Pear51

Tolong bersabar sedikit lagi ya , Bu, Pak... 
          	Aku akan berusaha lebih keras lagi.. 
          	Karena tujuan hidupku adalah melihat kalian bahagia... 

Pear51

​Pernah gak terlintas di benakmu hal seperti ini... 
          Jika dulu aku memilih jalan ke arah yang berbeda, akan menjadi sosok seperti apa aku hari ini? Di mana aku akan berdiri, dan apakah hidupku akan terasa lebih ringan atau justru lebih berat?
          
          ​Otak manusia memang sering kali menjebak kita dalam konsep kemungkinan 'bagaimana jika?'. Namun kenyataannya, hidup sering kali hanya memberi kita satu kesempatan untuk memilih. Dan di saat pilihan itu jatuh, di sanalah takdirmu mulai terbentuk. 
          
          ​Ingatlah...
          
          ​ Takdir adalah pilihan dari kata 'ya' dan 'tidak' yang kita ucapkan setiap hari. Jika hari ini kamu bertanya, 'Bagaimana jika dulu aku memilih itu?', ingatlah bahwa versi dirimu yang di 'sana' pun mungkin sedang menanyakan hal yang sama tentang hidup yang kamu jalani sekarang.
          
          -Ketika kamu memilih, maka terbentuklah takdir-
          

Pear51

Ada kalanya perasaan begitu egois menguasai diri.
          Mematikan logika hingga fakta yang terpampang nyata pun seolah tak terlihat.
          
           Kita memilih untuk membutakan diri sendiri
           demi menjaga sebuah harapan.
          sengaja menutup mata meski hati terus-menerus diremehkan. 
          
          itu bukan lagi optimisme,
          itu adalah pengabaian diri sendiri.
          
          pada dasarnya logika melihat apa yang terjadi sekarang, tapi perasaan melihat apa yang kita inginkan terjadi nanti.
          
          Berpikir positif akhirnya hanya menjadi tameng untuk menutupi rasa sakit yang kian menganga.
          
          sebuah upaya sia-sia untuk mencintai bayangan yang kita ciptakan sendiri. 
          di saat realita sudah lama berteriak minta diperhatikan. 
          
          

Pear51

Sebagian orang menikah karena cinta, sebagiannya lagi menikah karena tuntutan umur, tuntutan keluarga/orang tua, tuntutan lingkungan/tekanan sosial seperti pertanyaan "kapan nikah?"
          
          ​Padahal setiap orang punya 'garis waktu' dan alasannya masing-masing. Menikah di usia 30 ke atas bukan berarti 'terlambat', dan menikah di usia 21 bukan berarti terlalu cepat.
          
          ​Pernikahan bukan sebuah perlombaan lari di mana ada garis finish yang sama bagi semua orang. Pernikahan lebih seperti perjalanan pribadi, yang terpenting bukan seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa siap dan sadar kita saat memutuskan untuk melangkah ke sana.
          
          Lagipula, jodoh itu rahasia Tuhan, dan itu diluar kendali manusia.. 

Pear51

Mulai sekarang aku melepaskan semua bebanku. Aku melepaskan tanggung jawab atas tindakan orang lain.
          
           Beban itu bukan milikku untuk dipikul, dan hari ini aku meletakkan beban itu selamanya.
          
          Apa yang terjadi di masa lalu, itu bukan salahku. Masa laluku tidak lagi memiliki hak suara atas kebahagiaanku hari ini. 
          
          Tidak ada satu bagian pun dari diriku yang pantas disakiti, dan aku berhenti menghukum diriku sendiri hari ini.
          
          Tubuhku adalah rumahku, dan aku berhak merasa aman di dalamnya. Aku layak mendapatkan ketenangan. 
          
          Aku mengizinkan diriku untuk sembuh dengan kecepatanku sendiri. Aku berharga, aku kuat, dan aku utuh
          
          

Pear51

​Ada luka yang menolak berdamai dengan waktu. 
          Alih-alih melunak dan memudar, ingatan itu justru tumbuh semakin tajam, tetap sanggup melukai meski tahun-tahun telah berlalu. Di saat ingatan-ingatan kecil meluruh layu ditelan hari, trauma menetap sebagai gema yang menolak sunyi.
          
          ​Secara psikologis, ini adalah cara otak menjaga kita melalui amigdalasebuah penanda bahwa ada sesuatu yang terlalu berharga atau berbahaya untuk dilupakan. Amigdala menyalakan suar, memberi tanda "penting" pada setiap perih, dan memaksa hipokampus menjaga setiap detailnya agar tak pernah tanggal.
          
          ​Kita sering kali mengulangnya lagi dan lagi dalam narasi batin yang sunyi. Lewat proses rekonsolidasi, luka itu tidak lagi sekadar memori, tapi menjadi semakin presisi seiring waktu mengasahnya menjadi belati yang siap menikam di saat tak terduga. Dunia mungkin memaksa kita melangkah seolah waktu adalah obat bagi segala lara. Namun pada kenyataannya, waktu ternyata tidak mampu menyembuhkan luka, ia hanya memberi kita ruang yang lebih luas untuk bernapas di sela-sela rasa sakit itu.
          
          ​Ingatan itu sebenarnya tidak meminta untuk disembuhkan secara paksa. Ia hanya ingin kau kenali, kau peluk, dan kau terima keberadaannya. Sebab pada akhirnya, saat jemarimu berhenti mengepal untuk melawan, di sanalah ingatan itu akan berhenti memberikan tikaman. Ia akan tetap di sana, tajam namun tak lagi melukai, menjadi kompas yang menunjukkan arah, bukan lagi beban yang harus kau benci.