"Bantu Mahasiswa Korban Kekerasan Berbasis Identitas Gender dari Keluarga"
Kawan-kawan,
Atas nama Ragam Berdaya Indonesia, saat ini kami sedang mendampingi seorang remaja berusia 19 tahun, mahasiswa semester 1 Jurusan Ilmu Politik di kampus Islam Negeri wilayah Jabodetabek. Remaja tersebut menjadi korban kekerasan berbasis identitas seksual oleh kedua orang tuanya.
Korban telah terbuka mengenai identitas seksualnya sebagai gay sejak duduk di bangku SMP.
Namun keterbukaan tersebut justru berujung pada kemarahan, pemukulan, pengusiran dari rumah, serta pemutusan akses sumber daya, termasuk pemutusan biaya kuliah dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Korban kemudian melapor ke Komnas HAM, dan melalui proses pendampingan tersebut ia terhubung dengan shelter.
Latar Belakang Keluarga
Korban adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak dan adiknya merupakan penyandang disabilitas (autisme). Kondisi ini membuat orang tua menaruh harapan besar pada korban sebagai anak yang dianggap “normal”.
Namun, harapan tersebut tidak sejalan dengan kenyataan. Ditambah dengan pemahaman agama yang kaku dari orang tua, penolakan terhadap identitas seksual korban berubah menjadi konflik yang sangat keras.
Di sisi lain, korban memiliki keyakinan kuat bahwa identitasnya sebagai gay bukanlah kesalahan atau dosa. Ia adalah anak yang cerdas, banyak membaca, dan cukup percaya diri dalam memahami identitas dirinya.
Perbedaan pandangan inilah yang memperuncing konflik dalam keluarga.