Bab 64: Jejak Masa Silam
Halo, semuanya! Apa kabar? Semoga kalian selalu sehat.
Sebelum mulai membaca bab ini, izinkan aku menarik napas panjang dulu.
Jujur, menulis bab ini benar-benar menguras tenaga. Rasanya aku dipaksa keluar dari zona nyaman.
Biasanya aku lebih mudah menulis adegan yang berpusat pada satu atau dua tokoh. Namun kali ini berbeda. Ada banyak karakter yang tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif berdiskusi, menyampaikan pendapat, mengajukan teori, hingga saling menanggapi satu sama lain.
Baru kali ini aku benar-benar merasakan betapa sulitnya menjaga percakapan seperti itu tetap hidup.
Ternyata jauh lebih mudah membuat satu karakter yang mengetahui segalanya daripada membagi porsi delapan karakter dalam satu pembicaraan.
Mungkin itu juga yang membuat bab ini terlambat terbit. Berkali-kali aku merevisinya karena merasa dialognya masih terlalu pendek, terlalu datar, atau justru berputar-putar. Di sisi lain, aku juga harus memastikan setiap karakter tetap memiliki kepribadian yang berbeda.
Tantangannya bertambah karena di dunia Tenggelam dalam Cahaya, hampir semua karakter, kecuali Ayra, menggunakan gaya bahasa yang sama, yaitu formal. Jadi, perbedaan mereka harus terasa dari cara berpikir, sudut pandang, dan pilihan kata, bukan dari tingkat formalitas bahasanya.
Pokoknya, semoga semua usaha itu bisa terasa saat kalian membaca bab ini.
Selamat menikmati Bab 64: Jejak Masa Silam.
Seperti biasa, aku tunggu semua teori dan pendapat kalian di kolom komentar. Selamat membaca!