Ada luka yang menolak berdamai dengan waktu.
Alih-alih melunak dan memudar, ingatan itu justru tumbuh semakin tajam, tetap sanggup melukai meski tahun-tahun telah berlalu. Di saat ingatan-ingatan kecil meluruh layu ditelan hari, trauma menetap sebagai gema yang menolak sunyi.
Secara psikologis, ini adalah cara otak menjaga kita melalui amigdalasebuah penanda bahwa ada sesuatu yang terlalu berharga atau berbahaya untuk dilupakan. Amigdala menyalakan suar, memberi tanda "penting" pada setiap perih, dan memaksa hipokampus menjaga setiap detailnya agar tak pernah tanggal.
Kita sering kali mengulangnya lagi dan lagi dalam narasi batin yang sunyi. Lewat proses rekonsolidasi, luka itu tidak lagi sekadar memori, tapi menjadi semakin presisi seiring waktu mengasahnya menjadi belati yang siap menikam di saat tak terduga. Dunia mungkin memaksa kita melangkah seolah waktu adalah obat bagi segala lara. Namun pada kenyataannya, waktu ternyata tidak mampu menyembuhkan luka, ia hanya memberi kita ruang yang lebih luas untuk bernapas di sela-sela rasa sakit itu.
Ingatan itu sebenarnya tidak meminta untuk disembuhkan secara paksa. Ia hanya ingin kau kenali, kau peluk, dan kau terima keberadaannya. Sebab pada akhirnya, saat jemarimu berhenti mengepal untuk melawan, di sanalah ingatan itu akan berhenti memberikan tikaman. Ia akan tetap di sana, tajam namun tak lagi melukai, menjadi kompas yang menunjukkan arah, bukan lagi beban yang harus kau benci.