dalamdjiwa

“Lukamu sudah sembuh?”
          	
          	Terdapat kerutan heran saat pertanyaan Harapan dibiarkan mengambang begitu saja. Tidak ada gelengan defensif atau anggukan afirmatif. Tidak satupun. Sahaya justru mengangkat bahunya; jawaban penuh ambiguitas.
          	
          	“Mungkin sudah, mungkin belum,” acuhnya. “Atau mungkin nggak akan.”

dalamdjiwa

“Aku akan sembuh asalkan kamu bersamaku. Bantu aku, ya?”
          	  
          	  Harapan tersenyum.
          	  
          	  “Tentu, Sahaya. Tentu.” **
Reply

dalamdjiwa

Kalimat panjang Harapan menghasilkan geli di hati Sahaya, sehingga bibirnya membentuk lengkungan kecil tanpa bisa dicegah.
          	  
          	  Sahaya melupakan kesalnya beberapa menit lalu.
Reply

dalamdjiwa

“Nggak,” sanggahnya cepat. “Aku nggak akan biarin kamu merasa sendiri—setidaknya, aku pastikan ada yang menemani kamu, sekaligus menyentil kepalamu supaya otak di dalamnya nggak berpikiran untuk melakukan hal bodoh lagi. Bukankah itu gunanya teman?”
Reply

dalamdjiwa

“Lukamu sudah sembuh?”
          
          Terdapat kerutan heran saat pertanyaan Harapan dibiarkan mengambang begitu saja. Tidak ada gelengan defensif atau anggukan afirmatif. Tidak satupun. Sahaya justru mengangkat bahunya; jawaban penuh ambiguitas.
          
          “Mungkin sudah, mungkin belum,” acuhnya. “Atau mungkin nggak akan.”

dalamdjiwa

“Aku akan sembuh asalkan kamu bersamaku. Bantu aku, ya?”
            
            Harapan tersenyum.
            
            “Tentu, Sahaya. Tentu.” **
Reply

dalamdjiwa

Kalimat panjang Harapan menghasilkan geli di hati Sahaya, sehingga bibirnya membentuk lengkungan kecil tanpa bisa dicegah.
            
            Sahaya melupakan kesalnya beberapa menit lalu.
Reply

dalamdjiwa

“Nggak,” sanggahnya cepat. “Aku nggak akan biarin kamu merasa sendiri—setidaknya, aku pastikan ada yang menemani kamu, sekaligus menyentil kepalamu supaya otak di dalamnya nggak berpikiran untuk melakukan hal bodoh lagi. Bukankah itu gunanya teman?”
Reply

dalamdjiwa

Permainan emosi dilazimkan untukku yang lahir dari rasa bimbang dan linglung. Akan jadi pencapaian nomor satu jika dalam satu hari aku bersikap lurus-lurus saja dengan tanda kutip; tanpa sekalipun berpindah-pindah perasaannya setiap lima detik. Era di mana hati yang tidak preventif dibikin labil begini jadinya susah diperhitungkan, memang.

dalamdjiwa

Setelah dipikir, jadi kupu-kupu mungkin tidak akan terlalu memberatkan, justru menyenangkan karena bisa melanglang buana di luasnya semesta. Meskipun di awal dianggap parasitisme, begitu keluar dari kepompong rupanya bakalan tetap indah, 'kan? Satu pengetahuan baru saja ditambahkan ke otakku: sifat acuh itu ternyata tidak selalu berakhir buruk. Mungkin juga akan kujadikan motivasi praksis yang baru.
Reply

dalamdjiwa

Andaikata pra-kehidupan itu benar adanya, aku akan berpikir ratusan kali lebih dulu bila disuruh ikut simulasi menjadi manusia. Dan jikapun aku tahu hidup jadi manusia segini banyak tekanannya, seribu langkah mundur akan langsung kujejaki. Hidupku menyedihkan begini dan tidak ada tombol buat mengulang dari awal. Sistem-Mu ini sebenarnya bagaimana sih, Tuhan? Sebegini serba adilnya?
Reply

dalamdjiwa

Ternyata rembukan dengan diri sendiri itu lebih susah dari apapun. Jika saja menyerah itu semudah melambaikan tangan ke kamera, sudah pasti kulakukan jauh-jauh hari. Karena, sumpah, meladeni sikap serba sok itu tidak akan ada habisnya. Di antara seribu sifat jelek yang masih bisa ditoleransi, cuma satu yang paling dibenci itulah yang tidak kuharapkan untuk jadi separuh bagian atma ini.
Reply

dalamdjiwa

"Aku nggak pernah menang."
          
          Meja diketuk tanda gelisah. Yang di seberang mendongak, memberi sokongan batin melalui tautan mata untuknya melanjutkan bicara.
          
          "Aku sadar kenapa orang-orang nggak pernah percaya sama kemampuanku," ucapnya. Napas yang ditariknya gemetar. "Manusia nggak berguna. Aku selalu berusaha buat ngambil satu posisi di setiap kesempatan. Pikirku, biar mereka tau kalau aku juga 'bisa'; kalau aku nggak pasif dan juga bisa diandalkan."
          
