Helloindahwati

Aku masih ingat ketika Ayah dan Ibu mengajakku ke taman bermain, kenangan itu membekas dengan jelas dalam ingatanku. Aku terpukau dengan lampu warna-warni, deretan pedagang mainan, orang berpakaian badut melambai ke arahku, dan musik yang ceria menggema di setiap sudutnya. Aku merengek pada Ayah untuk minta dibelikan kembang kapas. Aku juga masih bisa mengingat dengan jelas wajah Ibu yang tersenyum ketika menungguku di bawah lampu warna-warni di depan komedi putar sembari melambai padaku. Senyumnya tampak bersinar di bawah cahaya lampu.
          	
          	Aku mendongak, menatap wajahnya dari samping. Untuk pertama kalinya, aku melihat sorot mata yang sangat kesepian. Di balik mata itu, aku melihat luka dan kerinduan pada saat yang bersamaan.
          	
          	“Saat usiaku delapan tahun, Ayah sering mengajakku ke sini. Bukan piknik keluarga pada umumnya, lebih tepatnya aku yang merengek pada Ayah untuk mengajakku piknik.” Kak Devan berjalan lebih ke tepi, membiarkan ombak menerpa kaki telanjangnya. 
          	
          	“Saat itu aku tidak mengerti kenapa Ayah selalu membawaku ke sini. Saat itu aku juga tidak mengerti kenapa Ayah hanya memandang laut dengan tatapan kosong untuk beberapa lama.” Dia membalikkan badannya, lalu menatapku dengan senyum getir. 
          	
          	“Kali ini, aku tahu alasannya.” Dia berjalan ke dekatku, lalu mendudukkan tubuhnya di atas pasir. Sorot matanya mulai menggangguku. 
          	I just published " Bab 16 " of my story " YOUTH : Rewrite ". https://www.wattpad.com/1135354640?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati

Helloindahwati

Aku masih ingat ketika Ayah dan Ibu mengajakku ke taman bermain, kenangan itu membekas dengan jelas dalam ingatanku. Aku terpukau dengan lampu warna-warni, deretan pedagang mainan, orang berpakaian badut melambai ke arahku, dan musik yang ceria menggema di setiap sudutnya. Aku merengek pada Ayah untuk minta dibelikan kembang kapas. Aku juga masih bisa mengingat dengan jelas wajah Ibu yang tersenyum ketika menungguku di bawah lampu warna-warni di depan komedi putar sembari melambai padaku. Senyumnya tampak bersinar di bawah cahaya lampu.
          
          Aku mendongak, menatap wajahnya dari samping. Untuk pertama kalinya, aku melihat sorot mata yang sangat kesepian. Di balik mata itu, aku melihat luka dan kerinduan pada saat yang bersamaan.
          
          “Saat usiaku delapan tahun, Ayah sering mengajakku ke sini. Bukan piknik keluarga pada umumnya, lebih tepatnya aku yang merengek pada Ayah untuk mengajakku piknik.” Kak Devan berjalan lebih ke tepi, membiarkan ombak menerpa kaki telanjangnya. 
          
          “Saat itu aku tidak mengerti kenapa Ayah selalu membawaku ke sini. Saat itu aku juga tidak mengerti kenapa Ayah hanya memandang laut dengan tatapan kosong untuk beberapa lama.” Dia membalikkan badannya, lalu menatapku dengan senyum getir. 
          
          “Kali ini, aku tahu alasannya.” Dia berjalan ke dekatku, lalu mendudukkan tubuhnya di atas pasir. Sorot matanya mulai menggangguku. 
          I just published " Bab 16 " of my story " YOUTH : Rewrite ". https://www.wattpad.com/1135354640?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati

Helloindahwati

Dalam rasa sakit yang perlahan mulai menggerus kesadarannya, Feng Ying melihat kilasan ingatan. Masa kecilnya selama di panti asuhan. Saat pertama kali dia masuk sekolah dasar. Ketika Feng Ying lulus kuliah tanpa seorangpun untuk merayakannya. Atau ketika pertama kalinya dia debut sebagai aktris. Memenangkan penghargaan pertama. Hingga cacian dan makian orang-orang yang kini membuatnya melompat ke dalam jurang kematian.
          
