Tak butuh waktu lama baginya untuk menangkap punggung yang familiar. Sosok dengan tinggi 10 sentimeter lebih tinggi dari dirinya, menurut Levram; siluetnya selalu akrab dalam ingatan.
Ternyata, sosok itu sudah lebih dulu menyadari kehadirannya.
"Levram!"
Sosok itu mendekat, lantas menepuk bahu Levram dengan sangat keras—sebuah kebiasaan yang entah sejak kapan sudah menjadi rutinitas.
Mereka terdiam, manik zamrud dan hitam pekat bertemu, namun tak ada yang mencoba membuka percakapan. Seolah diam adalah cara mereka menyambut hari.
.
.
aku kangen Millev, mereka akan selalu abadi di karya kuu:3