          Rasa panas mulai menggenangi pelupuk. Muatan berupa cairan bening yang siap ditumpahkan bila kelenjar lakrimalisnya terus merespon tekanan sendu dari organ perasanya yang sensitif.

dalamdjiwa

Senyumannya berbalas, kehangatan yang diudarakan berhasil menyelubungi hatinya. "Kalau kamu bisa percaya sama diri sendiri, buat apa menanti hal yang sama dari orang lain?" Harapan tersenyum, tatapannya menyiratkan ketenangan manakala telunjuknya mengarah kepada dada sang Sahaya. Ia lantas menekan kalimatnya.
            
            "Mereka yang nggak pantes menerima kamu, Haya. Bukan sebaliknya." **
Reply

dalamdjiwa

Sahaya terdiam. Bahunya yang sempat menegang tampak meluruh lega. "Gitu, ya ...." Harapan mendengung sebagai jawaban. Dengan begitu, ia kembali bersuara. "Bukan masalah kalau dalam berkali-kali kamu berusaha, berkali-kali pula kamu dibentur untuk dibentuk. Nggak apa-apa, Haya. Jangan berhenti, juga jangan taruh harapan kalau orang-orang akan menghargai kamu karena mereka nggak mengerti. Mereka nggak melihat kamu berlatih; mereka nggak sudi, selain hanya menerima kamu yang sudah terlatih. Cuma kamu yang tau, Haya. Cukup kamu, karena orang-orang nggak bakal peduli meskipun kamu cerita tentang ribuan duri yang kamu tapaki." Harapan tersenyum, ia memandang Sahaya yang sorot matanya melunak.
Reply

dalamdjiwa

"Enggak." Sahaya memotong. "Aku ngerti." Lantas meminta Harapan untuk melanjutkan perkataannya.
            
            "Yang penting, kamu punya sugesti yang mendorong ke arah keberhasilan. Percuma kamu punya oli buat bantu buka gembok yang berkarat, kalau kuncinya aja belum punya. Selama ini, kamu selalu pesimis, 'kan?" Harapan mendapati Sahaya mengangguk pelan. "Emosi juga mempengaruhi kinerja otak, jangan sampai hal-hal yang kayak gitu jadi distraksi saat kamu mencoba membuka diri."
Reply

dalamdjiwa

Karya-Mu selalunya sungguhlah indah, Tuhanku. Banyak dari potongannya yang berkali-kali membuatku menganga terkesima. Bab demi bab tercetak, kemudian dinyanyikan lewat mantra ke setiap lapisan atmosfir, bagai sebuah hipnotis mujur.
          
          Jemari seseorang sahaya sepertiku ... sudah tidak mampu baginya untuk lanjut mengukur seberapa kekal aku mendamba hasil gubahan-Mu. Aku patutnya bersyukur akan Engkau yang sampai kini masih memuliakan hati untuk menunda ajalku hingga satu waktu nanti.
          
          Tapi, Tuhan, tidaklah bagiku diharamkan sekali saja untuk meluapkan isi relungku yang riuh memprotes?

dalamdjiwa

Pak, saya kangen. Maaf belum sempat kasih kenangan yang lebih pantas selama ini.
Reply

dalamdjiwa

Jikapun menangis, tidak ada artinya juga, 'kan? Bukanlah dengan ini, Engkau lantas mengembalikan apa yang sudah hilang dan direnggut selamanya. Acap kali aku biarkan hanya detak jantung yang jadi audiens demonstrasi seorang sahaya yang melakoni sebuah karakter menyedihkan. Sudahi sajalah.
Reply

dalamdjiwa

Oktober. Aku benci bulan itu. Bulan yang memberiku kehancuran dunia. Bahkan setelah delapan tahun, aku belum bisa mencari alasan baru untuk menetap. Ah, ternyata begini yang namanya mati rasa. Setiap harinya aku jalani dengan hambar sambil mengharap Engkau melazimkan sebuah sihir agar aku bisa bertemu dengan Ayah lagi. Sejak itu, aku terus-terusan membentak dan menyelubungi hati dengan api sebagai peluapan marah.
Reply

dalamdjiwa

Dear, you may find yourself falling infinitely and longing for words to fill out your lungs either sooner or later, just what I am. Nothing more as its beautiful concept that will get you deep into the soul of yours. You would flutter high so that you live within the clouds of joy surrounding, or even to be drown and trapped in a full filled enormous bottle of dilemma fluids you made by yourself. Words are undeniably interesting. They heap huge hidden meanings; no matter good or bad, they all laid inside. I fancy the feeling that I shall properly array the puzzle to crack up and mind it piece by piece, not to let it slides away. The feeling that makes me want to be one with the eternity so I could collect such pretty things many more in this messed up world.

dalamdjiwa

Nothing to be hurried up about. We can start whenever time you prefer us to, because the world is still here. The world I meant perhaps is not always in our side, but it is always here. The world is sometimes a menace to our own selves, but we live here. We could not run away even if we feel like to. Survive a little bit more, wouldn't you? Though ephemeral, I have tons of heartbeaters and collywobbles to show you for....
Reply

dalamdjiwa

Apparently, a lot of questions and mysteries still await for us, for our good breeds to mine them out. So, shall we start wander?
Reply