MilkyCheese8

Halo, Backharat udah update
          	Ayo mampir, ya?

MilkyCheese8

Haloo!
          Malam temen-temen...
          Untuk beberapa waktu ke depan (belum tahu sampai kapan), cerita Backharat ku unpub dulu yaa . Kalau kalian bertanya mengapa, ini karena mau ku revisi dulu, supaya alurnya lebih solid dari versi awal. Tentu ... akan memengaruhi jalan cerita, dan segala komponen di dalamnya, termasuk bagaimana endingnya. 
          
          Doain yaa semoga proses revisi ini berjalan lancar. Aku mohon maaf kalau ada yang mau maraton tapi belum sempet. Hope you guys understand . Just that's it. Good night 
          
          With love,
          Kiss muach ❤️

MilkyCheese8

Malam semua...
          Udah ketebak la yaa wkwkwk
          Ciz mulai megang akun wp pas udah libur kuliah. Sekarang udah libur minggu ke 2. 
          
          Btw, aku mau infoin, Letter ku tarik kembali ya. Kupikir lebih bagus kalau tulisan itu dipublish di medium. 
          
          Ntar kalau udah ku post di medium, ku infoin lagi nama akunnya. 
          
          Maacii, selamat malam 

MilkyCheese8

Aku kembali untuk tulisan baru!
          Bukan novel, tapi lebih kayak letter memoar. I just wanna write when people can feel it, and reflect on it. Ya aku tahu, walaupun tulisanku masih jauh sekali dari kata sempurna. Tapi yang kuharapkan, semoga tulisan yang ditulis dari hati, dapat tersampaikan juga ke hati yang lain. 
          
          Letter ini upnya beda kayak novel. Kalau novel itu kan konstan ya (walau aku ga konsisten ahaha), nah letter ini ga nentu. Jadi bisa dibuka kapan aja, dan ga terikat sama alur. Bacanya juga bisa lompat lompat sesuai judul.
          
          Btw... ada sekitar sebulan yang lalu, pas lagi nugas, aku tiba-tiba teringat scene Aharon naro bunga di padang tafga, di tempat dia nancap belati yang jadi tanda kuburan Flora. Di momen itu, aku tersentak, dan bertanya-tanya, kok bisa aku kepikiran dan merasa familiar pula pada sesuatu yang cuma semata mata berasal dari hayalan ku sendiri.
          
          Akhirnya aku menemukan jawabannya. Bahwa, aku teringat kembali, saat aku nulis adegan itu, aku benar-benar meresapinya, seolah aku sedang berada di dataran tafga juga–Semilir angin sejuk yang menderu deru, langit biru cerah bak hamparan samudra, lalu dataran hijau padang rumput yang ditumbuhi bunga-bunga liar dan sedikit pepohonan. Seolah aku hidup, dan itu nyata bukan khayalan. 
          
          Walau itu cerita masih berantakan, but finally aku berhasil hidup di dalamnya .