Purpleblink28

this message may be offensive
 Daluna Lessen kembali! 
          	
          	Setelah cukup lama vakum, Kill Desire akhirnya update lagi! ✍️
          	
          	Pertarungan di atas Jembatan Teluk Kendari semakin memanas!
          	
          	_____________________
          	
          	Krak!
          	
          	“Astagaaa! Tanganku patah mi, setan!” jeritnya, suara naik turun antara panik dan nyeri. Pipa besi terlepas, memantul di aspal.
          	
          	Belum sempat ia jatuh penuh, satu orang lain dari geng Iblis menerjang dari sisi kanan. Rantai besi diayun sembarang.
          	
          	“MATI KAU, ANJING!”
          	
          	Refleks Evan keluar lebih cepat dari pikirannya.
          	
          	“Ya, micheosseo?”
          	
          	Ia memutar tubuh Luna sedikit ke belakang, lalu menaikkan siku.
          	
          	Duk.
          	
          	Siku itu menghantam rahang lawan kedua.
          	
          	“BAJINGAN!” erangnya, darah menetes dari mulut sebelum lututnya menghantam aspal.
          	
          	Dekapannya pada Luka semakin erat. 
          	
          	“Jangan lengah,” desis Evan, lengannya masih mengunci Luna. “Satu detik ceroboh, kau bisa mati.”
          	
          	 Lanjut baca kelanjutan aksinya di Kill Desire!
          	
          	https://www.wattpad.com/story/394894773?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=Purpleblink28
          	
          	

Purpleblink28

this message may be offensive
 Daluna Lessen kembali! 
          
          Setelah cukup lama vakum, Kill Desire akhirnya update lagi! ✍️
          
          Pertarungan di atas Jembatan Teluk Kendari semakin memanas!
          
          _____________________
          
          Krak!
          
          “Astagaaa! Tanganku patah mi, setan!” jeritnya, suara naik turun antara panik dan nyeri. Pipa besi terlepas, memantul di aspal.
          
          Belum sempat ia jatuh penuh, satu orang lain dari geng Iblis menerjang dari sisi kanan. Rantai besi diayun sembarang.
          
          “MATI KAU, ANJING!”
          
          Refleks Evan keluar lebih cepat dari pikirannya.
          
          “Ya, micheosseo?”
          
          Ia memutar tubuh Luna sedikit ke belakang, lalu menaikkan siku.
          
          Duk.
          
          Siku itu menghantam rahang lawan kedua.
          
          “BAJINGAN!” erangnya, darah menetes dari mulut sebelum lututnya menghantam aspal.
          
          Dekapannya pada Luka semakin erat. 
          
          “Jangan lengah,” desis Evan, lengannya masih mengunci Luna. “Satu detik ceroboh, kau bisa mati.”
          
           Lanjut baca kelanjutan aksinya di Kill Desire!
          
          https://www.wattpad.com/story/394894773?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=Purpleblink28
          
          

Purpleblink28

this message may be offensive
 Daluna Lessen kembali! 
          
          Setelah cukup lama vakum, Kill Desire akhirnya update lagi! ✍️
          
          Pertarungan di atas Jembatan Teluk Kendari semakin memanas!
          
          _____________________
          
          Krak!
          
          “Astagaaa! Tanganku patah mi, setan!” jeritnya, suara naik turun antara panik dan nyeri. Pipa besi terlepas, memantul di aspal.
          
          Belum sempat ia jatuh penuh, satu orang lain dari geng Iblis menerjang dari sisi kanan. Rantai besi diayun sembarang.
          
          “MATI KAU, ANJING!”
          
          Refleks Evan keluar lebih cepat dari pikirannya.
          
          “Ya, micheosseo?”
          
          Ia memutar tubuh Luna sedikit ke belakang, lalu menaikkan siku.
          
          Duk.
          
          Siku itu menghantam rahang lawan kedua.
          
          “BAJINGAN!” erangnya, darah menetes dari mulut sebelum lututnya menghantam aspal.
          
