Butiran gemuk air hujan menabrak jendela bus, menciptakan garis-garis tak beraturan. Setiap kali menatap hujan, pikiranku mendadak penuh oleh banyak hal. “Apa kakak tahu sebutan aroma hujan yang turun setelah musim panas?” Aku berpaling, menatapnya.
“Aroma hujan juga punya nama?” tanyanya dengan kening sedikit tertekuk.
Aku mengangguk. “Namanya petrichor ...” Aku kembali menatap ke luar jendela. Titik-titik embun yang terbentuk di kaca jendela, bagai jelaga dalam hatiku. “Setiap hal di dunia ini juga memiliki nama. Apa yang kita sentuh, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita lihat, mereka memiliki nama.” Setiap emosi yang kita rasakan pun memiliki nama dan arti.
Aku tak mendengar suara Kak Devan, tapi aku bisa melihat bagaimana air mukanya melalui pantulan di kaca jendela bus. Raut wajahnya tampak memikirkan sesuatu yang dalam.
“Petrichor ...” Dia bergumam, lalu sebuah senyum simpul terukir di bibirnya. “Nama yang cantik. Aku baru tahu jika aroma hujan juga punya nama.”
Aku meliriknya lewat ekor mataku, dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, kepalanya menoleh ke arah jendela, memandangi hujan yang turun. Terkadang, aku merasa asing akan sosoknya yang seakan berbeda dengan Kak Devan yang selama ini kukenal. Dia seperti dua sisi mata uang yang berbeda. Di lain waktu, aku melihat sosoknya tampak menyebalkan dengan wajah yang dipenuhi kerlingan jahil, namun di lain waktu, aku menemukan sosoknya yang tampak lebih rapuh dibandingkan diriku.
Saya baru saja menerbitkan " Bab 15 " cerita saya" YOUTH : Rewrite ". https://www.wattpad.com/1079860279?utm_source=android&utm_medium=profile&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Helloindahwati