Honeyhomeyyy

Lalu tanpa kusadari, air mata menetes. Aku terkejut oleh diriku sendiri. Aneh sekali—setelah sekian lama ingin mati, aku justru merasa hidup di momen ini. Benar-benar hidup.
          	
          	Tian tidak pernah memaksaku melihat keindahan. Dia hanya mengenalkannya padaku, membiarkanku menemukannya sendiri. Keindahan yang tidak membutuhkan mata, yang cukup dirasakan. Dia tidak pernah memberiku ceramah tentang semangat hidup, tidak menjejali kepalaku dengan nasihat usang yang terdengar kosong. Dia tahu aku tidak membutuhkan itu. Yang kubutuhkan hanyalah alasan kecil untuk bertahan satu hari lagi.
          	
          	Mungkin umur bumi tinggal beberapa tahun, mungkin hidup tidak akan menjadi lebih mudah setelah ini. Namun jika diberi kesempatan, aku ingin tetap hidup—setidaknya cukup lama untuk melihat Tian sekali saja. Untuk menikmati dunia bersamanya, walau hanya sebentar.
          	
          	***
          	
          	Jujur nulis cerita ini tuh beda banget sama Twin'ge. Rasanya lebih manis, tapi bukan romantis yang biasa. Kalian mungkin akan memahaminya kalau membaca cerita baruku, judulnya The Lastlight: A small love in a broken city. 
          	
          	Happy Reading, Guys
          	

Honeyhomeyyy

Lalu tanpa kusadari, air mata menetes. Aku terkejut oleh diriku sendiri. Aneh sekali—setelah sekian lama ingin mati, aku justru merasa hidup di momen ini. Benar-benar hidup.
          
          Tian tidak pernah memaksaku melihat keindahan. Dia hanya mengenalkannya padaku, membiarkanku menemukannya sendiri. Keindahan yang tidak membutuhkan mata, yang cukup dirasakan. Dia tidak pernah memberiku ceramah tentang semangat hidup, tidak menjejali kepalaku dengan nasihat usang yang terdengar kosong. Dia tahu aku tidak membutuhkan itu. Yang kubutuhkan hanyalah alasan kecil untuk bertahan satu hari lagi.
          
          Mungkin umur bumi tinggal beberapa tahun, mungkin hidup tidak akan menjadi lebih mudah setelah ini. Namun jika diberi kesempatan, aku ingin tetap hidup—setidaknya cukup lama untuk melihat Tian sekali saja. Untuk menikmati dunia bersamanya, walau hanya sebentar.
          
          ***
          
          Jujur nulis cerita ini tuh beda banget sama Twin'ge. Rasanya lebih manis, tapi bukan romantis yang biasa. Kalian mungkin akan memahaminya kalau membaca cerita baruku, judulnya The Lastlight: A small love in a broken city. 
          
          Happy Reading, Guys
          

Honeyhomeyyy

Happy new year, Guys... kangen aku gak nih? Xixixi

Anisatulngazizah77

@ Honeyhomeyyy  peluk jauh
Reply

Siti41477

Happy new year kak
Reply

Honeyhomeyyy

Lagi ngedit naskah Twin'ge versi e-book, eh, kaget banget ternyata jumlah bab-nya sudah bertambah jadi 45 bab, lumayan banyak juga perubahannya, dan ada yang semakin gemes interaksi Weiwei sama .... ekhem siapa ya, wkwkwk

Mysugar33

@ Honeyhomeyyy  huaaa  jangan buat diriku makin penasaran dong kak . Udahlah langsung cetak aja, gak sabar aku mau peluk mereka langsung 
Reply

Honeyhomeyyy

Tian tidak menjawab. Dia mengambil kursi di dekat Ziyu, duduk di sampingnya. Keduanya terdiam sejenak, Tian tersenyum padanya, entah apa arti dari senyumannya. Ziyu merasa Tian serius. Sekali lagi Tian berusaha mengetuk pintu hatinya.
          
          "Tian..." ucapnya lirih.
          
          "Kamu selalu bertanya kenapa saya membatasi hubungan kita, saya hanya sedang berhati-hati, saya takut benar-benar jatuh cinta padamu." Ziyu menghela napasnya, mungkin sudah saatnya dia meninggalkan masa lalunya.
          
          "Apa hubungan kita terlarang? Kurasa banyak fans yang menyukai keintiman kita."
          
          "Apa kau mendekatiku, hanya untuk menyenangkan mereka?"
          
          Tian menggeleng kuat-kuat. "Aku yang senang berada di dekatmu, kalau para penggemar kita juga menyukainya, itu adalah bonus." Lelaki ini pandai berbicara. Sangat berbeda dengan Tian beberapa bulan yang lalu, yang gaya bicaranya saja masih kaku.
          
          Dan ... sebenarnya Ziyu menyukainya. Setidaknya Tian tidak seperti mantan kekasihnya yang bajingan. Matanya selalu berbicara dengan penuh kejujuran, Tian orang baik, mungkin terlalu baik untuknya yang mempunyai masa lalu kelam.
          
          "Tian, jika kamu menginginkannya, maka datanglah, saya mengizinkanmu untuk melihat diri saya yang tidak terekam kamera."
          
          ***
          
          Ah, gemas sekali kalian hmmm

Honeyhomeyyy

Hari ini, wajah yang biasanya murung, terangkat dengan tegas.
          Poni yang sengaja dipanjangkan untuk menutupi matanya, karena Tian tidak ingin melihat dunia di sekelilingnya, tertiup angin. Dunia telah terbuka di depan matanya. Dunia yang tertutup debu, tidak terlihat jelas sama sekali. 
          
