“Sa! Aksa!” teriak Sapto sambil berlari.
Jantung Aksa copot. Refleks ia berdiri. Tablet di tangannya nyaris jatuh. “Sapto? Ada apa? Kenapa lari kayak dikejar setan?”
Sapto berhenti tepat di depannya. Kedua tangannya bertumpu di lutut. Dadanya naik turun. “I... itu, ada cewek… ketabrak...”
Darah Aksa berdesir dingin. “Ketabrak sama siapa?!” bentaknya tanpa sadar.
“Aku, aku yang nabrak,” jawab Sapto. Suaranya gemetar. “Gak sengaja. Sumpah. Jalanan sepi. Dia tiba-tiba nongol. Aku kaget, aku kira bidadari nyasar.” Ia menunduk, tidak sanggup menatap. “Sekarang ada di Puskesmas sama Dokter Ika.”
Alis Aksa bertaut rapat. “Terus? Kenapa melapor ke aku?”
Sapto menggaruk kepala basahnya. Ia semakin panik. “Dia, dia nyariin kamu.”
“Mencari aku?” Aksa mengusap tengkuk yang tidak gatal. Otaknya mulai berisik. “Namanya siapa?”
“Anu...” Sapto memicingkan mata, berusaha mengingat. “Aku cuma berdiri di ambang pintu. Suaranya pelan banget. Yang jelas dari Jakarta. Cantik. Bawa mobil, nyetir sendiri.” Ia menggeleng frustasi. “Aku lupa, tapi Dokter Ika pasti tahu namanya.”
Dunia Aksa mendadak hening. Padahal di sekelilingnya suara gerinda dan tawa pekerja masih ramai. Satu nama menghantam kepalanya. Cassandra. Tidak mungkin. Tidak mungkin dia. Pertemuan terakhir mereka di Jakarta berakhir buruk.
“Naik mobil apa?” tanya Aksa. Suaranya lebih pelan, lebih hati-hati.
Sapto menggeleng. “Aku nggak paham mobil. Modelnya aneh. Kinclong, mengilap. Kayak mobil artis.”
Jantung Aksa menghantam rusuknya. Kinclong. Dari Jakarta. Menyetir sendiri. “Terus dia bilang apa lagi?” desak Aksa.
Sapto menelan ludah. “Dia bilang, dia ke sini khusus nyari kamu. Aksa Cakrawala.” Ia jeda, ragu ingin mengatakan. “Terus luka di tumitnya dalam. Dokter Ika bilang harus segera dijahit, tapi dia nolak. Katanya, nunggu kamu yang mutusin.”
https://www.wattpad.com/story/406654922