Purpleblink28

Karena cinta ... bukan sesuatu yang bisa didefinisikan dengan sederhana.
          	
          	Dan bagi Ran, obsesi bukanlah hal yang menakutkan.
          	____________________________________
          	
          	Aku menatap pintu ruang tindakan.
          	
          	“Dia berbeda … ” Lalu aku kembali menoleh pada Sajangnim. “Jika Sajangnim bilang dia berbahaya … ”
          	
          	Aku menarik napas lagi.
          	
          	“ … aku mungkin menyukai bahaya itu.”
          	
          	Benar. Asal itu Seunghee
          	
          	Sajangnim tidak memotong ucapanku. 
          	
          	“Jika cintanya itu memang disebut obsesi … kalau itu yang orang sebut gila … aku menerimanya.”
          	
          	Dadaku masih terasa berat, tapi kata-kataku keluar dengan sangat jelas.
          	
          	“Karena bagiku … ”
          	
          	Aku mengangkat pandanganku, menatap lurus ke arahnya.
          	
          	“ … obsesi berarti tidak akan pernah berbagi.” Tatapanku melirik ruangan Seunghee. “Dan tidak berbagi … ” Aku diam sebentar, membiarkan maknanya meresap. “ … itu adalah titik tertinggi dari mencintai.”
          	
          	[Read Numbness]
          	
          	https://www.wattpad.com/story/404637976?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=Purpleblink28
          	
          	

Dinavielle

Hai, izin promosi ya ฅ⁠^⁠•⁠ﻌ⁠•⁠^⁠ฅ
          
          Tertarik untuk vote dan follow? Nanti aku feedback 
          
          https://www.wattpad.com/story/411101729?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=Dinavielle

Purpleblink28

@ Dinavielle  Done yah, aku udah vote 7 bab, janlupa back. Arigato...
Reply

Rakzi_

Izin promosi ya kak (: 
          
          Kehidupan seekor kucing abu dengan aura mistis,gelang emas,kehilangan, kenangan dan rasa ingin melindungi muncul dalam hatinya.
          
          Melindungi yang baik dan menentang yang buruk.
          
          Hidup diantara malam abadi yang kejam padanya.
          
          Tapi itu baru ancaman kecil, ancaman lainnya bisa kalian temukan di :
          
          Rakzi : the golden night.
          
          https://www.wattpad.com/story/405105775?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=share_writing&wp_page=create&wp_uname=Rakzi_
          
          Dan petualangan yang sesungguhnya telah di mulai.
          
          
          Nantikan update seterusnya hingga akhir di sini.
          
          Selamat membaca kawan.

Purpleblink28

Karena cinta ... bukan sesuatu yang bisa didefinisikan dengan sederhana.
          
          Dan bagi Ran, obsesi bukanlah hal yang menakutkan.
          ____________________________________
          
          Aku menatap pintu ruang tindakan.
          
          “Dia berbeda … ” Lalu aku kembali menoleh pada Sajangnim. “Jika Sajangnim bilang dia berbahaya … ”
          
          Aku menarik napas lagi.
          
          “ … aku mungkin menyukai bahaya itu.”
          
          Benar. Asal itu Seunghee
          
          Sajangnim tidak memotong ucapanku. 
          
          “Jika cintanya itu memang disebut obsesi … kalau itu yang orang sebut gila … aku menerimanya.”
          
          Dadaku masih terasa berat, tapi kata-kataku keluar dengan sangat jelas.
          
          “Karena bagiku … ”
          
          Aku mengangkat pandanganku, menatap lurus ke arahnya.
          
          “ … obsesi berarti tidak akan pernah berbagi.” Tatapanku melirik ruangan Seunghee. “Dan tidak berbagi … ” Aku diam sebentar, membiarkan maknanya meresap. “ … itu adalah titik tertinggi dari mencintai.”
          
          [Read Numbness]
          
          https://www.wattpad.com/story/404637976?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=Purpleblink28
          
          

Purpleblink28

Mengontrol dunia. Mengontrol cinta.
          
          Tapi Azelif … kau lupa satu hal.
          “Dunia dan cinta tidak selalu patuh. Kadang … mereka melawan.“
          ________________________________________________
          
          
          “Sekarang … ” Ia menatap lurus ke inti sistem Robito_01. “ … kau harus lebih ingat.”
          
          Sunyi.
          
          Namun kali ini sunyi itu retak. Jelas saja, karena Robito_01 berbicara.
          
          “Tuan.”
          
          Satu kata. Cukup untuk membuat beberapa unit lain mengunci sistemnya. 
          
          [Mode waspada aktif.]
          
          Ini bukan protokol biasa. Ini pelanggaran.
          
          Azelif belum berbalik. Namun langkahnya terhenti. Perlahan ia menoleh. Tidak cepat. Tidak terlihat marah. Justru terlalu tenang.
          
          “Apa?”
          
          Satu kata. Pendek. Namun cukup untuk membuat seluruh ruangan terasa menyempit. Suhu udara seakan turun drastis.
          
