atwengi

Untuk mereka yang tersayang, terimakasih. 

atwengi

Helaan nafas lelah untuk yang kesekian kalinya. Isi kepala rasanya carut marut,  pun dada terasa sesak kesakitan. 
          Benar, menyerang sanubari merupakan cara paling mudah untuk melenyapkan seseorang. Hingga titik dimana hilang merupakan hal yang paling terasa masuk akal. 

atwengi

Sulit ternyata memiliki perangai yang teramat jujur. Semua terlihat hanya dari permukaan tanpa perlu menyelam lebih jauh. Sukar menyembunyikan sesuatu yang memang seharusnya tersembunyi—setidaknya itu yang ia yakini. 
          
          Ia sadar hidup terlilit benang merah yang belum terurai tapi bahkan ia tak sanggup hanya untuk bisa menyuarakan. Semua bantahan tertelan oleh tekanan. Oleh rasa bersalah. Oleh ketakutan. 
          
          Rangkulan tangan sendiri dan bisikan penenang dalam hati tak mampu mengubah banyak. Ia tetap merasa sesak. Ia tetap merasa buntu. 
          
          Seringkali menyinggung perkara waktu, tapi haruskah menunggu kembali sampai sanubari ini rela? Sampai semua ini diterima oh atau mungkin—menyerah? 

atwengi

Ini bukan akhir, tapi awal yang mungkin tak pernah terpikirkan. 
          Hanya berharap semoga jalan yang ditempuh akan mudah. Berharap rasa ikhlas akan melimpah. 
          
          Sekali lagi, ini hanya perkara waktu. 
          Sampai bertemu di penghujung waktu. 

atwengi

Bukannya ini hanya perkara waktu? 
          ‎Bertahun-tahun telah menjadi pembuktian, semua akan berjalan seperti seharusnya. 
          ‎
          ‎Kegundahan itu teramat wajar. Hanya bagaimana mereka menanganinya. 
          ‎Cepat atau lambat semua akan berakhir, sebagaimana semestinya. 

atwengi

Berat buat bilang, tapi ini memang yang aku rasain. Ga pernah mudah buatku, ini benar-benar langkah yang besar. 
          Semenjak diputuskan, moodku tak menentu. Keteraturan ku dalam menjalani hari juga hilang. 
          Selain jadi beban buat ku, aku takut aku juga jadi sumber kesakitan orang lain.