Seorang peselingkuh tidak pernah benar-benar berubah. Mereka hidup dalam lingkaran overthinking dan ketidakamanan ekstrem. Selalu bermimpi tentang hubungan ideal—tentang pasangan “sempurna”—namun tetap memilih menyerah pada dorongan paling irasional.
Ironisnya, bahkan ketika mereka terlihat paling berpegang pada nilai dan moral, ketika penampilan dan ucapan seolah mencerminkan kesalehan… kenyataannya justru berbanding terbalik. Menyimpang saja sudah salah, tapi mengapa harus melukai sesama perempuan dalam prosesnya?
Kesimpulan ini akhirnya menjadi hipotesis pribadi.
Dan sampai sekarang, saya masih penasaran bagaimana cara mereka berpikir, hidup, dan membenarkan tindakan mereka sendiri.