Liviebluee

Perfect Wife up

just_syala

Izin promosi, ya, Kak. Maaf jika mengotori wall. (⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
          Note: Tidak menerima feedback, hanya mutualan akun
          
          Cocok untuk kamu yang lagi deket sama seseorang tanpa kepastian! ☝
          
          "Kita berjalan dalam langkah yang sama, tapi bayangannya tak juga menjadi kisah yang bermakna."
          
          Coretan kisah yang tak pernah pergi dan mendekat sepenuhnya pun tak berani. Jeina dan Fandra bukan pasangan, tapi saling tahu rasa yang tumbuh, walau tak benar-benar menyebutnya cinta yang utuh. Di antara setiap candaan, tatapan yang tertahan, mereka berjalan berdampingan, berharap waktu datang membawa jawaban. Keduanya terjebak dalam permainan hati yang rumit. Fandra mengikat hubungan mereka dalam satu nama—'temen level 5'.
          
          Namun, perlahan keraguan membangun tembok yang tinggi; Jeina berdiri di ambang lelah menunggu yang tak pasti, sementara Fandra berpegang pada sebutan yang ia cipta sendiri. Akankah status 'temen level 5' akan selamanya menjadi ruang tanpa kejelasan? Atau justru membuka pintu menuju sesuatu yang lebih di halaman depan?
          
          Judul: Temen Level 5
          Author: just_syala
          Link: https://www.wattpad.com/story/405998184

bylatifah

Hai kak, izin promosi yaa. Terimakasih
          
          "Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya," jelas Alana
          
          Tapi...
          "Lo kenapa, Na?" 
          "Gue susah tidur kalau nggak ada yang dipeluk." 
          Suara Alana sangat lirih, seakan itu rahasia paling besar yang Alana miliki seumur hidupnya.
          Rayyan menghela napas panjang. "Gue nggak pernah punya guling, lagi. Bentuknya suka ngagetin kalau gue kebangun tengah malem." 
          Rayyan memiringkan badannya, satu tangan menyangga kepala, satu tangan lagi direntangkan condong ke arah Alana. "Sini."
          Alana membuka mulutnya sedikit. "Nggak ada solusi lain?"
          "Sini. Kayak nggak pernah meluk aja sebelumnya," balas Rayyan setengah bercanda.
          Alana menoleh, memelototi Rayyan.
          "Itu bukan di ranjang. Lagian lo yang meluk gue duluan disaat gue lagi nggak bisa mikir jernih," balas Alana, sedikit nyolot.
          Rayyan terkekeh pelan. "Iya, iya, itu gue."
          "Gue nggak akan ngapa-ngapain. Kalau lo nggak percaya, lo boleh iket tangan gue, gue bakalan diem anteng kayak guling," bujuk Rayyan lagi.
          Alana mencibir. "Badan gede keras gitu. Guling mana ada yang berotot?"
          Rayyan hanya tersenyum tipis mendengar cibiran yang terdengar seperti pujian itu. "Mau nggak?"
          
          https://www.wattpad.com/story/386163743?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=bylatifah