          Suara keributan di luar mobil mulai nyaris tak bisa lagi tertangkap oleh pendengarannya. Telinganya berdenging. Kepalanya dihantam rasa sakit yang luar biasa. Sekujur tubuhnya terasa kebas. Perlahan kelopak matanya terasa begitu berat untuk tetap terbuka. Ia merasa tubuhnya menjadi seringan kapas, pandangannya kian menggelap seiring suara napasnya yang nyaris tak terdengar. Kesadarannya perlahan mulai tenggelam. Sebelum tubuhnya di tarik jauh ke dasar kegelapan, Feng Ying melihat seseorang mencoba membuka paksa pintu mobilnya.
          
          Feng Ying menyadari, inilah saatnya dia tidak perlu lagi melihat dunia yang kejam. Dia tidak perlu lagi bersembunyi dari tatapan orang-orang. Dia tidak perlu lagi menangis semalaman hanya karena memendam kekecewaan. Dia tidak perlu lagi merendahkan diri hanya demi disukai orang lain. Feng Ying sudah terlampau lelah untuk melakukannya. Kini, dia ingin berhenti. Biarkan kematian membawa jiwanya yang telah rusak, tak peduli jika setelah ini harus pergi ke neraka sekalipun.
          Saya baru saja menerbitkan " Bab 02 - Beginning " cerita saya" The Bloody Moon In The Dawn Sky ". https://www.wattpad.com/1343757680?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati

Helloindahwati

Butiran gemuk air hujan menabrak jendela bus, menciptakan garis-garis tak beraturan. Setiap kali menatap hujan, pikiranku mendadak penuh oleh banyak hal. “Apa kakak tahu sebutan aroma hujan yang turun setelah musim panas?” Aku berpaling, menatapnya.
          
          “Aroma hujan juga punya nama?” tanyanya dengan kening sedikit tertekuk.
          
          Aku mengangguk. “Namanya petrichor ...” Aku kembali menatap ke luar jendela. Titik-titik embun yang terbentuk di kaca jendela, bagai jelaga dalam hatiku. “Setiap hal di dunia ini juga memiliki nama. Apa yang kita sentuh, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita lihat, mereka memiliki nama.” Setiap emosi yang kita rasakan pun memiliki nama dan arti.
          
          Aku tak mendengar suara Kak Devan, tapi aku bisa melihat bagaimana air mukanya melalui pantulan di kaca jendela bus. Raut wajahnya tampak memikirkan sesuatu yang dalam.
          
          “Petrichor ...” Dia bergumam, lalu sebuah senyum simpul terukir di bibirnya. “Nama yang cantik. Aku baru tahu jika aroma hujan juga punya nama.”
          
          Aku meliriknya lewat ekor mataku, dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, kepalanya menoleh ke arah jendela, memandangi hujan yang turun. Terkadang, aku merasa asing akan sosoknya yang seakan berbeda dengan Kak Devan yang selama ini kukenal. Dia seperti dua sisi mata uang yang berbeda. Di lain waktu, aku melihat sosoknya tampak menyebalkan dengan wajah yang dipenuhi kerlingan jahil, namun di lain waktu, aku menemukan sosoknya yang tampak lebih rapuh dibandingkan diriku.
          Saya baru saja menerbitkan " Bab 15 " cerita saya" YOUTH : Rewrite ". https://www.wattpad.com/1079860279?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati

Helloindahwati

"Kau tahu sudah berapa kali aku berlutut untuk meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah aku lakukan? Apa kau tahu sudah berapa kali aku merendahkan diriku sendiri demi bisa membuat mereka menyukaiku?" Air mata perlahan lolos dari sepasang matanya yang basah. Setelah beberapa hari ini menghadapi berbagai situasi yang berat, Liangyi pertama kalinya melihat Feng Ying menangis.
          
          "Baiklah. Biarkan saja. Bukan salahmu. Jika kau tidak bisa mendapatkan peran di film itu memangnya kenapa? Yang terpenting kau tidak boleh merendahkan dirimu demi orang-orang seperti mereka!" Liangyi mengangguk, memberikan kalimat penghiburan untuk Feng Ying, sekaligus untuk dirinya sendiri. Dia tahu, sahabatnya itu sudah melalui berbagai hal berat selama ini.
          
          "Benar. Hidupmu tidak akan berakhir hanya karena hal ini, kan? Kita bisa mulai lagi lewat jalan lain." Liangyi menarik napas dalam-dalam, lalu mulai menghidupkan mesin mobilnya.
          
