atwengi

Memang aku masalahnya. 
          	Itu kenapa aku tidak ingin menghadirkan versi ku yang lain. 
          	Berakhir sampai sini terasa lebih damai.

atwengi

Sulit ternyata memiliki perangai yang teramat jujur. Semua terlihat hanya dari permukaan tanpa perlu menyelam lebih jauh. Sukar menyembunyikan sesuatu yang memang seharusnya tersembunyi—setidaknya itu yang ia yakini. 
          
          Ia sadar hidup terlilit benang merah yang belum terurai tapi bahkan ia tak sanggup hanya untuk bisa menyuarakan. Semua bantahan tertelan oleh tekanan. Oleh rasa bersalah. Oleh ketakutan. 
          
          Rangkulan tangan sendiri dan bisikan penenang dalam hati tak mampu mengubah banyak. Ia tetap merasa sesak. Ia tetap merasa buntu. 
          
          Seringkali menyinggung perkara waktu, tapi haruskah menunggu kembali sampai sanubari ini rela? Sampai semua ini diterima oh atau mungkin—menyerah?