Aku terbiasa merajut serpihan cahaya dengan apa yang ada, mencoba mengabadikan setiap kisah nyata.
namun satu pertanyaan membuatku tertegun lama, "bagaimana jika ia tidak ingin abadi dalam rajutan cahaya yang engkau buat?" pertanyaan itu melesat tepat di depan dada.
aku tidak tau harus menjawab apa.
"setiap orang ada masanya" kata mereka.
namun hati kecil ini terus menolak menerima kepergian mereka yang t'lah aku abadikan untuk sepanjang masa.
Bangsat.
tidak kah mereka berpikir bahwa ada seseorang di luar sana yang menunggu lanjutan maha karya luar biasa buatan mereka?
setiap karya mereka menjadi alasanku tetap mempertahankan warna di tengah hitam putihnya dunia.