ehemshha

Hi!!! Maaf mau tanya kabar projectnya kira-kira masih ada niatan untuk memperbarui atau melanjutkan? Kalau tidak tolong disiarkan kabar lebih lanjutnya dan permasalahannya.
            Sebenarnya kami tidak mempermasalahkan ketidakmampuan anda untuk melanjutkan beberapa project Translate. Tapi permasalahannya adalah tidak adanya kabar lebih lanjut, serta informasi judul asli, author aslinya, agar walaupun anda sudah tidak berniat menerjemahkannya tapi kami dapat membaca lewat platform lainnya yang bersedia meluangkan waktu untuk menerjemahkan dan membantu karya asli agar dapat dikenal oleh sebagian masyarakat di belahan dunia.
          
           Tolong jika sudah baca pesan dari saya, saya mohon agar secepatnya ada respon positif dari anda sekalian.. 
             Maaf apabila merasa kurang nyaman dengan isi pesan saya, harap maklum karna saya hanya ingin menyampaikan pesan dari lubuk hati saya..
           

Pitra45

@ ehemshha  
Reply

qillllaaaa

Hallo, ini Biya. Khaliluna Anbiya. 
          Gadis lapuk di awal 30-an tahun yang masih enggan melepas masa lajangnya.
          
          Siapa peduli kalau orang-orang menyebutnya perawan tua? Mereka bahkan tak segan-segan menjadikan Biya sebagai pusat bisik-bisik dan perhatian.
          
          Tapi bagi Biya semua itu nggak penting. Toh gadis yang sudah menginjak umur kepala tiga itu selalu berprinsip "Selagi gue bahagia, persetan sama omongan orang."
          
          Begitulah sekiranya keyakinan teguh yang selalu Biya pegang. Lagipula nggak ada yang salah dari hidupnya. Lajang itu bukan AIB. Lajang jaman sekarang itu trendi. Right?
          
          Tapi kehidupan Biya yang terbilang aman dan bebas hambatan itu seketika jungkir balik saat Om Bagas memintanya mengisi posisi sekretaris menejer baru yang sekarang tengah kosong.
          
          "Aargh! JINGGA SIALAN!"
          
          .
          
          Askara Jingga. Bujang. 27 tahun. Songong, sombong, minus etika - dan anggap saja bisu. Tipikal bos-bos rese yang hobi menyiksa bawahan. Selalu sengit tiap kali menatap keberadaan Biya.
          
          Bagi lelaki blesteran Korea dan setengah surga itu, sosok Biya sudah seperti sumber dari segala macam masalah dan kesialan.
          
          "Kalau kamu manusia yang punya etika, kamu pasti tau namanya hukum timbal balik."
          
          Sial! Apalagi yang bisa Biya lakukan untuk mengembalikan hidupnya ke posisi semula - terbebas dari segala keruwetan ini? Kalau sepanjang hari dia harus berurusan dengan makhluk minus etika seperti Askara Jingga?
          
          Dibaca dulu gess..
          Pelan-pelan, tarik napas..
          Simpang di daftar bacaan..
          Tungguin notifikasi update..
          Siapa tau suka :)
          
          https://www.wattpad.com/story/234309515-ending-choice