Roserise
Kak bercinta lewat doa yang dulu masih ada pdfnya gak
@Lalybra
1
Work
1
Reading List
358
Followers
Temen-temen ... saya update cerita baru, tapi di akun sebelah. Jika berkenan, silakan dibaca dan masukkan ke library.
Terima kasih!
https://www.wattpad.com/story/409597573?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=share_reading&wp_page=reading&wp_uname=Lalybra
Kak bercinta lewat doa yang dulu masih ada pdfnya gak
Cp 43 nya ga muncul kaka
Temen-temen ... saya update cerita baru, tapi di akun sebelah. Jika berkenan, silakan dibaca dan masukkan ke library.
Terima kasih!
https://www.wattpad.com/story/409597573?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=share_reading&wp_page=reading&wp_uname=Lalybra
Temen-temen ... saya update Bab 38. Retak, muncul tidak, ya?
https://www.wattpad.com/story/409951341?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=share_writing&wp_page=create&wp_uname=Lalybra
Tidak pernah terbayangkan, di umur yang hampir menginjak kepala orang malah jadi langganan bolak-balik poli radiologi.
Banyak sekali jadwal yang akhirnya harus dibatalkan padahal semuanya sudah booking jauh-jauh hari. Horse riding, canyoning, flying fox, hiking, running, traveling … satu per satu cuma jadi itinerary yang tersimpan rapi di galeri dan email konfirmasi.
Dulu rasanya badan selalu bisa diajak kompromi. Pergi ke mana pun ayo. Nanjak ayo. Main air ayo. Meluncur dari ketinggian juga ayo. Sekarang bahkan buat memastikan badan baik-baik aja — harus mondar-mandir ke rumah sakit.
Jadi memang jangan terlalu kecintaan pada apa pun, pada siapa pun. Karena kadang hidup menguji kita lewat hal-hal yang paling kita cintai.
Untungnya writing and reading masih bisa dibawa ke mana-mana. Mau rebahan, duduk, sampai jungkir balik pun tetep bisa dilakukan.
Tapi tetep aja … kangen petantang-petenteng demi apa pun.
Padahal cuma cerita ulang (remake), tapi excited-nya masih sama, salting-nya masih sama, panas dinginnya tiap nulis adegan spicy juga masih sama.
Bahkan nyebelinnya Byan saat muncul ke permukaan juga masih sama. Saya masih sering mengumpat, masih sering menganjing-anjingkan beliau tiap nulis ulang adegannya.
(╥﹏╥) (˚ ˃̣̣̥⌓˂̣̣̥ )
Ada yang bilang jadi penulis itu melelahkan karena kita harus membagi hati ke banyak karakter. Tapi bagi saya, menjadi diri sendiri pun sudah cukup menguras rasa.
Saya adalah seseorang yang sangat mudah jatuh cinta—tapi bukan (selalu) pada manusia. Saya jatuh cinta pada semesta, pada setiap inci keindahan yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Hati saya mudah sekali terenyuh, mudah sekali merasa haru hanya dengan menyaksikan bagaimana dunia ini bekerja dengan begitu indahnya.
As a florist, setiap hari saya menyentuh keajaiban-keajaiban itu. Bunga bagi saya adalah bahasa Tuhan yang nyata. Saya bisa jatuh cinta pada diksi yang cantik, pada rima sastra yang pas, atau pada hal-hal kecil yang mungkin bagi orang lain biasa saja. Semua keindahan itu masuk ke pori-pori perasaan saya.
Namun, ironisnya, di balik kemudahan saya mencintai keindahan semesta, saya adalah orang yang paling sulit untuk urusan "cinta" yang sebenarnya—cinta yang melibatkan hati antar manusia.
Saat ini, di tengah proses merangkai ulang "BERCINTA LEWAT DOA", saya justru kembali jatuh cinta pada hal yang tak terduga, yaitu pada judul-judul babnya sendiri.
Salah satunya adalah Sentripetal.
Dalam ilmu pengetahuan, Sentripetal adalah gaya yang menarik suatu benda menuju pusat orbitnya. Tanpa gaya ini, benda tersebut akan terlempar jauh, hilang arah di ruang hampa.
Begitulah saya memaknai cinta dalam cerita ini.
Bagi saya, cinta yang sejati adalah gaya sentripetal itu sendiri. Di saat kita punya sejuta alasan untuk pergi dan melesat menjauh, cinta—dan doa—adalah kekuatan yang terus menarik kita kembali ke pusatnya. Ia adalah gaya yang menjaga kita agar tetap menetap, tetap setia pada satu titik yang paling dalam, sesulit apa pun orbit yang harus kita lalui.
Salam hangat,
La Lybra
Selamat pagi, temen-temen.
Ada yang nanya, kenapa remake? Kenapa nggak bikin cerita baru aja?
Jawabannya … karena saya belum selesai sama cerita ini.
Ini bukan sekadar cerita. Ini bagian dari terapi saya.
As a writer, saya trauma.
As a reader, saya juga trauma.
Saya bahkan sempat mikir—kok bisa ya dulu saya nulis cerita yang sekarang menurut saya sendiri terasa “menjijikkan” seperti ini.
Dulu cerita ini saya tulis selama satu semester.
Saya sempat baca ulang waktu ngerjain versi PDF di pertengahan tahun lalu.
Setelah itu … nggak pernah saya sentuh lagi.
Benar-benar saya tinggalin.
Dan baru sekarang saya buka lagi—bukan buat nostalgia, tapi buat terapi.
Jadi saya balik ke sini bukan buat menghibur siapa-siapa.
Saya cuma lagi menyelesaikan sesuatu di diri saya.
Kalau ngerasa ini waste your time … ya nggak usah dibaca.
Santai aja.
Dibaca syukur, nggak juga nggak apa-apa.
Terima kasih buat yang masih mau stay.
With love,
Lily
WOYYY. T_T
Haiiiii..beneran ini kamu?? Udh sehat kah??
@ Lalybra ga bs lupa laaaa..ga chat lg krn kan kmrn kecelakaan itu pasti butuh waktu buat kalian smbuh..demi Allah, 2 hr ni udh ada niat nge chat..mau nanya kbarnya gmn..ya Allah, dijawab sektika hr ni..senang bngt..pokoknya hrs tetap smngat yaaa..harus..
Both you and this user will be prevented from:
Note:
You will still be able to view each other's stories.
Select Reason:
Duration: 2 days
Reason: