“Kalau sama saya, mau kan, Mas?” suaraku dibuat manja, hangat, profesional.
Semua mata beralih. Tatapan Pak Menteri menelusuri dari sanggul sampai tumit, menimbang seperti menilai kualitas barang impor.
“Kamu?”
“Iya, Mas,” jawab lembut. “Saya jelas lebih jago daripada dia.”
Kak Vita menahan napas. “Jess…”
Gelengan kecil cukup. Tidak apa-apa. Tidak pernah apa-apa. Aku berharap menemani tamu Prancis, tapi demi anak itu, aku rela.
“Hm,” dengusnya. “Yang tadi masih bening. Kamu kelihatan…” Pak Menteri yang malam ini lupa anak istri melirikku seperti barang di pasar lelang. “Nggak fresh.”
Baiklah, dia menyamakanku dengan ikan segar di pasar swalayan. Tidak fresh katanya, seakan aku ini komoditas konsumsi hampir kadaluwarsa.
Kutepis rasa tersinggung, senyum kulebarkan. “Tapi saya tahu caranya bikin bapak keluar berkali-kali,” suaraku mendayu merayu.
Tawa pendek keluar dari mulut pria itu. “Berani juga kamu.”
Ujung jariku menyentuh dadanya sebentar, cukup lama untuk menyampaikan pesan bahwa aku tidak akan mengecewakan. “Pengalaman itu mahal, Mas. Tapi hasilnya nggak bikin nyesel.”
Pak Menteri tiba-tiba menjambak rambutku.
“Pak!” Kak Vita memekik. Aku melihat Vadiem sudah berdiri. Jangan sok jagoan. Aku butuh uang.
“Ah, Mas suka main kasar ya?” Aku tersenyum menahan sakit yang menjalari kulit kepala.
“Kuat kamu?”
Aku mengangguk pasti, “Kuat banget, Mas.”
“Nggak bakal gemetaran kayak dia?” tanya Pak Menteri.
“Nggak dong… Dijamin Mas nggak akan kecewa.”
“Ya sudah. Dia saja,” katanya pada Kak Vita.
“Baik, Pak.”
Dan aku pun dibawa melintasi pintu gelap kayu yati.
Vadiem – Jesselyn nemenin pagi kamu yang mendung.
Res Ipsa Bab 6 sudah up!
https://www.wattpad.com/1608152837-res-ipsa-bab-6-internalis-oppressio