Kita adalah dua musim
yang lahir dari langit yang sama,
saling mengirim kabar lewat angin,
namun tak pernah tinggal dalam satu cuaca.
Saat kau menjadi hujan di ufuk timur,
aku menjelma kemarau di barat yang jauh.
Kita sama-sama menunggu bumi yang sama,
tetapi waktu memilih jalan yang berbeda.
Kau adalah rumah yang tak pernah kumiliki,
namun selalu kutunjuk ketika seseorang bertanya
ke mana hatiku ingin pulang.
Dan aku adalah pengembara
yang menghafal setiap jendelamu dari kejauhan.
Maka biarlah kita seperti senja dan laut:
bertemu setiap hari di mata manusia,
padahal sesungguhnya
tak pernah benar-benar saling menyentuh.
Aku mencintaimu
dengan cara yang paling sunyi,
seperti bintang mencintai malam,
hadir untuknya,
namun tetap tinggal berjuta-juta langkah.