dalamdjiwa
“Lukamu sudah sembuh?”
Terdapat kerutan heran saat pertanyaan Harapan dibiarkan mengambang begitu saja. Tidak ada gelengan defensif atau anggukan afirmatif. Tidak satupun. Sahaya justru mengangkat bahunya; jawaban penuh ambiguitas.
“Mungkin sudah, mungkin belum,” acuhnya. “Atau mungkin nggak akan.”
dalamdjiwa
“Aku akan sembuh asalkan kamu bersamaku. Bantu aku, ya?”
Harapan tersenyum.
“Tentu, Sahaya. Tentu.” **
•
Reply
dalamdjiwa
Kalimat panjang Harapan menghasilkan geli di hati Sahaya, sehingga bibirnya membentuk lengkungan kecil tanpa bisa dicegah.
Sahaya melupakan kesalnya beberapa menit lalu.
•
Reply
dalamdjiwa
“Nggak,” sanggahnya cepat. “Aku nggak akan biarin kamu merasa sendiri—setidaknya, aku pastikan ada yang menemani kamu, sekaligus menyentil kepalamu supaya otak di dalamnya nggak berpikiran untuk melakukan hal bodoh lagi. Bukankah itu gunanya teman?”
•
Reply