Coba baca ini sambil dengerin lagu dewa yang judulnya elang.
Udah lama banget pengen bikin cerita kayak gini, tapi selalu goyah ...
———
Di Kosan yang jauh dari kata rapi, banyak bungkus rokok berserakan di lantai, asbak penuh puntung yang padam setengah, dan gitar yang tergeletak di sudut ruangan seolah menyerah menunggu dipetik lagi. Dan bau asap bercampur kopi basi memenuhi udara—ruang kecil itu jadi saksi bisu dua laki-laki yang duduk bersila, sama-sama tenggelam dalam kekosongan.
Sunoo menatap kosong ke arah jendela, bibirnya pecah-pecah karena terlalu banyak menghisap nikotin. Sunghoon di depannya, kepalanya sedikit tertunduk, jemari mengetuk-ngetuk lututnya tanpa irama. Mereka tak butuh kata-kata untuk saling tahu, karena keduanya sama-sama sedang kehilangan arah.
"Ayah tadi nelepon." suara Sunoo serak, pelan, tapi setiap kata seperti pisau yang menyayat. "Dia bilang gue bikin malu keluarga. Katanya kalau gue masih sama lo, kak… gue udah bukan lagi anaknya."
Sunghoon mengangkat kepala, rahangnya mengeras. Ia sudah hafal dengan skenario semacam itu. "Ibu juga sama. Dia marah-marah tadi. Katanya gue lebih baik mati daripada pacaran sama laki-laki." Kekehnya sambil berdecih. "Katanya gue ngerusak nama keluarga." Suaranya rendah, dingin, tapi sarat luka.
Sunoo tertawa hambar, menunduk sambil meremas bungkus rokok kosong. "Lucu ya… mereka pikir kita main-main. Padahal satu-satunya hal yang bikin gue merasa masih hidup itu, karena ada lo, kak."
Hening menyelimuti kamar. Hanya bunyi kipas angin yang berdecit.