3 - Suami Idaman Nona Pengacara
Para wanita sepuh itu tanpa malu-malu mengamati Wita dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum saling mendahului untuk berbicara.
“Enggak nyangka kamu tiba-tiba nikah enggak ngundang-ngundang. Buat dong syukuran atau apa,” ucap seorang ibu yang memakai gincu merah terang, bersaing warna dengan daster lebar yang menutupi tubuh bongsornya. “Kasihan ibu kamu enggak ngepestain padahal kamu anak laki-laki sendiri.”
“Katanya udah bawa anak, ya? Mbak Wita jadi janda?” tanya ibu lain yang tidak kalah keriput dengan ibu yang berbicara.
“Kaya enggak ada gadis perawan di sini aja sih, Sup.” Ibu berdaster biru ikut menimbrung sebelum disenggol si ibu yang pertama kali berbicara dengan Yusuf.
Ibu itu kemudian tersenyum kepada Wita yang sedari tadi hanya diam dan berkata ramah. “Maaf, ya, Neng. Mulut orang desa memang gini, asal ngomong.”
Yusuf tersenyum canggung, sedangkan Wita memaksakan senyum tipis. Namun, wanita itu tidak berminat untuk berbasa-basi. Kakinya lelah dan dia sudah tidak bisa mengingat lagi siapa saja yang sudah mereka ajak bicara.
https://www.wattpad.com/story/413027842