tin_lovatin

"Ceritanya akan tetap sama." Akhirnya aku bicara. Ada sedikit rasa lega dalam diriku. Bukankah aku hanya objek taruhannya saja? Bukankah dia sudah merenggut "semua gula" milik seorang perempuan? Bagaimana ceritanya bisa lain? Ceritanya akan tetap sama, di mana dia harus menikahi perempuan itu.
          
          Andaru menatapku, seolah tak yakin bahwa akulah yang baru saja bicara.
          
          "Nahla, aku—"
          
          "Berhenti memanggilku dengan 'Nahla'!" Akhirnya, ya akhirnya, kata-kata itu keluar juga.
          
          "Mengapa aku harus berhenti memanggilmu dengan nama itu?"
          
          Andaru!
          
          "Aku baru tahu kalau buku itu adalah milikmu setelah aku mengetahui arti dari nama 'Nahla'," lanjut Andaru. "'Seteguk air itu sederhana. Sebuah komitmen itu setia'. Itu yang kau tulis di lembaran pertama buku itu. Arti dari nama 'Nahla'. Lalu, apa alasannya aku tidak boleh memanggilmu dengan nama itu, Nahla Sallum?"
          
          "Tidak ada alasannya!" Akhiri obrolan ini! Aku tidak ingin mendengar suaranya lagi! Aku ingin pulang, menangis, dan menjerit seorang diri lagi, kalau perlu.
          
          
          [Maaf, ya, promosi kopi di sini, eh maksudnya promosi karya. Siapa tahu tertarik berkunjung ke Andanan Coffee dan memesan secangkir kopi hangat, eh salah lagi, maksudnya tertarik membaca karya saya. Terima kasih dan selamat menikmati]
          
          https://www.wattpad.com/story/303419623

manggamuda28

Hallo, ini Biya. Khaliluna Anbiya. 
          Gadis lapuk di awal 30-an tahun yang masih enggan melepas masa lajangnya.
          
          Siapa peduli kalau orang-orang menyebutnya perawan tua? Mereka bahkan tak segan-segan menjadikan Biya sebagai pusat bisik-bisik dan perhatian.
          
          Tapi bagi Biya semua itu nggak penting. Toh gadis yang sudah menginjak umur kepala tiga itu selalu berprinsip "Selagi gue bahagia, persetan sama omongan orang."
          
          Begitulah sekiranya keyakinan teguh yang selalu Biya pegang. Lagipula nggak ada yang salah dari hidupnya. Lajang itu bukan AIB. Lajang jaman sekarang itu trendi. Right?
          
          Tapi kehidupan Biya yang terbilang aman dan bebas hambatan itu seketika jungkir balik saat Om Bagas memintanya mengisi posisi sekretaris menejer baru yang sekarang tengah kosong.
          
          "Aargh! JINGGA SIALAN!"
          
          .
          
          Askara Jingga. Bujang. 27 tahun. Songong, sombong, minus etika - dan anggap saja bisu. Tipikal bos-bos rese yang hobi menyiksa bawahan. Selalu sengit tiap kali menatap keberadaan Biya.
          
          Bagi lelaki blesteran Korea dan setengah surga itu, sosok Biya sudah seperti sumber dari segala macam masalah dan kesialan.
          
          "Kalau kamu manusia yang punya etika, kamu pasti tau namanya hukum timbal balik."
          
          Sial! Apalagi yang bisa Biya lakukan untuk mengembalikan hidupnya ke posisi semula - terbebas dari segala keruwetan ini? Kalau sepanjang hari dia harus berurusan dengan makhluk minus etika seperti Askara Jingga?
          
          Dibaca dulu gess..
          Pelan-pelan, tarik napas..
          Simpang di daftar bacaan..
          Tungguin notifikasi update..
          Siapa tau suka :)
          
          https://www.wattpad.com/story/234309515-ending-choice