Helloindahwati

"Jaga tanganmu! Kau akan menyesal jika berani menyentuhku sedikit saja!" desis Feng Ying penuh ancaman.
          	
          	Pria itu justru tertawa. "Memangnya kau siapa? Putri raja?" Tawa pria itu terdengar mengejek. "Kau hanya seorang pengembara, tak perlu berlagak." Pria itu menarik dagu Feng Ying, mencengkeramnya kuat. Matanya menatap Feng Ying layaknya singa yang kelaparan.
          	
          	"Jauhkan tanganmu darinya!" Suara bernada perintah itu membuat pria tadi berpaling.
          	
          	Feng Ying menatap pria asing yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka dengan kening berkerut samar.
          	
          	"Siapa lagi kau?" Si pria melepaskan tangannya dari Feng Ying, hendak meraih leher pria asing tadi, namun dalam sekali gerakan, pria tadi bisa dengan mudah dibuat tumbang oleh si pria asing dalam satu pukulan.
          	
          	"Kau baik-baik saja?" Pria asing itu menatap Feng Ying, memastikan bahwa perempuan itu baik-baik saja.
          	
          	"Hm ..." Feng Ying mengangguk singkat.
          	
          	Pria asing itu membungkuk, menekuk satu kakinya, menatap si pria yang masih dalam posisi tersungkur di lantai. Dia mencondongkan tubuhnya. "Bersyukurlah aku yang memberimu pelajaran, jika raja yang mengetahui kau kurang ajar pada putrinya, kau pasti sudah kehilangan kepalamu," bisik si pria asing. Perkataannya membuat si pria tadi melebarkan matanya ketakutan.
          	Saya baru saja menerbitkan " Bab 06 - Rebel " cerita saya" The Bloody Moon In The Dawn Sky ". https://www.wattpad.com/1351924698?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati

Helloindahwati

"Jaga tanganmu! Kau akan menyesal jika berani menyentuhku sedikit saja!" desis Feng Ying penuh ancaman.
          
          Pria itu justru tertawa. "Memangnya kau siapa? Putri raja?" Tawa pria itu terdengar mengejek. "Kau hanya seorang pengembara, tak perlu berlagak." Pria itu menarik dagu Feng Ying, mencengkeramnya kuat. Matanya menatap Feng Ying layaknya singa yang kelaparan.
          
          "Jauhkan tanganmu darinya!" Suara bernada perintah itu membuat pria tadi berpaling.
          
          Feng Ying menatap pria asing yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka dengan kening berkerut samar.
          
          "Siapa lagi kau?" Si pria melepaskan tangannya dari Feng Ying, hendak meraih leher pria asing tadi, namun dalam sekali gerakan, pria tadi bisa dengan mudah dibuat tumbang oleh si pria asing dalam satu pukulan.
          
          "Kau baik-baik saja?" Pria asing itu menatap Feng Ying, memastikan bahwa perempuan itu baik-baik saja.
          
          "Hm ..." Feng Ying mengangguk singkat.
          
          Pria asing itu membungkuk, menekuk satu kakinya, menatap si pria yang masih dalam posisi tersungkur di lantai. Dia mencondongkan tubuhnya. "Bersyukurlah aku yang memberimu pelajaran, jika raja yang mengetahui kau kurang ajar pada putrinya, kau pasti sudah kehilangan kepalamu," bisik si pria asing. Perkataannya membuat si pria tadi melebarkan matanya ketakutan.
          Saya baru saja menerbitkan " Bab 06 - Rebel " cerita saya" The Bloody Moon In The Dawn Sky ". https://www.wattpad.com/1351924698?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati

Helloindahwati

Malam setelah sesi penghargaan berakhir, Aruna pulang ke apartemen. Ia berdiri di depan cermin besar di kamar tidur. Masih mengenakan gaun yang sama. Kali ini bayangannya bergerak sempurna. Ia tersenyum. Ia mengangkat tangan. Bayangannya mengangkat tangan lebih dulu.
          
          "Kamu pikir kamu yang asli?" bisik bayangan itu dengan suara Aruna, tapi lebih dalam, lebih lama. Bahkan lebih dingin. "Kamu hanya abu yang kutinggalkan agar bisa terus hidup."
          
