Halo, Mas Deon. Rasanya aku rindu lagi menuangkan kisahmu ke dalam aksara. Setiap kali aku menulis tentangmu, dunia di sekitarku seolah mendadak hening, beban hidupku menguap begitu saja. Aku masih ingat bagaimana dulu aku menciptakanmu dengan watak yang begitu kaku dan dingin, lalu perlahan melihatmu belajar mencintai dan berubah demi dia. Terima kasih, Mas Deon, sudah menjadi ruang aman bagiku. Meski ceritamu telah usai, kamu akan selalu abadi dan hidup di kepalaku. Bahagia selalu di sana, ya.