          Dekapannya pada Luka semakin erat. 
          
          “Jangan lengah,” desis Evan, lengannya masih mengunci Luna. “Satu detik ceroboh, kau bisa mati.”
          
           Lanjut baca kelanjutan aksinya di Kill Desire!
          
          https://www.wattpad.com/story/394894773?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=Purpleblink28
          
          

Purpleblink28

Azelif tidak pernah mengira dirinya akan kalah.
          
          Apalagi dengan ciptaannya sendiri.
          
          ____________________________________
          
          "Ahahaha ... " tawa pahit keluar dari bibir Azelif. "Sialan ... "
          
          Yang terbaring di sana bukanlah Himi yang sesungguhnya. Yang asli sudah tidak ada lagi di tempatnya.
          
          Mata Zero perlahan membuka. Dia menoleh, lalu menatap lurus ke arah Azelif. Kedua pandangan itu bertemu, tanpa perlu kata-kata. Pesan diam terkirim dengan jelas: Maaf ya Lif, sayangnya ciptaanmu ternyata bisa melampaui harapanmu. Dan kali ini, posisiku menang mutlak.
          
          Read My Pretty Doll
          
          https://www.wattpad.com/story/394269867?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=Purpleblink28
          
          

Purpleblink28

Jangan minta kebebasan dari cintaku, cinta bagiku berarti mengontrol seluruh hidupmu. [Azelif Ahirullah]
          
          ____________________________________
          
          Langkah kaki mendekat. Pintu terbuka, Robito_03 masuk sambil membawa tablet transparan berisi data.
          
          “Ada laporan penting, Tuan.”
          
          “Tunjukkan.”
          
          Layar menampilkan rekaman Himi yang sakit, dibawa ke rumah sakit, lalu catatan medis dengan satu keterangan jelas: Status: Hamil, usia kandungan sekitar empat minggu.
          
          “Data sah?” tanya Azelif datar.
          
          “Sudah dikonfirmasi dua kali.”
          
          Empat minggu yang lalu, malam di vila itu … terlintas di pikirannya.
          
          “Anakku … ” bisiknya.
          
          Ia tersenyum lebar, lalu bergumam pelan: “Himi … mulai sekarang, kamu beneran nggak punya alasan lagi buat pergi dariku.”
          
          Ucapan itu bukan cinta, melainkan pernyataan kepemilikan mutlak. Segalanya kini berubah, termasuk arah seluruh rencananya.
          
          Read — My Pretty Doll
          
          https://www.wattpad.com/story/394269867?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=Purpleblink28
          
          

Purpleblink28

“Aaaaaarggh—!!”
          
          Suara itu melenggang panjang, tidak sempurna keluar namun terdengar cukup manusiawi hingga rasanya keliru didengar di tempat ini.
          
          “Sakit—lepaskan!”
          
          Tangannya berusaha meronta dan bergerak menjauh namun rantai logam itu menahannya mati-matian.
          
          Sistemnya kelebihan muatan parah, identitas data bertabrakan hebat satu sama lain, dan tanggapan emosional buatan yang tadinya mati perlahan naik mendominasi segalanya.
          
          “KENAPA?!”
          
          Suaranya pecah sekali lagi, kali ini lebih keras dan terdengar seperti protes panjang.
          
          “Kenapa aku harus diciptakan dan merasakan hal menyiksa seperti ini ?!”
          
          Azelif menatap Zero lama sekali tanpa berkedip. Ekspresi wajahnya tidak berubah sedikitpun namun jauh di balik sorot matanya yang dingin, ada sesuatu yang bergerak cepat, teratur, jauh lebih berbahaya dari siksaan apa pun yang baru saja ia lakukan.
          
          “Karena … ”
          
          Ia kembali melangkah maju semakin dekat hingga ujung hidung mereka hampir saling bersentuhan. Wajah mereka kini berada sejajar dan sama persis satu sama lain.
          
          “ … kamu nggak lagi sekadar mesin mati yang patuh.”
          