          Namun, hari ini Tian tidak takut. Itu karena nama pemiliknya tertulis tepat di tengah dahinya yang terbuka. 
          
          ZIYU LIE.
          
          Bagaikan seekor anjing yang terlatih, secara naluriah dia mematuhi perintah Ziyu. Lalu Ziyu mengulurkan telapak tangannya ke depan Tian, seakan-akan memujinya karena telah melakukan pekerjaan dengan baik.
          
          Wajah Tian perlahan-lahan bergerak mendekat, meriah tangan itu, lalu menciumnya. Dia merasakan kehangatan tangan Ziyu pada bibirnya.
          
          Hubungan keduanya aneh. Jika ada cara untuk mencontohkan hubungan antara Ziyu dan dirinya, mungkin ini adalah sesuatu yang serupa dengan keyakinan sepihak dari orang yang percaya kepada Tuhan. Oleh karena itu, Tian ingin mendedikasikan hidupnya untuk Ziyu, seperti seorang pendeta atau biksu yang taat.
          
          "Apakah kau ingin menciumku?" Ziyu menarik lengannya, menatap anggun di balik senyum dinginnya, dia cantik, sungguh cantik, bahkan bibirnya begitu menggoda.
          
          "Orang sepertiku tidak seharusnya menodai dirimu." Tian menundukkan pandangannya, jantungnya berdegup kencang. 
          
          "Tian ... cium aku." Ziyu meraih dagunya, membuat Tian menatap langsung ke dalam matanya. Kali ini bernada perintah atau mungkin godaan, tapi tidak apa-apa. 
          
          Tian tidak punya hak untuk memilih. Apapun yang Ziyu tawarkan, ia akan menerimanya dengan sepenuh hati, tak peduli apakah itu madu atau racun.
          
          Dia sekarang menjadi milik Ziyu Lie. Entah Tian disayangi, atau dipermainkan, atau diinjak saat Ziyu kesal, atau dibuang saat Ziyu bosan, itu sama sekali tidak masalah bagi Tian.
          
          ***
          Ini bukan bucin lagi, sih, bahkan lebih tinggi dari bulol. Udah ditahap menyembah, tapi aku suka, siapa yang suka juga? hmmm

DavidJohn8

@Honeyhomeyyy cerita baru  kyknya bgus
Reply

Lynx_yw

@ Honeyhomeyyy  aku sukaaa,
Reply

DiazKato

Im waiting 
Reply

cherrynotceri_

https://youtube.com/shorts/kwAXYq9srkg?si=JsbGrcHuxh_KGaTh
          
          Hey, bes.. aku nemu chi cheng dan chi han(ToT)

Pinnnnnnnnnn

@cherrynotceri_ wahhhhh chi han dan chi cheng kita hidup hahaha
Reply

Honeyhomeyyy

@ cherrynotceri_  waaahh mirip bangettt
Reply

Honeyhomeyyy

Guys, jangankan kalian, aku yang nulis aja kena mental, huhuhu, kek bengong dulu beberapa jam setelah nulis bab 36

FitriIndah8

@ Honeyhomeyyy  , ya kak
Reply

Rachayas

Kak, kamu kejam banget kalau sampai bikin Wu mati. Huhuu
            
            Dia pantas mendapatkan kebahagiaan
Reply

didadidut

@ Honeyhomeyyy  di tunggu AU barunya kak
Reply

Honeyhomeyyy

"Aku tidak pernah bertemu dengan orang sepertimu, Ziyu. Kau mengatakan bahwa kau menyukaiku, tapi sesaat kemudian kau malah sekarat di hadapanku, apa kau tak memperhitungkan perasaanku? Bagaimana kalau aku juga menyukaimu?" 
          
          Ziyu menoleh padaku, matanya menghilang, dia tersenyum sangat lebar, senyum terakhirnya sebelum tangan Ziyu jatuh melemas, matanya tertutup.
          
          Tubuh yang sedang dipangku olehku tidak lagi bernapas. Hatiku mencelos, aku tidak bisa menjelaskannya, rasanya aneh. Aku sudah melihat banyak kematian di hadapan mataku, tapi tak ada satu pun kematian yang membuatku meneteskan air mata. Aku tidak pernah merasa berempati sedalam ini kepada mereka.
          
          Namun, kali ini berbeda, ketika mencoba membuka matanya, aku mengharapkan pupil Ziyu tidak melebar, waktu  memastikan nadinya, aku ingin merasakan denyutan di sana. Saat diam-diam mengecup keningnya, aku berharap masih ada kehangatan yang tersisa, tapi semua bayanganku itu tidak akan menjadi nyata, Ziyu sudah tiada.
          
          Tubuhnya kaku dan mulai mendingin di bawah sinar hangat matahari pagi, Ziyu benar-benar pandai memilih tempat dan waktu, serta suasana yang cocok untuk mati, seperti katanya kematian itu romantis, maka aku tidak akan pernah melupakannya, aku akan menganggapnya sebagai sebuah surat cinta paling memilukan.
          
          ***
          Nangis banget

Honeyhomeyyy

@ cherrynotceri_  hahaha gak juga sih, aku kan baru tulis satu buku
Reply

cherrynotceri_

@ Honeyhomeyyy  jangan bilang kamu duta sad ending (story tianziyu)
Reply

yaouyin

@ Honeyhomeyyy  apanih KK tiba2 aja
Reply