Saat Aksa terbangun, bau khas rumah sakit menusuk hidungnya. Ia bisa mengingat mengapa berada di sini. Sepertinya sudah cukup lama ia tiba. Pakaiannya sudah berganti dengan seragam pasien serta kaki kanannya tergips. Entah berapa lama tidak sadarkan diri, hal terakhir yang ia ingat adalah mendengar sirene ambulans di kejauhan.
Suara langkah kaki memecah kesunyian, Aksa menebak salah satu yang datang adalah Rianti. Sepatu hak tinggi yang dipakai Rianti menghasilkan suara klak-klak sangat khas. Ternyata benar, Rianti, Pasha, Malik, beserta Janari dan kedua putranya. Aksa sampai salah tingkah mendapati perhatian sebesar itu.
“Pak,” sapa Aksa dengan senyum meringis. Sudut bibirnya terasa nyeri sekali saat digerakkan.
Janari terenyuh melihat keadaan sang asisten babak beluk. Memar-memar berwarna hitam keunguan menjelaskan betapa keras tinju menghantam wajahnya. “Jangan bergerak!” larangnya. Aksa terlihat seperti hendak menaikkan tubuh ke posisi duduk. “Tahan ketidaknyamanan untuk sementara waktu! Bisa kembali pulih tanpa cacat harus menjadi fokus utamamu,” perintahnya dengan suara penuh penekanan, mengingat Aksa cukup bandel dalam hal menjaga diri sendiri.
“Sudah menghubungi Ibumu? Kita bisa kirim Rianti untuk menjemput Ibumu,” tawar Calvin yang cukup terkesan dengannya. Aksa selalu menjawab telepon dari ibunya dalam keadaan apa pun. Pernah dalam beberapa rapat, ia memohon izin menjawab telepon hanya untuk mengabari bahwa sedang rapat. Kepedulian yang membuat banyak orang merasa seperti ditelanjangi.
https://www.wattpad.com/story/406654922