          Mobil van hitam itu mulai meninggalkan halaman tempat syuting, membelah keramaian jalanan kota.
          Feng Ying menghapus air matanya. Pandangannya mengarah ke luar jendela, menatap kosong jalanan kota. Sedangkan Liangyi sesekali melirik Feng Ying lewat kaca spion, memastikan bahwa Feng Ying baik-baik saja. Namun, siapa yang akan tetap baik-baik saja dalam situasi seperti ini? Suatu hal yang tidak mudah bagi Feng Ying untuk bertahan setelah semua badai yang dia lalui.
          Saya baru saja menerbitkan " Bab 01 - The Artist " cerita saya" The Bloody Moon In The Dawn Sky ". https://www.wattpad.com/1281076369?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati

Helloindahwati

Aku lebih penasaran dengan bagaimana dia merepresentasikan sebuah kata ‘mimpi’. Bagiku, mimpi itu seperti naga. Aku sering mendengar orang menyebutnya, bahkan beberapa film menggambarkan tentang bagaimana wujud naga, tapi aku tidak tahu pasti apakah naga itu sungguh ada atau hanya sekadar dongeng dan rekayasa dari imajinasi belaka.
          
          “Sesuatu yang ingin kamu capai?” Dia tampak tidak yakin dengan kalimatnya sendiri. Kak Devan lalu memasang wajah berpikir, lantas mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, mengetik sesuatu di sana. Matanya bergulir dengan serius seperti sedang membaca sesuatu.
          
          “Arti pertama di dalam kamus, mimpi adalah sebuah peristiwa imajiner yang kamu alami saat kamu tidur. Definisi kedua, suatu cita-cita yang ingin kamu capai. Lalu yang ketiga, suatu harapan atau keinginan yang tidak mungkin bisa kamu ubah menjadi kenyataan.” Dia berpaling menatapku lalu memasukkan kembali ponselnya.
          
          Aku terkekeh pelan. “Bukankah definisi yang ketiga aneh? Bagaimana mungkin, cita-cita yang ingin dicapai dan harapan yang tidak akan bisa diubah jadi kenyataan disebut mimpi?” Aku menatapnya dengan kening berkerut samar. “Sementara orang-orang meminta kita untuk bermimpi? Lantas, mimpi yang manakah dari tiga definisi itu yang mereka maksud?”
          Saya baru saja menerbitkan " Bab 14 " cerita saya" YOUTH : Rewrite ". https://www.wattpad.com/1079301281?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati

fayree_

Hey there! I'm Fayre! Hopefuly you get a nice day! Anyway, izin promosi mana tahu tertarik mampir! Sekiranya terusik boleh dihapus dari wall. Berikut link dan desc nya :
          
          https://www.wattpad.com/story/407081249?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=fayree_
          
          Cael Verhouven bukan putra mahkota, tidak tertarik akan tahta dan pendidikan, tidak lahir atas kesengajaan dari ibunya yang hanya pelacur berbungkus pakaian penari kerajaan.  Dia hanya kebetulan lahir dengan wajah yang sama persis dengan baginda raja diantara anak selir yang lainnya. 
          
          Hidupnya yang dipenuhi party, alkohol dan wanita berubah 360 derajat tepat di hari Putra Mahkota kabur dengan tunangan adiknya, ya, dengan calon istrinya Cael. Hari-hari sebelum pria yang tak pernah melirik ke singgasana akan melumuri karpet merah ruang tahta dengan cipratan darah diiringi wanita yang mengendalikannya bak boneka pertunjukan. 
          
          Dia terjebak? atau memang tak ingin kabur?
          

Helloindahwati

Mereka bilang, bahwa hidupmu tidak akan selamanya terjebak dalam duka, kebahagiaan, atau pun penyesalan. Semua itu datang sesekali atau dua kali, mungkin juga beberapa kali. Mungkin, hidup memang seperti itu. Memberikan kita kegagalan agar kita belajar sesuatu.
          
          Pada titik yang tak kumengerti, malam ini, ketika semua orang berdiri dan bergerak mengelilingi api unggun sembari bersenandung, aku merasakan getaran aneh itu lagi. Sebuah keinginan untuk mempertahankan momen ini selamanya. Perasaan menyenangkan sekaligus nyaman. Sesuatu yang lama tak pernah kurasakan. Emosi itu bergumul malam ini. Terlebih lagi, ketika api padam menjelang tengah malam. Ketika aku tak bisa memejamkan mata. Sosoknya datang menghampiriku di bawah langit malam.
          Saya baru saja menerbitkan " Bab 13 " cerita saya" YOUTH : Rewrite ". https://www.wattpad.com/1025499199?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati

Helloindahwati

          "Sial!"
          
