Rafliisme

Anjir lah, aku publish tulisan 21+ dari tahun 2024 yang aku revisi dikit. Ternyata lumayan rame. Padahal itu tulisan gabut+asal. 
          	
          	Sedangkan yang aku tulis sepenuh hati malah sepi. 

Rafliisme

@ Rafliisme  
Reply

kripik_kun

@ Rafliisme  pasar mengalahkan idealisme
Reply

Rafliisme

Anjir lah, aku publish tulisan 21+ dari tahun 2024 yang aku revisi dikit. Ternyata lumayan rame. Padahal itu tulisan gabut+asal. 
          
          Sedangkan yang aku tulis sepenuh hati malah sepi. 

Rafliisme

@ Rafliisme  
Reply

kripik_kun

@ Rafliisme  pasar mengalahkan idealisme
Reply

Rafliisme

Pemerintah buruk? Iya
          
          Tapi tidak hanya itu saudara. Oposisi kita juga punya kualitas yang tak kalah buruk. Tiap hari opininya hanya ijasah palsu, MBG, sawit dan meme meme minim konteks. Padahal kalau mereka mau buka mata dikit, hal hal yang bisa ditolak, dikritik, dikoreksi dan diluruskan itu luar biasa banyak. Tapi apalah, mereka terlalu payah hingga mencurahkan energi mereka untuk hal hal yang terlalu dangkal. 
          
          Aku tidak mau jadi buzzer gratisan pemerintah, tapi aku tidak sudi jadi oposisi jika seperti ini Jadinya. 
          
          Ah sudahlah. Apapun itu aku bangga jadi WNI (ini bukan satir, aku serius)

Rafliisme

Iran adalah bajingan, kau bisa mengatakannya dengan lebih keras. 
          
          Tapi jika kalian terus saja melakukan kerusakan di tanah Iran. Apa bedanya kalian  dengan Iran? 
          
          Kau bilang Iran layak hancur kan? Karena sekarang kau juga tak ada bedanya dengan mereka aku rasa kau juga layak hancur seperti Iran.

Rafliisme

Perjuangan separatisme bersenjata itu hanya masuk akal di masa lalu ketika kontrol negara masih lemah. Namun dalam konteks negara modern, khususnya Indonesia hari ini, aku menganggap separatisme bersenjata telah kehilangan rasionalitasnya, baik secara moral, strategis, maupun ekonomi.
          
          Satu pucuk senapan dengan 7 magazine yang masing masing berisi 30 butir peluru itu bisa setara dengan harga sepeda motor. Itu baru kebutuhan untuk satu orang untuk satu kali tempur. Coba bayangkan jika gerakan separatis punya ratusan atau ribuan senjata. Tentu uang yang diperlukan bisa sampai miliaran untuk satu kali pertempuran singkat. Uang sebesar itu tidak menghasilkan kesejahteraan, tidak menciptakan kestabilan dan justru meningkatkan represi aparat dan menghancurkan infrastruktur serta masa depan masyarakat yang diklaim sedang “diperjuangkan”.
          
          Uang sebanyak itu, daripada dipakai untuk memulai pertempuran jauh lebih baik jika digunakan untuk ikut Pilkada atau membuat yayasan atau LSM yang tujuannya untuk memajukan daerah. 
          
          Mungkin. Para separatis itu siap menderita dan siap mati.
          
          Tapi rakyat yang mereka perjuangkan belum tentu demikian. Mereka bisa saja berteriak ingin merdeka, tetapi yang sebenarnya mereka inginkan adalah hari esok yang lebih baik dari hari kemarin.
          
          Ketika konflik bersenjata dimulai, pabrik ditutup, investor pergi, dan wisatawan enggan datang. Rakyat memang membutuhkan otonomi dan kebebasan, tetapi ada hal yang lebih mendasar dari semua itu: pekerjaan dan makanan.
          
          Perjuangan bersenjata tidak membawa kesejahteraan. Ia hanya menggantikan ketidakadilan lama dengan kelaparan baru, dan melahirkan pengangguran bermulut besar yang menenteng senapan 
          

Rafliisme

Pro pemerintah, pro oposisi. Itu cuman dikotomi palsu. Alat pemecah belah. 
          
          Kenapa seseorang menjadi pro pada suatu pihak? Padahal kebenaran tidak selalu dimiliki oleh satu pihak. Semua pihak bisa benar, semua pihak bisa salah. 
          
          Oposisi yang terdengar pro rakyat mungkin hanyalah orang orang populis, utopis. Atau lebih buruk, bisa jadi dia hanya oportunis. 
          
          Pemerintah bisa jadi hanya ingin melanjutkan kekorupan dan kekonyolan dengan dalih kestabilan. 
          
          Jadi daripada kita pro pada sesuatu. Lebih baik  kembangkan dulu logika logis, materialisme dan juga sikap kritis yang tidak sinis. 
          
          Karena dalam politik yang merusak bukanlah musuh yang jelas seperti asing, pemerintah atau oposisi. Yang merusak suatu negara adalah debat kusir, keyakinan fanatik dan juga rasa kebencian pada suatu pihak dengan buta