          Aruna mengerjap. Ruangan mulai berbau asap. Dinding apartemen yang mahal berubah menjadi kayu lama rumah masa kecilnya. Lantai berubah menjadi tanah basah. Di belakang bayangan, ia melihat dirinya sendiri, tersenyum dengan gigi yang hangus.
          
          "Kamu mati malam itu," kata bayangan itu. "Tubuhmu terbakar bersama mereka. Yang hidup adalah aku-yang kamu ciptakan untuk melanjutkan hidup memuakkan ini. Aku yang menjadi Aruna. Aku yang menjadi aktris. Aku yang membunuh nenek karena ia tahu kamu sudah bukan cucunya lagi."
          
          Waktu berhenti. Membeku. Seolah hanya dirinya dan bayangan hitam itu yang bergerak.
          
          Aruna-atau apa yang tersisa darinya-menatap tangannya. Kulitnya mulai mengelupas, memperlihatkan bara di bawahnya. Ia bukan pelindung. Ia bukan korban. Ia adalah api itu sendiri yang belajar berjalan dengan kaki manusia, berbicara dengan mulut manusia, mencintai dengan hati yang sudah hangus sejak lama.
          https://www.wattpad.com/story/143635889

Helloindahwati

Sejenak, dia menyadari bahwa dimana pun dia berada, dunia tidak akan pernah berubah. Kehidupan tidak pernah melunak padanya. Tak ada yang berbeda di tempat ini maupun di tempat asalnya. Kenyataannya semua orang membuang dan meninggalkannya begitu saja. Baik di tempat ini maupun di tempat asalnya, Feng Ying tak pernah mendapatkan sosok orang tua yang menyayanginya.
          
          "Tuan putri, raja mungkin tidak bermaksud seperti itu. Saya yakin bahwa jauh di dalam hatinya, raja menyayangi tuan putri." Dayang An berusaha menenangkan Feng Ying.
          
          Feng Ying memutar tubuhnya, sorot matanya menatap Dayang An dingin. Sebuah dengusan sinis keluar dari mulutnya.
          
          "Apa menurutmu Qian Mei yang dulu menerimanya? Bagaimana Qian Mei yang dulu? Apa dia gadis yang ceria dan ramah? Apa dia gadis yang berhati malaikat dan lemah lembut? Katakan padaku, orang seperti apa Qian Mei di masa lalu!" Suara Feng Ying bergetar. Matanya berkaca-kaca, seolah cairan bening di dalam sana berusaha menerobos keluar.
          
          Dayang An tertegun melihat tatapan berkabut Qian Mei. Raut wajah tak asing itu kembali mengusik hatinya. Sebuah pertanyaan yang hampir sama, pernah ditanyakan oleh Qian Mei, dulu.
          
          Dayang An mencoba untuk mengukir senyum lembutnya. Hatinya terusik setiap melihat perempuan yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri itu bersedih. Sejujurnya, dia ingin mengatakan pada Qian Mei untuk tidak perlu menyembunyikan perasaannya lagi. Jika perempuan itu ingin membenci ayahnya, Dayang An ingin mengatakan bahwa hal itu tidak masalah. Namun yang keluar dari bibirnya adalah kalimat yang bertentangan dengan hatinya.
          
          "Tuan putri adalah orang yang kuat. Saya yakin Anda bisa melewatinya lagi." Pada akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Dayang An.
          https://www.wattpad.com/story/321356101

Helloindahwati

Feng Ying tidak tahu bahwa keberadaanya di tempat ini akan menjadi sesuatu yang sepenting itu. Feng Ying tidak pernah membayangkan bahwa akan menjalani kehidupan yang jauh berbeda dengan dirinya dulu. Dia belum bisa mengatakan apakah kehidupannya kali ini lebih baik atau bahkan lebih buruk dari kehidupan asalnya.
          
          Embusan napas Feng Ying terdengar berat. Ling dan Dayang An saling bertukar pandang, seolah memahami apa yang Qian Mei bicarakan di kediaman permaisuri hingga membuat wajah perempuan itu menjadi murung dan mendung. Mereka tahu benar bahwa pernikahan ini hanya kepentingan politik dari dua kerajaan.
          
