@ KamaliaNafisah Terima kasih sarannya, Kak.
Aku kasih penjelasan kenapa Wasesa bisa sampai hb sama Serena? Karena Serena ini istimewa sebab dari dalam tubuhnya mengalir darah leluhur (dari Eyang Kakung (Raja pertama Kedhaton)(leluhur, bukan manusia)), itulah kenapa Serena bisa menyentuh Wasesa. Kalau Wasesa tidak bisa menyentuh Serena, tentu seperti generasi-generasi sebelumnya, hanya bisa berinteraksi melalui satu raga (Devan). Terkesan memiliki dua suami, iya, betul. Di generasi ini itulah letak perbedaannya. Kalau untuk Wasesa jarang keluar dari raga, tidak bisa aku ganti. Jika itu diganti, maka konsep keseluruhan bakal diganti, dan itu mempengaruhi keseluruhan alur cerita.
Lalu, untuk umur, aku memang menyelipkan di narasi/dialog, itulah kenapa aku bilang bacanya pelan-pelan. Kenapa tidak diberitahukan diawal-awal? Bagaimana ya, aku tu hanya mau memperlihatkan gambaran seperti apa pertumbuhan bayi yang setengah jiwanya itu bukan manusia, maka banyak sekali perbedaan dan terkesan sangat cepat pertumbuhannya (sewaktu kecil, Yasa lah yang mendominasi, seperti sudah bisa berbicara di usia ke-3 bulan. Aneh, memang.
Untuk penjelasan umur masih bisa aku akali. Dan balik lagi ke konsep awal, satu raga dengan dua jiwa (jiwa satunya bagian dari leluhur yang mana itu sudah keturunan dari leluhur, Eyang Putri, bukan manusia) Tentu akan berbeda kalau dibuat anak kembar, itu bukan konsepnya. Ini memang aneh sekali, memang. Tidak masuk akal, iya. Jika dibuat Raden tahu ada jiwa lain dalam dirinya di usia 17 tahun, maka akan timbul konflik di sana, sedangkan sedari awal pengetahuan untuk pelaksanaan ritual, Raden Yasa sudah harus mengetahui itu, karena apa? Kedhaton butuh perempuan yang nantinya terpilih, untuk mendapatkan itu, timbal baliknya tentu sangat memuliakan sang calon pengantin.
Begitulah kira-kira ya, Kak.