"Lomon-ah..." Wooseok menjeda, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. "Menurutmu, bagaimana Kim Hyeyoon?"
Lomon sedikit tersentak. Ia mengernyitkan dahi, tampak bingung dengan perubahan topik yang mendadak. "Kim Hyeyoon? Tiba-tiba sekali? Kenapa kau bertanya tentangnya padaku?"
Wooseok menggeleng pelan, pandangannya tidak lepas dari manik mata Lomon. "Tidak ada apa-apa. Jawab saja. Apa yang kau pikirkan tentang dia?"
Lomon tampak berpikir sejenak. Ia kembali santai, menyandarkan sebelah bahunya ke dinding koridor. "Hmm, dia baik. Asyik diajak bicara meskipun kadang galak jika diganggu. Dia juga sangat gigih, kau lihat sendiri kan bagaimana dia berjuang untuk nilai nilainya?"
"Bukan itu maksudku," potong Wooseok cepat, membuat Lomon terdiam. "Maksudku... bagaimana dia di matamu sebagai seorang perempuan?"
Mendengar pertanyaan itu, gestur tubuh Lomon perlahan berubah. Ia menegakkan badannya, melepaskan sandaran dari dinding, dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Senyum main-mainnya memudar, digantikan oleh sorot mata yang tajam dan berani saat menatap Wooseok.
"Entahlah," Lomon menjeda kalimatnya, seolah sedang menimbang setiap kata yang akan keluar. Ia menatap ekspresi Wooseok yang tampak kaku menanti jawabannya. "Dia tampak sangat menarik di mataku. Terutama saat dia sedang marah atau bersungguh-sungguh."
Lomon melangkah satu langkah lebih dekat, memperpendek jarak di antara mereka. "Sepertinya, aku benar-benar menyukainya, Wooseok-ah. Bukan sebagai teman belajar, tapi sebagai perempuan."
Pernyataan itu menggantung di udara, menciptakan jurang pemisah yang baru di antara dua pria yang selama ini berteman baik tersebut. Wooseok hanya bisa terdiam, sementara di dalam dadanya, rasa sakit yang baru saja mereda kini kembali berdenyut lebih kencang dari sebelumnya.
Aku akan update klo vote nya sudah 40 ya hihi
Semangat buat kita semua :D