Aku mencintaimu
dengan cara yang tak selalu sehat
menyebut namamu dalam diam,
menjadikan bayangmu rumah
dan kehilanganmu, doa yang tak pernah selesai.
Aku menanam kamu
terlalu dalam di dadaku,
hingga setiap detak
tak lagi bertanya “siapa aku”,
melainkan “apakah kau masih di sana?”
Obsesi itu halus, katanya.
Ia datang menyerupai cinta,
membungkus rindu dengan janji,
lalu pelan-pelan
menggerogoti diriku sendiri.
Aku ingin memilikimu
bahkan ketika kau tak lagi ingin dimiliki.
Aku ingin bertahan
meski semesta sudah berkali-kali
memintaku belajar pergi.
Maka pelepasan ini
bukan karena cintaku mati,
melainkan karena aku ingin hidup.
Aku mengikhlaskanmu
seperti laut mengikhlaskan ombak
tetap mencintai,
tanpa harus menahan.
Dan jika suatu hari
kau merindukan namaku,
biarlah ia datang
bukan sebagai luka,
melainkan kenangan
yang akhirnya bisa bernapas.