          Feng Ying mendongakkan kepalanya, menatap bunga magnolia yang mulai berguguran. Sepertinya musim gugur tiba lebih cepat dari yang dia inginkan.
          
          "Apa kehidupanku kali ini akan lebih baik atau lebih buruk?" Feng Ying mendesah berat.
          
          "Bisa dikatakan jauh lebih buruk."
          
          Suara rendah dan berat itu membuat Feng Ying berpaling. Keningnya mengkerut dalam saat seorang pria tinggi tegap dengan raut wajah datar, berdiri di depannya.
          
          Ling dan Dayang An sontak membungkuk dengan takzim. "Salam untuk Pangeran Jia Zhen, semoga panjang umur."
          
          Kedua mata Feng Ying seketika membeliak lebar, menyadari siapa sosok yang kini berdiri di hadapannya, menatapnya dengan sorot mata dingin dan tajam. Seperti mampu membekukan tubuhnya dalam seperkian detik.
          
          Saya baru saja menerbitkan " Bab 04 - Princess  " cerita saya" The Bloody Moon In The Dawn Sky ". https://www.wattpad.com/1345438317?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati

Helloindahwati

Jiangwu terdiam sejenak. Ia melirik Ling yang hanya menunduk dengan wajah takut. Lalu berpaling pada Qian Mei, ada sesuatu yang berbeda dari adiknya tersebut. "Apa kau juga tidak ingat siapa orang yang menyerangmu?" tanya Jiangwu kembali. Kali ini tatapannya berubah ingin tahu.
          
          Feng Ying tak segera menjawab, tangannya meremas gugup. "Aku ... tidak ingat," sahut Feng Ying sembari mengulum bibirnya tipis. Dia bertanya dalam hati, apakah sikapnya sudah benar dalam merespon pria di hadapannya ini?
          
          Jiangwu bergeming, dia tampak tak percaya dengan apa yang dikatakan Qian Mei. "Kau bersungguh-sungguh? Kau sama sekali tidak bisa mengingat apa pun? Termasuk orang-orang yang menyerangmu?" Tatapan Jiangwu seperti menekan Qian Mei, air muka pria itu begitu dingin.
          
          Feng Ying menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak kering.
          
          "Benar. Aku tidak ingat apa pun. Aku juga tidak tahu siapa orang-orang yang menyerangku. Aku bahkan tidak ingat namaku sendiri," ujar Feng Ying dengan suara setenang mungkin.
          
          Jiangwu kembali terdiam. Tatapannya benar-benar memandang Qian Mei dengan lekat. Seolah pria itu sedang berusaha mencari kebohongan dalam sorot mata Qian Mei.
          Saya baru saja menerbitkan " Bab 03 - Foreign  " cerita saya" The Bloody Moon In The Dawn Sky ". https://www.wattpad.com/1344318281?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati

Helloindahwati

Aku masih ingat ketika Ayah dan Ibu mengajakku ke taman bermain, kenangan itu membekas dengan jelas dalam ingatanku. Aku terpukau dengan lampu warna-warni, deretan pedagang mainan, orang berpakaian badut melambai ke arahku, dan musik yang ceria menggema di setiap sudutnya. Aku merengek pada Ayah untuk minta dibelikan kembang kapas. Aku juga masih bisa mengingat dengan jelas wajah Ibu yang tersenyum ketika menungguku di bawah lampu warna-warni di depan komedi putar sembari melambai padaku. Senyumnya tampak bersinar di bawah cahaya lampu.
          
          Aku mendongak, menatap wajahnya dari samping. Untuk pertama kalinya, aku melihat sorot mata yang sangat kesepian. Di balik mata itu, aku melihat luka dan kerinduan pada saat yang bersamaan.
          
          “Saat usiaku delapan tahun, Ayah sering mengajakku ke sini. Bukan piknik keluarga pada umumnya, lebih tepatnya aku yang merengek pada Ayah untuk mengajakku piknik.” Kak Devan berjalan lebih ke tepi, membiarkan ombak menerpa kaki telanjangnya. 
          
