Bagi Yoongi, 15 detik menunggu supaya Jimin mencium bibirnya adalah waktu yang lama. Yoongi bisa saja meraih tengkuk itu, lalu menabrakkan bibir mereka, dilanjut melumat brutal sampai labium gendut Jimin makin gendut. Hanya saja, Yoongi ingin anak itu yang menciumnya duluan.
Sementara itu, Jimin tampak ragu-ragu. Ia sudah melepas kacamata berbingkai bulat yang sangat-sangat menambah kesan culun, tetapi justru terlihat sangat imut di mata Yoongi.
"Kenapa tidak Kakak saja yang menciumku? Biasanya juga begitu."
"Enam bulan, Jimin, enam bulan. Enam bulan kita pacaran dan kamu tidak pernah inisiatif menciumku lebih dahulu."
"Tetapi kan sama-sama kita ciuman. Aneh."
"Ck, tidak menerima argumen. Cepat cium bibirku. Lagi pula kenapa, sih? Apa terlihat susah?"
"A--aku hanya ..."
"Hanya apa?"
"Aku malu! Kakak tidak tahu, ya kalau aku itu sebenarnya malu. Bukan berarti aku tidak suka. Ciuman sama Kakak enak, kok. Aku suka, suka banget, tetapi aku malu. Kak Yoongi tidak paham, ya? Kalau malu, aku bisa lama. Kalau lama, Kak Yoongi yang uring-uringan. Ujung-ujungnya ...."
Ujung-ujungnya selalu seperti ini. Yoongi tidak tahan sendiri, maka ia yang bergerak maju. Tangannya meraih pipi tembam, lalu membawa ke depan untuk mencium bibir gemuk itu. Seperti yang sudah-sudah, mereka akan beradu lidah hangat dan berbagi saliva.
"Gemas banget, sih!" komentar Yoongi begitu mereka selesai ciuman.
"Capek, Kak."
"Iya, nanti ciuman lagi."
"Bibirku capek, kebas. Kakak ciuman atau vacum cleaner, sih?"
"Ha-ha-ha ...." Yoongi tidak kuat, lantas menghujani wajah itu dengan ciuman kupu-kupu dengan sela-sela tawa Jimin.
"Cium atas sudah, sekarang cium yang di bawah, ya."
"Kan ... malas, ah! Aku capek. Mau pulang saja."
Namun, Jimin tetaplah Jimin. Jika sudah dibuat enak, ia sendiri yang ingin minta lebih.