Baru selesai tadarusan. Hampir ga selesai satu juz karena di pertengahan keinget seorang ayah yang menatap penuh bangga ke anaknya, senyum lebar yang tulus. Dari mata saya, dia benar-benar keliatan bangga ke anaknya. Seketika saya ingat sosok papah, senyumnya, tawanya, dan segala kenangan kami. Seorang ayah memang selalu terlihat sangat bangga ya melihat anaknya berhasil.
Saya ingin sekali melihat paman itu lagi, sayangnya saya baru mengetahui kabarnya sudah tiada setelah 2 bulan kematiannya.
Dada saya sesak, hampir tidak bisa melanjutkan mengaji. Kenapa ayah-ayah yang hebat dan tulus itu selalu cepat kembali. Saya gatau namanya dan seperti apa kehidupan sebenarnya paman itu. Tapi saya berharap semoga beliau Husnul khotimah.