Sore itu matahari bersinar untuk terakhir kalinya sebelum digantikan malam. Semburat cahayanya menusuk mata siapapun yang berani melihatnya. Sang matahari tidak ingin kepergiannya dilihat oleh orang-orang. Ia hanyalah sesuatu yang akan selalu berlalu lalang. Tanpa disadari oleh dirinya, kepergiannya mampu membawa kehangatan bagi siapapun yang merasakannya. Matahari tidak sadar, bahwa dirinya lah yang sudah menerangi bumi yang gelap ini. Tanpa dirinya, malam akan hadir. Bumi pun gelap kembali. Namun, Bumi telah belajar. Bila dia tidak merelakan matahari pergi, hanya akan ada siang pada dirinya. Dengan itu, bumi pun membuat lampu untuk menerangi dirinya sendiri.
"Shin, gua lulus duluan nih dari Adhitara. Lo belum, ya?" Aku tersenyum pahit melihat sebuah batu didepan ku. Batu itu kini dipenuhi lumut. Hanya batu biasa dengan ukiran nama 'Taro Shinji' disana. Tidak ada yang spesial pada batu itu. Namun, yang ada dibawah tanah, itu lah yang spesial.
Seorang teman sekelas.
Atau mungkin lebih.
Seorang sahabat.
Sahabat yang selalu ada di awal lembaran baru ku.
Sahabat yang selalu ada di masa ketegangan 10–U.
Sahabat yang selalu membantu memecahkan segala misteri.
Namun, tetap berakhir menjadi bagian dari eksperimen gila itu.
"Oh, iya. Gua lupa. Lu kan... Masih dipakai, ya? Jasad Lo itu ga lengkap, 'kan? Tenang saja, Shin. Gua akan dapatkan kembali bola matamu itu."
Aku berjongkok. Kemudian, aku menyerahkan sebuket bunga matahari untuknya. Aku tersenyum. "Lu pernah bilang ke gua, lu suka banget sama bunga matahari. Nih, gua kasih." Tatapan mataku tidak bisa bohong. Air mata yang mengalir pun tidak dapat dihentikan. Aku menangis sejadi-jadinya setiap kali mengingat masa kita bersama.
Andai saja saat itu aku mampu melindungi mu, kamu tidak akan berakhir menjadi bagian dari eksperimen busuk itu.