          Ini sudah umpatan yang keseratus kalinya terlontar dari mulut Lyra, kini kedua tangan dan kakinya dibelenggu oleh rantai besi. Berkali-kali pula Lyra mencoba melepaskan diri dan berusaha menghancurkan rantai dikedua tangan serta kakinya, pada akhirnya semua berakhir dengan hembusan napas panjangnya. Dia lelah. Sudah cukup. Ia ingin menyerah dan menangis sekarang.
          
          "Bagaimana kabarmu, sayang?"
          
          Lyra mendongak, matanya yang berkilat menatap tajam sosok wanita yang dengan anggun berjalan menghampirinya. Seulas senyum mengejek tersungging di bibirnya yang berwarna merah darah.
          
          Lyra berusaha memasang wajah tak acuh.
          "Baik. Seperti yang kau lihat. Aku merasa uhm ..," gadis itu berhenti sejenak, matanya beralih pada rantai yang mengikatnya dengan senyum ringan, "ini seperti aku merasa bebas karena tak perlu repot-repot menyelamatkan Fallerya," katanya sembari menunjukkan rantai yang mengikat kedua tangannya.
          
          Kalimat itu mengundang kerutan tipis di dahi Arora.
          "Apa maksudmu? Apa kau sedang bercanda denganku?!" tanyanya merasa tersinggung.
          
          Dia tak habis pikir dengan gadis dihadapannya ini, walaupun kedua tangan dan kakinya ia rantai. Lyra masih bisa menampakkan senyum ringan dan wajah tenangnya. Ia merasa seolah gadis itu sedang mengejeknya.
          Saya baru saja menerbitkan " Bab 20 - The Catching 2 " cerita saya" FALLERYA : Legend of Fairies ". https://www.wattpad.com/558007943?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati

Helloindahwati

Aku menyesali semuanya, setiap pilihan, setiap keputusan, setiap luka dan rasa sakit. Aku mencoba untuk mencari jalan lain, terus mengubah arah, berharap di antara semua jalan yang kulalui, aku menemukan satu jawaban yang kuinginkan. Sampai pada bagian tertentu, aku menyadari, setiap keputusan dan pilihan selalu memiliki konsekuensi. Aku hanya berusaha mengambil konsekuensi yang mampu kuhadapi. Biarkan ini kelak mengajarkan diriku bahwa setiap keputusan dan pilihan, tetap melahirkan sebuah tanggung jawab yang tak akan bisa kita lepaskan begitu saja. Entah lebih baik, atau bahkan lebih buruk
          Saya baru saja menerbitkan " Bab 12 " cerita saya" YOUTH : Rewrite ". https://www.wattpad.com/1025497564?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati

Helloindahwati

Hidup kadang bisa sangat menyebalkan dan melelahkan.
          
          Di suatu waktu, kamu mungkin merasa begitu lelah dan tak ingin melakukan apa pun. Tidak masalah.
          
          Tidak perlu terlalu berusaha keras seperti orang yang kamu lihat di luar sana.
          
          Kamu bisa bangun dari tempat tidur dan membalut lukamu perlahan, tak perlu memaksakan diri. 
          
          Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk bertahan.
          
          Bukankah itu sudah lebih dari cukup?
          
          •••••
           
          
          Aku turun dari bus dan berjalan masuk ke area sekolah. Aku berhenti sejenak ketika kakiku memasuki halaman. Di belakang gedung laboratorium, aku melihat Kak Devan tengah bersama dengan seseorang, gadis itu adalah Alena. Salah satu anak populer di sekolah. Sudah banyak rumor yang mengatakan bahwa dulu mereka memiliki hubungan istimewa.
          
          Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Alena terlihat tersenyum lebar lalu merangkul lengannya. Kak Devan tampaknya menerima perlakukan itu. Apa mereka sungguh punya hubungan istimewa?
          
          
          Saya baru saja menerbitkan " Bab 11 " cerita saya" YOUTH : Rewrite ". https://www.wattpad.com/1007533399?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati