Untuk kamu, A.R.S.
Jika di sela-sela hari yang sunyi kamu diam-diam masih membaca tulisan ini, tolong, berhentilah sejenak. Dengarkan isak yang tak pernah berani kuperdengarkan langsung saat terakhir kali kita berhadapan.
Sungguh, di palung jiwaku yang paling hancur, aku tidak pernah rela membiarkanmu berjalan sendirian. Melepaskan genggaman tanganmu dan melihat punggungmu menjauh adalah wujud bunuh diri paling pelan yang pernah kulakukan.
Kita tidak kalah oleh bosan, tidak juga hancur karena pengkhianatan. Kita murni dibunuh oleh realita. Betapa menyayatnya melihat kita berjuang berdarah-darah mempertahankan segalanya, namun semesta hanya diam, seolah menertawakan betapa naifnya kita.
Cinta kita yang masif nyatanya tak pernah punya kuasa untuk meruntuhkan tembok tebal bernama restu. Pada akhirnya, kita dipaksa sadar bahwa sedalam apa pun kita saling mendamba, 'Amin' yang kita rapal tak akan pernah bisa bermuara di satu surga yang sama.
Bagaimanapun kerasnya aku mencoba, semesta ternyata punya cara yang jauh lebih brutal untuk mematahkan kita.
Kisah fiksi ini adalah kuburan bagi kenangan kita. Ini adalah satu-satunya ruang kedap suara tempat aku bisa lari dari realita yang mencekik. Di barisan aksara inilah aku menyembunyikan lukaku, memeluk bayanganmu dengan egois tanpa perlu dihakimi oleh kasta, agama, dan tatapan dunia.
Berjalanlah terus ke depan. Temukan bahagiamu, tegakkan kepalamu, dan jangan pernah menoleh ke belakang lagi. Biarkan aku yang memaku diriku sendiri di masa lalu kita. Hiduplah dengan baik, meski kamu harus melangkah dengan menginjak sisa-sisa kewarasanku.
Sayang...ketahuilah, cintaku telah habis di kamu.
Fellix Mathius C.H.