          “Saat itu aku tidak mengerti kenapa Ayah selalu membawaku ke sini. Saat itu aku juga tidak mengerti kenapa Ayah hanya memandang laut dengan tatapan kosong untuk beberapa lama.” Dia membalikkan badannya, lalu menatapku dengan senyum getir. 
          
          “Kali ini, aku tahu alasannya.” Dia berjalan ke dekatku, lalu mendudukkan tubuhnya di atas pasir. Sorot matanya mulai menggangguku. 
          I just published " Bab 16 " of my story " YOUTH : Rewrite ". https://www.wattpad.com/1135354640?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati

Helloindahwati

Dalam rasa sakit yang perlahan mulai menggerus kesadarannya, Feng Ying melihat kilasan ingatan. Masa kecilnya selama di panti asuhan. Saat pertama kali dia masuk sekolah dasar. Ketika Feng Ying lulus kuliah tanpa seorangpun untuk merayakannya. Atau ketika pertama kalinya dia debut sebagai aktris. Memenangkan penghargaan pertama. Hingga cacian dan makian orang-orang yang kini membuatnya melompat ke dalam jurang kematian.
          
          Suara keributan di luar mobil mulai nyaris tak bisa lagi tertangkap oleh pendengarannya. Telinganya berdenging. Kepalanya dihantam rasa sakit yang luar biasa. Sekujur tubuhnya terasa kebas. Perlahan kelopak matanya terasa begitu berat untuk tetap terbuka. Ia merasa tubuhnya menjadi seringan kapas, pandangannya kian menggelap seiring suara napasnya yang nyaris tak terdengar. Kesadarannya perlahan mulai tenggelam. Sebelum tubuhnya di tarik jauh ke dasar kegelapan, Feng Ying melihat seseorang mencoba membuka paksa pintu mobilnya.
          
          Feng Ying menyadari, inilah saatnya dia tidak perlu lagi melihat dunia yang kejam. Dia tidak perlu lagi bersembunyi dari tatapan orang-orang. Dia tidak perlu lagi menangis semalaman hanya karena memendam kekecewaan. Dia tidak perlu lagi merendahkan diri hanya demi disukai orang lain. Feng Ying sudah terlampau lelah untuk melakukannya. Kini, dia ingin berhenti. Biarkan kematian membawa jiwanya yang telah rusak, tak peduli jika setelah ini harus pergi ke neraka sekalipun.
          Saya baru saja menerbitkan " Bab 02 - Beginning " cerita saya" The Bloody Moon In The Dawn Sky ". https://www.wattpad.com/1343757680?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati

Helloindahwati

Butiran gemuk air hujan menabrak jendela bus, menciptakan garis-garis tak beraturan. Setiap kali menatap hujan, pikiranku mendadak penuh oleh banyak hal. “Apa kakak tahu sebutan aroma hujan yang turun setelah musim panas?” Aku berpaling, menatapnya.
          
          “Aroma hujan juga punya nama?” tanyanya dengan kening sedikit tertekuk.
          
          Aku mengangguk. “Namanya petrichor ...” Aku kembali menatap ke luar jendela. Titik-titik embun yang terbentuk di kaca jendela, bagai jelaga dalam hatiku. “Setiap hal di dunia ini juga memiliki nama. Apa yang kita sentuh, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita lihat, mereka memiliki nama.” Setiap emosi yang kita rasakan pun memiliki nama dan arti.
          
          Aku tak mendengar suara Kak Devan, tapi aku bisa melihat bagaimana air mukanya melalui pantulan di kaca jendela bus. Raut wajahnya tampak memikirkan sesuatu yang dalam.
          
          “Petrichor ...” Dia bergumam, lalu sebuah senyum simpul terukir di bibirnya. “Nama yang cantik. Aku baru tahu jika aroma hujan juga punya nama.”
          
