Hai sudah lama tidak cerita, hari ini aku mau cerita tentang ayahku. Ayahku bukan ayah yang baik, bahkan mungkin tidak bisa di panggil orang tua. Tapi entah kenapa aku tidak pernah benar-benar membencinya, aku ingin sekali membunuhnya tapi selalu ada tangisan yang menghentikan semuanya. Dari dulu dia bukan orang baik, bahkan dia lebih menyayangi ponakan laki-laki yang laki-laki dibanding aku anak perempuannya. Aku harus mendapatkan nilai yang bagus hanya untuk mendapatkan sepeda yang ku inginkan sedang ponakannya itu dia belikan sepeda yang tak jauh berbeda tanpa harus usaha apapun. Saat dia jatuh sakit dan akhirnya kami bangkrut, ingin sekali aku membunuh keluargaku dan diriku sendiri saat itu. Mungkin kematian lebih mudah di banding hidup didunia untuk anak berumur 15 tahun yang bahkan tak tau bahwa ayah bahkan tak memiliki tabungan dan hutang yang hampir 2 miliyar. Tapi aku memberanikan diri pergi ke Jogja, tinggal bersama saudaraku dan menjadi pembantu disana, dan bekerja sebagai asisten penulis. Hanya untuk uang jajan di sekolah, yang mungkin dalam seminggu aku hanya menghabiskan 50 ribu. Tapi setelah 2 tahun tidak pulang ke rumah, saat pertama aku melihat ibuku yang kurus, bahkan lebih kurus dariku, saat melihat adikku yang mulai membungkuk karena penyakitnya dan ayahku yang sudah tidak bisa jalan lagi. Disitu rasanya aku ingin membakar rumahku bersama kami didalamnya, rasanya kobaran api jauh lebih mudah di hadapi dibanding kehidupan. Tapi setelah 5 tahun dari hari itu, aku tetap hidup dan keluargaku tetap hidup. Dan aku sadar aku ga pernah benar-benar benci ayahku yang brengsek, tukang selingkuh, dan tidak punya hati padaku..