Ada yang bilang jadi penulis itu melelahkan karena kita harus membagi hati ke banyak karakter. Tapi bagi saya, menjadi diri sendiri pun sudah cukup menguras rasa.
Saya adalah seseorang yang sangat mudah jatuh cinta—tapi bukan (selalu) pada manusia. Saya jatuh cinta pada semesta, pada setiap inci keindahan yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Hati saya mudah sekali terenyuh, mudah sekali merasa haru hanya dengan menyaksikan bagaimana dunia ini bekerja dengan begitu indahnya.
As a florist, setiap hari saya menyentuh keajaiban-keajaiban itu. Bunga bagi saya adalah bahasa Tuhan yang nyata. Saya bisa jatuh cinta pada diksi yang cantik, pada rima sastra yang pas, atau pada hal-hal kecil yang mungkin bagi orang lain biasa saja. Semua keindahan itu masuk ke pori-pori perasaan saya.
Namun, ironisnya, di balik kemudahan saya mencintai keindahan semesta, saya adalah orang yang paling sulit untuk urusan "cinta" yang sebenarnya—cinta yang melibatkan hati antar manusia.
Saat ini, di tengah proses merangkai ulang "BERCINTA LEWAT DOA", saya justru kembali jatuh cinta pada hal yang tak terduga, yaitu pada judul-judul babnya sendiri.
Salah satunya adalah Sentripetal.
Dalam ilmu pengetahuan, Sentripetal adalah gaya yang menarik suatu benda menuju pusat orbitnya. Tanpa gaya ini, benda tersebut akan terlempar jauh, hilang arah di ruang hampa.
Begitulah saya memaknai cinta dalam cerita ini.
Bagi saya, cinta yang sejati adalah gaya sentripetal itu sendiri. Di saat kita punya sejuta alasan untuk pergi dan melesat menjauh, cinta—dan doa—adalah kekuatan yang terus menarik kita kembali ke pusatnya. Ia adalah gaya yang menjaga kita agar tetap menetap, tetap setia pada satu titik yang paling dalam, sesulit apa pun orbit yang harus kita lalui.
Salam hangat,
La Lybra