          Aku meliriknya lewat ekor mataku, dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, kepalanya menoleh ke arah jendela, memandangi hujan yang turun. Terkadang, aku merasa asing akan sosoknya yang seakan berbeda dengan Kak Devan yang selama ini kukenal. Dia seperti dua sisi mata uang yang berbeda. Di lain waktu, aku melihat sosoknya tampak menyebalkan dengan wajah yang dipenuhi kerlingan jahil, namun di lain waktu, aku menemukan sosoknya yang tampak lebih rapuh dibandingkan diriku.
          Saya baru saja menerbitkan " Bab 15 " cerita saya" YOUTH : Rewrite ". https://www.wattpad.com/1079860279?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati

Helloindahwati

"Kau tahu sudah berapa kali aku berlutut untuk meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah aku lakukan? Apa kau tahu sudah berapa kali aku merendahkan diriku sendiri demi bisa membuat mereka menyukaiku?" Air mata perlahan lolos dari sepasang matanya yang basah. Setelah beberapa hari ini menghadapi berbagai situasi yang berat, Liangyi pertama kalinya melihat Feng Ying menangis.
          
          "Baiklah. Biarkan saja. Bukan salahmu. Jika kau tidak bisa mendapatkan peran di film itu memangnya kenapa? Yang terpenting kau tidak boleh merendahkan dirimu demi orang-orang seperti mereka!" Liangyi mengangguk, memberikan kalimat penghiburan untuk Feng Ying, sekaligus untuk dirinya sendiri. Dia tahu, sahabatnya itu sudah melalui berbagai hal berat selama ini.
          
          "Benar. Hidupmu tidak akan berakhir hanya karena hal ini, kan? Kita bisa mulai lagi lewat jalan lain." Liangyi menarik napas dalam-dalam, lalu mulai menghidupkan mesin mobilnya.
          
          Mobil van hitam itu mulai meninggalkan halaman tempat syuting, membelah keramaian jalanan kota.
          Feng Ying menghapus air matanya. Pandangannya mengarah ke luar jendela, menatap kosong jalanan kota. Sedangkan Liangyi sesekali melirik Feng Ying lewat kaca spion, memastikan bahwa Feng Ying baik-baik saja. Namun, siapa yang akan tetap baik-baik saja dalam situasi seperti ini? Suatu hal yang tidak mudah bagi Feng Ying untuk bertahan setelah semua badai yang dia lalui.
          Saya baru saja menerbitkan " Bab 01 - The Artist " cerita saya" The Bloody Moon In The Dawn Sky ". https://www.wattpad.com/1281076369?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati

Helloindahwati

Aku lebih penasaran dengan bagaimana dia merepresentasikan sebuah kata ‘mimpi’. Bagiku, mimpi itu seperti naga. Aku sering mendengar orang menyebutnya, bahkan beberapa film menggambarkan tentang bagaimana wujud naga, tapi aku tidak tahu pasti apakah naga itu sungguh ada atau hanya sekadar dongeng dan rekayasa dari imajinasi belaka.
          
          “Sesuatu yang ingin kamu capai?” Dia tampak tidak yakin dengan kalimatnya sendiri. Kak Devan lalu memasang wajah berpikir, lantas mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, mengetik sesuatu di sana. Matanya bergulir dengan serius seperti sedang membaca sesuatu.
          
          “Arti pertama di dalam kamus, mimpi adalah sebuah peristiwa imajiner yang kamu alami saat kamu tidur. Definisi kedua, suatu cita-cita yang ingin kamu capai. Lalu yang ketiga, suatu harapan atau keinginan yang tidak mungkin bisa kamu ubah menjadi kenyataan.” Dia berpaling menatapku lalu memasukkan kembali ponselnya.
          
          Aku terkekeh pelan. “Bukankah definisi yang ketiga aneh? Bagaimana mungkin, cita-cita yang ingin dicapai dan harapan yang tidak akan bisa diubah jadi kenyataan disebut mimpi?” Aku menatapnya dengan kening berkerut samar. “Sementara orang-orang meminta kita untuk bermimpi? Lantas, mimpi yang manakah dari tiga definisi itu yang mereka maksud?”
          Saya baru saja menerbitkan " Bab 14 " cerita saya" YOUTH : Rewrite ". https://www.wattpad.com/1079301281?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati