Aruniii_44

Tak butuh waktu lama baginya untuk menangkap punggung yang familiar. Sosok dengan tinggi 10 sentimeter lebih tinggi dari dirinya, menurut Levram; siluetnya selalu akrab dalam ingatan. 
          	
          	Ternyata, sosok itu sudah lebih dulu menyadari kehadirannya. 
          	
          	"Levram!" 
          	
          	Sosok itu mendekat, lantas menepuk bahu Levram dengan sangat keras—sebuah kebiasaan yang entah sejak kapan sudah menjadi rutinitas. 
          	
          	Mereka terdiam, manik zamrud dan hitam pekat bertemu, namun tak ada yang mencoba membuka percakapan. Seolah diam adalah cara mereka menyambut hari. 
          	
          	. 
          	. 
          	aku kangen Millev, mereka akan selalu abadi di karya kuu:3

Aruniii_44

Tak butuh waktu lama baginya untuk menangkap punggung yang familiar. Sosok dengan tinggi 10 sentimeter lebih tinggi dari dirinya, menurut Levram; siluetnya selalu akrab dalam ingatan. 
          
          Ternyata, sosok itu sudah lebih dulu menyadari kehadirannya. 
          
          "Levram!" 
          
          Sosok itu mendekat, lantas menepuk bahu Levram dengan sangat keras—sebuah kebiasaan yang entah sejak kapan sudah menjadi rutinitas. 
          
          Mereka terdiam, manik zamrud dan hitam pekat bertemu, namun tak ada yang mencoba membuka percakapan. Seolah diam adalah cara mereka menyambut hari. 
          
          . 
          . 
          aku kangen Millev, mereka akan selalu abadi di karya kuu:3

Aruniii_44

"Gue udah nyariin di setiap sudut Sanctuary." Miller menahan nafas; "Dan dia ga ada di sana." Miller kini menatap lirih ke bawah, pada tanah yang tidak bersalah. 
          
          "Lu udah nanyain si Jendral Jendral itu? Tu anak juga biasanya nempel banget sama Jendral Jose, udah kayak anak bapak." Miller terdiam, mulutnya terbuka tanpa ia sadari. Ucapannya tertahan di ujung mulut. 
          
          "Lho, iya ya."
          
          "Si anjir! ga kepikiran dia nya." 
          
            .. 

Aruniii_44

"Meski sama-sama mengenakan seragam tentara, atribut lengkap yang melekat padanya menegaskan posisi tingginya di antara kerumunan itu. 
          
          Jemarinya mencengkram erat seragam tentara yang dikenakan. Tepat di sampingnya, kaca jendela besar terpasang kokoh. Saat ia menoleh, ia tertegun mendapati sosok yang sama di kaca itu, versi lebih tua dan kelelahan." lanjutin ga ya.. 

Aruniii_44

aku kepikiran, idenya datang setelah nonton ending arc satu ini.. sesuatu dari kalimat.. "In another life"

Aruniii_44

@ arigamia  sama.. aku mau happy ending.. 
Reply

arigamia

@ Aruniii_44   lanjutin plsss masih gak terima ending nya kayak gitu ༎ຶ⁠‿⁠༎ຶ
Reply