu membuat Irina takut.
          
          Setelah kehilangan keluarganya dalam satu malam yang menghancurkan, Irina hidup bersama trauma dan rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar hilang. Sampai Vee menjadi satu-satunya tempat aman yang ia punya.
          
          Namun ketika hidup perlahan memaksa mereka saling menjauh, Irina bertemu Jay-lelaki yang tidak mencoba melindunginya dari dunia, melainkan mengajarinya cara bertahan menghadapi dunia itu sendiri.
          
          Untuk pertama kalinya, Irina mulai percaya bahwa dirinya mungkin masih pantas dicintai.
          
          Tapi bagaimana jika semua hal yang paling menenangkan dalam hidupnya... justru adalah hal-hal yang perlahan akan menghancurkannya?