Hai bebsku
Di beberapa bab ke depan, emak kece badai sekecamatan ini mau ngajak kalian berjalan sedikit lebih dalam.
Bukan sekadar cerita rumah tangga yang tampak biasa-biasa saja,
tapi tentang hal-hal yang sering disembunyikan di balik senyum,
tentang perempuan yang tetap berdiri meski hatinya berkali-kali runtuh tanpa suara.
Mungkin nanti ada bagian yang bikin kalian tidak nyaman.
Ada yang terasa menohok.
Atau bahkan… terasa seperti sedang membaca kisah sendiri.
Dan kalau itu terjadi,
peluk diri kalian pelan-pelan, ya.
Karena menjadi perempuan sering kali berarti belajar kuat
di tempat yang tidak pernah benar-benar memberi kita ruang untuk lemah.
Di sini, aku tidak menjanjikan akhir yang selalu indah.
Tapi aku ingin menghadirkan kejujuran—
tentang luka, tentang pilihan, tentang bertahan,
dan tentang keberanian yang kadang lahir justru saat kita merasa paling rapuh.
Untuk kamu yang selama ini diam,
yang mengalah,
yang menahan banyak hal sendirian—
aku melihatmu.
Dan kamu tidak sendirian.
Semoga di antara kata-kata ini,
kamu menemukan sedikit ruang untuk bernapas,
sedikit keberanian untuk bertahan,
atau bahkan… kekuatan untuk memilih dirimu sendiri.
Karena pada akhirnya, bebsku—
perempuan bukan diciptakan untuk sekadar kuat.
Tapi untuk tetap hidup, tetap utuh,
dan tetap berharga…
meski dunia kadang tidak berpihak.
Terima kasih sudah berjalan sejauh ini bareng aku