          Ia berhenti berbicara selama tiga detik, menatap pergerakan cahaya di bola mata buatan itu.
          
          “ … tapi kamu juga belum berhak disebut manusia yang nyata.”
          
          Senyumnya kembali mekar lebih lebar.
          
          “Dan selama kamu berada di antara keduanya … selama kamu masih membawa wajah milik Himiku … maka akulah yang pegang kendali atas rasa sakitmu, keberadaanmu, dan kapan kamu boleh hancur.”
          
          Read — My Pretty Doll
          
          https://www.wattpad.com/story/394269867?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=Purpleblink28
          
          

Purpleblink28

Karena cinta ... bukan sesuatu yang bisa didefinisikan dengan sederhana.
          
          Dan bagi Ran, obsesi bukanlah hal yang menakutkan.
          ____________________________________
          
          Aku menatap pintu ruang tindakan.
          
          “Dia berbeda … ” Lalu aku kembali menoleh pada Sajangnim. “Jika Sajangnim bilang dia berbahaya … ”
          
          Aku menarik napas lagi.
          
          “ … aku mungkin menyukai bahaya itu.”
          
          Benar. Asal itu Seunghee
          
          Sajangnim tidak memotong ucapanku. 
          
          “Jika cintanya itu memang disebut obsesi … kalau itu yang orang sebut gila … aku menerimanya.”
          
          Dadaku masih terasa berat, tapi kata-kataku keluar dengan sangat jelas.
          
          “Karena bagiku … ”
          
          Aku mengangkat pandanganku, menatap lurus ke arahnya.
          
          “ … obsesi berarti tidak akan pernah berbagi.” Tatapanku melirik ruangan Seunghee. “Dan tidak berbagi … ” Aku diam sebentar, membiarkan maknanya meresap. “ … itu adalah titik tertinggi dari mencintai.”
          
          [Read Numbness]
          
          https://www.wattpad.com/story/404637976?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=Purpleblink28
          
          

Purpleblink28

Mengontrol dunia. Mengontrol cinta.
          
          Tapi Azelif … kau lupa satu hal.
          “Dunia dan cinta tidak selalu patuh. Kadang … mereka melawan.“
          ________________________________________________
          
          
          “Sekarang … ” Ia menatap lurus ke inti sistem Robito_01. “ … kau harus lebih ingat.”
          
          Sunyi.
          
          Namun kali ini sunyi itu retak. Jelas saja, karena Robito_01 berbicara.
          
          “Tuan.”
          
          Satu kata. Cukup untuk membuat beberapa unit lain mengunci sistemnya. 
          
          [Mode waspada aktif.]
          
          Ini bukan protokol biasa. Ini pelanggaran.
          
          Azelif belum berbalik. Namun langkahnya terhenti. Perlahan ia menoleh. Tidak cepat. Tidak terlihat marah. Justru terlalu tenang.
          
          “Apa?”
          
          Satu kata. Pendek. Namun cukup untuk membuat seluruh ruangan terasa menyempit. Suhu udara seakan turun drastis.
          
          Robito_01 tetap berdiri. Lengan kanannya hilang. Namun posturnya masih tegak. Sempurna.
          
          “Apakah Tuan … ” Jeda selama 2 detik. “ … tahu rasanya berada di antara hidup dan mati?”
          
          Seluruh ruangan membeku. Benar-benar membeku.
          
          Dan dalam sekejap Azelif sudah berada tepat di hadapannya. Gerakan cepat. Sangat cepat. 
          
          Tangannya langsung mencengkeram leher mekanik Robito_01 dengan kuat. Mengangkat tubuh itu sedikit hingga ujung kaki mekaniknya tidak menyentuh lantai.
          
          “Berani.”
          
          Nada suaranya tetap rendah. Namun kali ini ada sesuatu di dalamnya. Bukan emosi. Lebih seperti peringatan sistem level merah.
          
          “Bicara lagi … ” Jari-jarinya menekan lebih kuat pada titik sambungan. Sistem Robito_01 langsung memberi sinyal tekanan. “ … kepalamu yang bakalan aku pisahin.”
          
