Helaan nafas lelah untuk yang kesekian kalinya. Isi kepala rasanya carut marut, pun dada terasa sesak kesakitan.
Benar, menyerang sanubari merupakan cara paling mudah untuk melenyapkan seseorang. Hingga titik dimana hilang merupakan hal yang paling terasa masuk akal.
Sulit ternyata memiliki perangai yang teramat jujur. Semua terlihat hanya dari permukaan tanpa perlu menyelam lebih jauh. Sukar menyembunyikan sesuatu yang memang seharusnya tersembunyi—setidaknya itu yang ia yakini.
Ia sadar hidup terlilit benang merah yang belum terurai tapi bahkan ia tak sanggup hanya untuk bisa menyuarakan. Semua bantahan tertelan oleh tekanan. Oleh rasa bersalah. Oleh ketakutan.
Rangkulan tangan sendiri dan bisikan penenang dalam hati tak mampu mengubah banyak. Ia tetap merasa sesak. Ia tetap merasa buntu.
Seringkali menyinggung perkara waktu, tapi haruskah menunggu kembali sampai sanubari ini rela? Sampai semua ini diterima oh atau mungkin—menyerah?
Tolong jangan, ini penyiksaan.
Siapapun tak akan sanggup menghadapinya.
Hilangkan Tuhan, aku mohon.
Biarkan aku menikmati dan bahagia dengan apa yang aku miliki.
Hilangkan perasaan buruk ini, aku mohon.
Ini bukan akhir, tapi awal yang mungkin tak pernah terpikirkan.
Hanya berharap semoga jalan yang ditempuh akan mudah. Berharap rasa ikhlas akan melimpah.
Sekali lagi, ini hanya perkara waktu.
Sampai bertemu di penghujung waktu.
Ignore User
Both you and this user will be prevented from:
Messaging each other
Commenting on each other's stories
Dedicating stories to each other
Following and tagging each other
Note: You will still be able to view each other's stories.