Rafliisme

"Bang, misalnya nih ya. Kalau ada cewek chindo fine shyt tiba tiba di jodohin sama Abang. Abang bakal gimana?"
          	
          	"Eeee... bangun dari tidur? Terus bilang, 'njir cuman mimpi'."
          	
          	

Rafliisme

Aku menyerah. Menulis sci-fi yang benar benar baru itu mustahil untuk satu orang. 
          
          Kalau aku paksa, nanti tulisanku tidak punya isi atau makna. Isinya hanya pamer ide/teori-teori alien. 
          
          Kalau begini, mending sekalian aja nulis all tomorrow versiku sendiri 

Rafliisme

Tunggu sebentar. Bukan kah ini sudah terjadi? Peradaban manusia di eurasia dan Amerika Selatan itu terpisah selama ribuan tahun. Tidak ada interaksi selama itu tapi kedua peradaban yang terpisah mengembangkan hal yang sama atau setidaknya mirip. seperti sistem politik, pegang (bedanya Aztec tidak pakai logam, yah kalau obsidian) dan juga sama sama mengambangkan huruf.

Rafliisme

Atau mungkin para alien mengalami perkembangan teknologi yang konvergen dengan kita? 
          
          Seperti burung dan kelelawar. Keduanya tidak berkerabat dan terpisah secara evolusi selama puluhan atau ratusan juta tahun. Tapi bersama mereka mengembangkan organ tubuh dengan fungsi yang sama. 
          
          Apakah ini juga mungkin berlaku dalam hal teknologi, ilmu pengetahuan dan cara berperang?  

Rafliisme

Aku liat banyak film alien yang rasanya realistis. 
          
          Tapi otak militerku menolak semua itu. Para alien digambarkan memiliki senjata yang secara konsep atau setidaknya cara pakainya sama dengan senjata api di dunia kita. Senapan, sniper, meriam dan senjata berbasis mesiu Lainnya. 
          
          Orang bilang itu bagus dan yang bermasalah hanyalah desainnya yang keliatan buruk. Tapi buatku, ttu semua terasa aneh. Mau bagaimanapun Alien memiliki morfologi tubuh, lingkungan dan juga hidup di planet yang berbeda dengan kita. Aku melihat bahwa tidak ada keharusan untuk para alien untuk menggunakan "senapan" atau "pistol". Entah itu dalam bentuk senjata bermesiu, laser atau rail gun. 
          
          Evolusi konvergen? Yang benar saja

Rafliisme

Perjuangan separatisme bersenjata itu hanya masuk akal di masa lalu ketika kontrol negara masih lemah. Namun dalam konteks negara modern, khususnya Indonesia hari ini, aku menganggap separatisme bersenjata telah kehilangan rasionalitasnya, baik secara moral, strategis, maupun ekonomi.
          
          Satu pucuk senapan dengan 7 magazine yang masing masing berisi 30 butir peluru itu bisa setara dengan harga sepeda motor. Itu baru kebutuhan untuk satu orang untuk satu kali tempur. Coba bayangkan jika gerakan separatis punya ratusan atau ribuan senjata. Tentu uang yang diperlukan bisa sampai miliaran untuk satu kali pertempuran singkat. Uang sebesar itu tidak menghasilkan kesejahteraan, tidak menciptakan kestabilan dan justru meningkatkan represi aparat dan menghancurkan infrastruktur serta masa depan masyarakat yang diklaim sedang “diperjuangkan”.
          
          Uang sebanyak itu, daripada dipakai untuk memulai pertempuran jauh lebih baik jika digunakan untuk ikut Pilkada atau membuat yayasan atau LSM yang tujuannya untuk memajukan daerah. 
          
          Mungkin. Para separatis itu siap menderita dan siap mati.
          
          Tapi rakyat yang mereka perjuangkan belum tentu demikian. Mereka bisa saja berteriak ingin merdeka, tetapi yang sebenarnya mereka inginkan adalah hari esok yang lebih baik dari hari kemarin.
          
          Ketika konflik bersenjata dimulai, pabrik ditutup, investor pergi, dan wisatawan enggan datang. Rakyat memang membutuhkan otonomi dan kebebasan, tetapi ada hal yang lebih mendasar dari semua itu: pekerjaan dan makanan.
          
          Perjuangan bersenjata tidak membawa kesejahteraan. Ia hanya menggantikan ketidakadilan lama dengan kelaparan baru, dan melahirkan pengangguran bermulut besar yang menenteng senapan 
          

Rafliisme

Pro pemerintah, pro oposisi. Itu cuman dikotomi palsu. Alat pemecah belah. 
          
          Kenapa seseorang menjadi pro pada suatu pihak? Padahal kebenaran tidak selalu dimiliki oleh satu pihak. Semua pihak bisa benar, semua pihak bisa salah. 
          
          Oposisi yang terdengar pro rakyat mungkin hanyalah orang orang populis, utopis. Atau lebih buruk, bisa jadi dia hanya oportunis. 
          
          Pemerintah bisa jadi hanya ingin melanjutkan kekorupan dan kekonyolan dengan dalih kestabilan. 
          
          Jadi daripada kita pro pada sesuatu. Lebih baik  kembangkan dulu logika logis, materialisme dan juga sikap kritis yang tidak sinis. 
          
          Karena dalam politik yang merusak bukanlah musuh yang jelas seperti asing, pemerintah atau oposisi. Yang merusak suatu negara adalah debat kusir, keyakinan fanatik dan juga rasa kebencian pada suatu pihak dengan buta 
          
          

Rafliisme

Aktivis ingin narasi korban demi tujuan 
          
          Massa ingin pelampiasan 
          
          Pejabat ingin melanjutkan kekonyolan dengan dalih kestabilan 
          
          Sedangkan aku hanya ingin teriak "KALIAN SEMUA BAJINGAN!" 
          
          
          
          
          Kalian harus berhenti merasa suci sementara kalian semua merusak dengan cara masing masing. 

Rafliisme

Sebuah senapan AK-47 yang terisi penuh bisa saja membunuh sampai 30 orang. Tapi dengan sesuatu yang disebut sebagai informasi, kita bisa membunuh lebih banyak orang dan bagian terbaik sekaligus yang terburuk. Pembunuhan itu bisa terjadi tanpa membuat tangan kita kotor. Dengan kata lain, orang lainlah yang akan melakukan pembunuhan untuk kita. 
          
          Dan sekarang, penyebaran informasi tidak lagi dimonopoli oleh media dan atau institusi negara. Sekarang informasi bisa dengan mudah dibuat dan disebarkan oleh setiap orang selama orang itu memiliki akses ke internet. Orang bisa membuat dan menyebarkan informasi tanpa verifikasi, tanpa tanggung jawab dan tanpa konsekuensi langsung. 
          
          Ironis ya. Senjata api jadi ilegal, tapi sesuatu yang lebih berbahaya dari sebuah senapan bisa dimiliki oleh setiap orang.