          Read — My Pretty Doll
          
          https://www.wattpad.com/story/394269867?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=Purpleblink28

Purpleblink28

Dia melakukan semuanya dengan benar.
          Tapi aku tetap tidak bisa merasakan apa yang dia mau. (Caring Ran) 
          
          “Dokter bilang! Dokter bilang kalau aku bersikap baik—” Tangannya menunjuk ke arahku dengan kasar. “—kalau aku bikin kamu nyaman, kalau aku ada terus di samping kamu—”
          
          Napasnya memburu cepat.
          
          “—kamu bakal mulai merasa! Kamu bakal balik lagi!”
          
          “Kalau kamu marah atau keberatan, berhenti saja. Tidak ada yang memaksa.”
          
          “Apa?”
          
          “Aku bukan tanggung jawabmu. Aku bukan beban yang harus kamu pikul.”
          
          BUK!
          
          Tangannya membanting setir lagi.
          
          “YA!”
          
          Dia menoleh tajam ke arahku, wajahnya kini kembali dekat, jarak tinggal beberapa senti saja.
          
          “Neo jigeum geuge mal-i dwae?!”
          
          (Itu masuk akal bagimu?! Bisa berpikir sedikit nggak kamu?!)
          
          Aku tidak menjawab. Hanya menatapnya.
          
          Dia menunjuk dadanya sendiri dengan jari telunjuknya, menekan kuat.
          
          “Naega han ge eolmana manheunji ara?!”
          
          (Kamu tahu nggak sih berapa banyak yang udah kulakukan? Berapa besar usahaku?!)
          
          “Aku tidak memintanya,” ulangku lagi.
          
          Seunghee menggeleng keras, seolah ingin mengeluarkan sesuatu dari otaknya.
          
          “Aish … jinjja michigetda … ”
          
          (Sumpah … aku bisa benar-benar gila.)
          
          Tangannya bergerak kasar meraba dan menarik-narik rambutnya sendiri yang sedikit berantakan. Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri tapi gagal total.
          
          Lalu dia menatapku lagi, matanya masih basah.
          
          “Aku melakukan semua ini karena aku peduli! Karena aku sayang kamu!”
          
          “Aku tidak membutuhkan itu.”
          
          Kalimat itu keluar begitu saja.
          
          
          Karena ... 
          
          Cinta yang dipaksa tetap bukan cinta.
          
          Read "Numbness" 
          
          https://www.wattpad.com/story/404637976?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=Purpleblink28

Purpleblink28

Apa jadinya kalau robot mulai merasa?
          Dan apa jadinya … kalau manusia bahkan tidak menyadari perbedaan itu?
          
          
          “Aku produk gagal.”
          
          Sunyi. Angin bergerak. Daun mangga bergesek pelan. Namun di antara mereka tidak ada yang ringan.
          
          Robito_01 memproses. Tidak langsung menjawab. Data dibandingkan. Model lama. Model baru. Perilaku. Respons.
          
          Dan hasilnya tidak sesuai kategori mana pun.
          
          “Kau tidak gagal.” Jawabannya akhirnya keluar. Tenang. Presisi. “Kau berkembang.”
          
          Zero tidak langsung bereaksi. Namun sesuatu di matanya berubah. Tipis. Hampir tidak terlihat.
          
          “Aku gagal.” Nada suaranya tetap tenang. Namun lebih dalam. Lebih berat.
          
          “Aku robot … ” Ia berhenti seolah memilih kata. “ … tapi merasakan emosi.”
          
          Angin berhenti. Atau mungkin hanya terasa seperti itu.
          
          “Aku … ” Jeda kecil. “ … antara hidup.”
          
          Tatapannya turun sedikit. “ … dan mati.”
          
          Lalu kembali naik. “ … antara ada … ”
          
          Sunyi.
          
          “ … dan tiada.”
          
          
          Read "My pretty doll"
          
          https://www.wattpad.com/story/394269867?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=Purpleblink28