Kalau mau mengajarkan boleh, tapi jangan sampai anda menyuruh si penulis untuk menghapus ceritanya. Kalau ingin mengajarkan, yasudah ajarin si penulis dan kasih tau dimana tempat dia salah dan dimana yang harus ia kembangkan. Lebih baik seperti itu daripada kamu suruh dia hapus cerita yang dia buat. Semua orang bebas berkarya sesuai apa yang dia pikirkan, bisa kesenangan sendiri, pekerjaannya, dll. Tetapi, emang berkarya kita masih harus ada batasan, kita harus tau apakah karya yang kita buat itu nyaman untuk orang sekitar atau tidak. Kamu sebagai readers juga mengkritik yang sopan, bukan menyuruh orang lain untuk menghapus cerita yang ia buat.
Oh iya, untuk statement kamu yang "penulis harus memiliki mental yang kuat." Itu aku setuju dengan statement kamu, tapi itu hanya idealnya, bukan syarat. Aku pernah di masa dimana mental aku jatuh, tetapi aku masih dibilang oleh orang-orang profesional dan sekitarku kalau aku pantas menjadi penulis. Jadi, semua orang yang bahkan memiliki masalah mental pun masih bisa berkarya. Namun, emang ada minesnya.
Oh iya, sebagai salah satu orang yang memperdalam ilmu penulisan juga, aku cuma mau bilang kalau di komentar kamu,
1. "Teman teman" itu jadi "Teman-teman" karena harus pakai kata hubung.
2. "Mala." itu jadi "Malah."
3. "Saya tidak membenci anda saya hanya ingin mengajarkan anda." menjadi "Saya tidak membenci Anda, saya hanya ingin mengajarkan Anda." Ingat pakai koma dan kata "Anda" harus menggunakan huruf kapital A di awal.
3. "Jika mental anda jatuh Berarti anda tidak pantas menjadi penulis." Menjadi "Jika mental Anda jatuh, berarti Anda tidak pantas menjadi penulis."
Ayo, katanya disuruh perhatikan tata cara penulisan koma dan spasi, tapi ini kok masih salah ya? Kalau aku ada spasi dan koma yang salah maafkan.