Aou Thanaboon bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta.
Dia terbiasa hidup dalam logika, bukan perasaan. Terbiasa mengamati, bukan terlibat. Dan lebih sering memilih diam daripada mengambil resiko.
Sampai dia melihat Boom.
Bukan pertemuan dramatis.
Bukan tabrakan tak sengaja di lorong kampus.
Hanya… satu momen sederhana.
Boom tertawa.
Di bawah pohon besar dekat gedung fakultas, dikelilingi teman-temannya, dengan mata yang menyipit dan senyum yang terlalu hangat untuk diabaikan.
Sejak hari itu, Aou tahu satu hal yang pasti—
dia dalam masalah.
Karena semakin lama dia memperhatikan Boom, semakin dalam dia jatuh.
Dan semakin dia jatuh…
semakin dia takut untuk mendekat.