“Kamu sadar, kan? Kadang hidup tidak memberi kita banyak pilihan.”
Pria itu mengucapkannya begitu saja, seolah kalimat itu bukan sesuatu yang mampu mengubah masa depan dua orang sekaligus. Gadis di hadapannya hanya menautkan kedua tangan di pangkuan, mencoba menyembunyikan kegelisahan yang jelas terlihat dari bahunya yang menegang.
Bagaimana tidak? Siapa pun akan kehilangan kata-kata ketika dipaksa menghadapi seseorang yang tiba-tiba dijadikan calon pasangan hidup—terlebih jika orang itu dulunya adalah dokter yang pernah menanganinya.
Reiz merasa hidupnya belakangan ini layak dijadikan bahan tertawaan bagi para penulis roman yang gemar menulis tentang perjodohan. Ia tidak pernah menyangka akan terseret dalam alur seperti itu. Tidak ada peringatan, tidak ada diskusi—hanya keputusan sepihak dari dua orang tua yang menilai dirinya sudah terlalu lama dibiarkan melajang.
Pria tampan berusia tiga puluh tahun itu, yang bernama lengkap Reiz Alvero, sebenarnya sudah menolak—halus maupun keras. Namun, ayahnya selalu memiliki cara unik yang membuatnya menyerah pada akhirnya.
Sungguh, Reiz bisa saja membantah siapa pun di dunia ini, kecuali orang yang telah membesarkannya dengan tangan sendiri—terlebih ketika wajah ayahnya tampak begitu menyedihkan hanya karena ingin melihat putra satu-satunya menetap dan menikah.
Dan akibat dari semua itu, kini ia terjebak duduk berhadapan dengan seorang gadis yang bahkan belum pernah ia lihat tersenyum penuh. Gadis itu tampak seperti ingin kabur, namun tetap berusaha terlihat sopan.
Lucu, pikir Reiz. Keduanya sama-sama tidak siap, tetapi sama-sama berusaha tampak beradab.
Reiz menarik napas, menatap gadis itu sekali lagi, lalu berkata dengan nada yang entah ditujukan untuk siapa,
“Mungkin… kita memang tidak diberi kesempatan untuk menolak.”
Gadis itu hanya mengangguk pelan, dan untuk alasan yang tak ia pahami, anggukan kecil itu terasa seperti awal dari sesuatu yang akan sulit ia abaikan.