ceritaiyagi
Ogut tuh tipe orang yang sangat picky reader, selain dari sinopsis cerita, gaya penulisan juga sangat berpengaruh pada mood ogut waktu baca karya.
Kalo baca buku mesti sesuai dengan konsep cerita yng sudah dikerangka oleh penulisnya.
Misalnya, setting di Indonesia mau pake aku-kau (kalau bahasa baku) atau saya-kamu atau aku-kamu atau gue-lo atauu sesuai dengan setting daerah di Indonesia it's really okay.
Jadi, kalau ada buku yng konsep dan settingnya di negara Korea dan si karakternya orang Korea dan pake gue-lo atau pakai bahasa keseharian yng biasa dipakai di Indonesia jujur langsung turn-off sebagus apapun ceritanya
Selain itu, kalau campuran bahasanya seperti bahasa Indonesia dicampur bahasa Inggris masih nggak apa-apa banget, karena bahasa Inggris itu udh kaya our third languages gasii.
Tapi kalau dicampurnya dgn bahasa Korea, aduh punten bae langsung tutup buku XD tapi kayaknya penulis yng mencampur dengan bahasa Korea, itu penulis jaman dulu yaa.
Penulis-penulis sekarang udah sangat rare menulis fanfiksinya dicampur dengan bahasa Korea, lebih sering dicampur dengan bahasa Inggris atau bahasa daerah di Indonesia.
Endul93
@ ceritaiyagi iyakan, kek dulu aja tuh sebenernya gua jga lumayan risih wkwkwk kan gua pernah updatein jd status fb gua wkwkwkwk apalagi skrg, makin gua susah nerima
•
Reply
ceritaiyagi
@Endul93 Nggak tau kenapaaa, kayaknya udh bukan jamannya seiring waktu jd aneh aja kl campurannya sama bakor. Kecuali kalo full satu kalimat berbahasa Korea dan ada translatenya kaya di bukunya Illana Tan yng Summer In Seoul. Kalo yng, "Nae mau ke pasar besok achim, neo mau ikut tidak? Kajja." Dulu berasa keren, tp kl sekarang aneh T.T
•
Reply