          Robito_01 tetap berdiri. Lengan kanannya hilang. Namun posturnya masih tegak. Sempurna.
          
          “Apakah Tuan … ” Jeda selama 2 detik. “ … tahu rasanya berada di antara hidup dan mati?”
          
          Seluruh ruangan membeku. Benar-benar membeku.
          
          Dan dalam sekejap Azelif sudah berada tepat di hadapannya. Gerakan cepat. Sangat cepat. 
          
          Tangannya langsung mencengkeram leher mekanik Robito_01 dengan kuat. Mengangkat tubuh itu sedikit hingga ujung kaki mekaniknya tidak menyentuh lantai.
          
          “Berani.”
          
          Nada suaranya tetap rendah. Namun kali ini ada sesuatu di dalamnya. Bukan emosi. Lebih seperti peringatan sistem level merah.
          
          “Bicara lagi … ” Jari-jarinya menekan lebih kuat pada titik sambungan. Sistem Robito_01 langsung memberi sinyal tekanan. “ … kepalamu yang bakalan aku pisahin.”
          
          Read — My Pretty Doll
          
          https://www.wattpad.com/story/394269867?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=Purpleblink28

Purpleblink28

Dia melakukan semuanya dengan benar.
          Tapi aku tetap tidak bisa merasakan apa yang dia mau. (Caring Ran) 
          
          “Dokter bilang! Dokter bilang kalau aku bersikap baik—” Tangannya menunjuk ke arahku dengan kasar. “—kalau aku bikin kamu nyaman, kalau aku ada terus di samping kamu—”
          
          Napasnya memburu cepat.
          
          “—kamu bakal mulai merasa! Kamu bakal balik lagi!”
          
          “Kalau kamu marah atau keberatan, berhenti saja. Tidak ada yang memaksa.”
          
          “Apa?”
          
          “Aku bukan tanggung jawabmu. Aku bukan beban yang harus kamu pikul.”
          
          BUK!
          
          Tangannya membanting setir lagi.
          
          “YA!”
          
          Dia menoleh tajam ke arahku, wajahnya kini kembali dekat, jarak tinggal beberapa senti saja.
          
          “Neo jigeum geuge mal-i dwae?!”
          
          (Itu masuk akal bagimu?! Bisa berpikir sedikit nggak kamu?!)
          
          Aku tidak menjawab. Hanya menatapnya.
          
          Dia menunjuk dadanya sendiri dengan jari telunjuknya, menekan kuat.
          
          “Naega han ge eolmana manheunji ara?!”
          
          (Kamu tahu nggak sih berapa banyak yang udah kulakukan? Berapa besar usahaku?!)
          
          “Aku tidak memintanya,” ulangku lagi.
          
          Seunghee menggeleng keras, seolah ingin mengeluarkan sesuatu dari otaknya.
          
          “Aish … jinjja michigetda … ”
          
          (Sumpah … aku bisa benar-benar gila.)
          
          Tangannya bergerak kasar meraba dan menarik-narik rambutnya sendiri yang sedikit berantakan. Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri tapi gagal total.
          
          Lalu dia menatapku lagi, matanya masih basah.
          
          “Aku melakukan semua ini karena aku peduli! Karena aku sayang kamu!”
          
          “Aku tidak membutuhkan itu.”
          
          Kalimat itu keluar begitu saja.
          
          
          Karena ... 
          
          Cinta yang dipaksa tetap bukan cinta.
          
          Read "Numbness" 
          
          https://www.wattpad.com/story/404637976?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=Purpleblink28

Purpleblink28

Apa jadinya kalau robot mulai merasa?
          Dan apa jadinya … kalau manusia bahkan tidak menyadari perbedaan itu?
          
          
          “Aku produk gagal.”
          
          Sunyi. Angin bergerak. Daun mangga bergesek pelan. Namun di antara mereka tidak ada yang ringan.
          
          Robito_01 memproses. Tidak langsung menjawab. Data dibandingkan. Model lama. Model baru. Perilaku. Respons.
          
          Dan hasilnya tidak sesuai kategori mana pun.
          
          “Kau tidak gagal.” Jawabannya akhirnya keluar. Tenang. Presisi. “Kau berkembang.”
          
          Zero tidak langsung bereaksi. Namun sesuatu di matanya berubah. Tipis. Hampir tidak terlihat.
          
          “Aku gagal.” Nada suaranya tetap tenang. Namun lebih dalam. Lebih berat.
          
          “Aku robot … ” Ia berhenti seolah memilih kata. “ … tapi merasakan emosi.”
          
          Angin berhenti. Atau mungkin hanya terasa seperti itu.
          
          “Aku … ” Jeda kecil. “ … antara hidup.”
          
          Tatapannya turun sedikit. “ … dan mati.”
          
          Lalu kembali naik. “ … antara ada … ”
          
          Sunyi.
          
          “ … dan tiada.”
          
          
          Read "My pretty doll"
          
          https://www.wattpad.com/story/394269867?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=Purpleblink28