Apakah kamu pernah mendengar tentang Butterfly Effect?
Dalam ilmu sains dan meteorologi, istilah ini merujuk pada gagasan bahwa kepakan sayap kupu-kupu di satu belahan dunia dapat memicu badai di belahan dunia lainnya.
Namun, jika kita membawanya ke dalam ranah psikologi dan kehidupan sosial, konsep ini menjadi jauh lebih personal. Ia menjelaskan bahwa hidup kita tidak pernah benar-benar berjalan dalam garis lurus yang terisolasi. Sebaliknya, kita semua adalah bagian dari jaring raksasa yang saling tarik-menarik.
Misalnya, saat kita menyadari bahwa pasangan kita ternyata adalah kerabat dari seseorang di masa lalu kita, atau ketika sebuah tragedi mempertemukan dua orang asing melalui satu sahabat yang sama.
Secara psikologis, ini terjadi karena manusia cenderung bergerak dalam lingkaran sosial yang homogen. Kita bertemu dengan orang-orang yang memiliki frekuensi, minat, atau lingkungan yang serupa.
Tanpa kita sadari, setiap keputusan kecil yang kita ambi. Seperti memilih tempat nongkrong atau menerima sebuah perkenalan, adalah "kepakan sayap" yang sedang merajut benang takdir kita dengan orang lain.
Butterfly effect mengajarkan kita satu hal penting. tidak ada yang benar-benar kebetulan. Setiap tindakan kita, sekecil apa pun, memiliki resonansi. Kita mungkin tidak pernah tahu bahwa sapaan singkat kita hari ini atau keputusan kita untuk berhenti sejenak di jalan, bisa jadi sedang menyelamatkan atau mengubah garis hidup seseorang di luar sana.
Dunia ini tidak sempit karena ukurannya yang kecil, melainkan karena kita semua berbagi udara, ruang, dan rasa yang sama. Kita adalah rangkaian domino yang sedang menunggu giliran untuk saling menyentuh.