"Saya tertarik buat bahas detailnya sekarang. Let's move to the coffee shop over there?" Erlangga menunjuk gerai kopi lokal yang berada di sudut lantai mal dengan gerakan dagunya, seolah sedang mengklaim waktu Kumala secara eksklusif.
Kumala mulai merasa terdesak oleh dominasi pria ini. "Mungkin kita bisa reschedule di hari lain, Kak?"
"We can. But after I look around this expo, mungkin saya bakal deal sama vendor lain," ancam Erlangga halus. Melihat Kumala yang masih tampak ragu, Erlangga menaikkan nilai taruhannya. "Saya janji bakal pakai jasa WO ini, termasuk semua vendor pendukung di dalamnya, kalau kamu mau discuss detailnya sama saya. Sekarang."
Kelopak mata Kumala melebar sempurna. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ini bukan lagi sekadar urusan suvenir tumbler, ini adalah kesepakatan paket besar yang akan menyelamatkan omset seluruh tim WO hari ini.
Kumala menelan salivanya pelan. Perlahan, senyum terlatih—dan sangat oportunis—terbit di wajah manisnya. "Mari, Kak. Teras di Fore kayaknya cukup cozy buat bahas detail yang private."