dominicuan

I LIIIIIVE!
          	
          	(Shoutout all of y'all that get the reference!)
          	
          	Cuman itu doang yang bisa gw tulis sekarang. Tapi beneran, gw ngerasa bersalah udah ngilang selama ini. Gw masih nulis di sela kesibukan yang, well, makin gak masuk akal. Draft chap 50 udah ada wujudnya sekitar sebulan yang lalu, lalu gw rombak dari awal karena gw gak sreg sama isinya. And things happened, a lot, and it significantly changed my life. Gw tau di awal tahun gw udah bilang soal rencana buat tahun ini; maaf gak bisa ngikutin rencana itu. Bahkan buat mampir, nyapa, dan baca cerita temen-temen penulis aja rasanya makin sulit. Kadang rasanya sedih ngebayangin kabar sesama temen penulis gw. Kalo kalian ada yang baca post ini, gw harap kalian baik-baik aja di sana, dan gw mendukung apa pun pilihan kalian. I will reach out all of you, sometimes, in the future!
          	
          	Gak cuman rencana soal update Tabula Rasa, kayaknya gw gak bisa lanjutin post terakhir soal suspense. I know, it's like ages ago, and I think this is the 1st time I couldn't finish a post. Sepertinya usaha gw akan kepake buat bab terbaru. Selagi chapter itu ditulis, gw akan coba aktif ngisi post profil ini. Topiknya gak sedetail kayak bahasan soal nulis, tapi setidaknya gw pengen bisa ngobrol di sini. It's the least that I can do for all of you that, hopefully, stumble, stay, lurk, or stalk this profile :)
          	
          	Kayak sekarang, gw kaget dengan hasil poll di bab 49! Ternyata gak ada yang vote soal karakter sebagai bagian favorit Tabula Rasa. I don't take it as an offence, tapi gw penasaran dengan alasannya. Gw juga gak nyangka lebih banyak yang suka sama dialog di cerita gw. Pun, gw gak nyangka ada yang suka dengan setting dan tema ceritanya. I'm honored! Mungkin ada dari kalian yang ngisi poll itu dan pengen certain alasan kalian. Cerita ini adalah karya pertama gw, dan gw pengen belajar sebanyak mungkin dari kalian! So feel free to drop your thoughts. Or just say hi if you prefer to :D

dominicuan

@Hedj__ Maaf baru bales pesan lu! Makasih buat penyemangatnya. Gw setuju kalo kegiatan kreatif itu mengasingkan. Gak heran kenapa banyak yang bermimpi buat ngewujudin karyanya, tapi gak banyak yang sanggup bertahan. Gw gak bilang kalo gw ada di posisi itu saat ini, cuman emang frustrasi aja ketika rencana lu gak berjalan semulus yang diharapkan :(
          	  
          	  Gw bener-bener tersanjung dengan pujian lu, tapi gw merasa masih jauh dari kata layak buat mendapatkan itu. Gw cuman penulis FF (saat ini setidaknya) yang sedang mengerjakan draft pertamanya. Gw yang sebenernya beruntung bisa kenal dengan lu dan juga penulis-penulis hebat lainnya, apa pun media kalian, yang menurut gw lebih inspiratif buat penulis-penulis yang mau ato sedang berkarya. Penulis seperti lu yang menurut gw lebih berkontribusi ke ekosistem platform ini; gw yakin bukan gw doang yang merasakan itu kalo mereka baca karya lu! Dan ini juga berlaku buat temen-temen author FF yang mungkin nemu post ini; apa yang kalian buat berhasil nunjukkin kalo FF bisa punya nilai yang gak kalah dengan fiksi orisinal. Gw harap kalian bisa mengapresiasi diri kalian atas pencapaian tersebut :D
Reply

Hedj__

Hi! Seneng rasanya dapat kabar bahwa u baik-baik aja di sana. Ane turut bersimpati sama kondisi yang u alami.
          	  
          	  Sebagai sesama rekan, ane mungkin paham gimana rasanya bertahan dalam proses kreatif yang secara alami sangat sepi dan rapuh. Sebab, menurut ane menulis itu aktivitas yang soliter, penuh keraguan, mudah bikin orang stagnan, dan sering bikin orang ngerasa disalahpahami. 
          	  
          	  Ditambah lagi kesibukan RL, terkadang bikin apa yang sudah direncanaain nggak selalu sejalan dengan realitas. Dan menurut ane, itu fine dan sah-sah saja. Menulis adalah tentang proses, dan proses biasanya diikuti dengan harga yang harus dibayar. Ada yang lambat dan ada pula yang mahal. Tapi ane percaya bahwa semua proses nggak akan pernah mengkhianati hasil, setidaknya untuk diri sendiri (padahal ane sendiri juga sama was-wasnya, wk). Misalnya seperti kayak yang u barusan bilang soal feedback dari fitur poll, ane rasa itu tanda bahwa proses yang u jalani ternyata nggak sia-sia serta layak buat diperjuangkan seterusnya.
          	  
          	  Ane berharap u masih tetap semangat nulis. Semangat ngasih support tulus yang mungkin nggak u sadari menularkan dampak positif dan  sangat membantu ekosistem ini lebih sehat. Semangat yang u pancarkan buat kita semua. 
          	  
          	  Salam,
          	  —Hedj.
Reply

dominicuan

I LIIIIIVE!
          
          (Shoutout all of y'all that get the reference!)
          
          Cuman itu doang yang bisa gw tulis sekarang. Tapi beneran, gw ngerasa bersalah udah ngilang selama ini. Gw masih nulis di sela kesibukan yang, well, makin gak masuk akal. Draft chap 50 udah ada wujudnya sekitar sebulan yang lalu, lalu gw rombak dari awal karena gw gak sreg sama isinya. And things happened, a lot, and it significantly changed my life. Gw tau di awal tahun gw udah bilang soal rencana buat tahun ini; maaf gak bisa ngikutin rencana itu. Bahkan buat mampir, nyapa, dan baca cerita temen-temen penulis aja rasanya makin sulit. Kadang rasanya sedih ngebayangin kabar sesama temen penulis gw. Kalo kalian ada yang baca post ini, gw harap kalian baik-baik aja di sana, dan gw mendukung apa pun pilihan kalian. I will reach out all of you, sometimes, in the future!
          
          Gak cuman rencana soal update Tabula Rasa, kayaknya gw gak bisa lanjutin post terakhir soal suspense. I know, it's like ages ago, and I think this is the 1st time I couldn't finish a post. Sepertinya usaha gw akan kepake buat bab terbaru. Selagi chapter itu ditulis, gw akan coba aktif ngisi post profil ini. Topiknya gak sedetail kayak bahasan soal nulis, tapi setidaknya gw pengen bisa ngobrol di sini. It's the least that I can do for all of you that, hopefully, stumble, stay, lurk, or stalk this profile :)
          
          Kayak sekarang, gw kaget dengan hasil poll di bab 49! Ternyata gak ada yang vote soal karakter sebagai bagian favorit Tabula Rasa. I don't take it as an offence, tapi gw penasaran dengan alasannya. Gw juga gak nyangka lebih banyak yang suka sama dialog di cerita gw. Pun, gw gak nyangka ada yang suka dengan setting dan tema ceritanya. I'm honored! Mungkin ada dari kalian yang ngisi poll itu dan pengen certain alasan kalian. Cerita ini adalah karya pertama gw, dan gw pengen belajar sebanyak mungkin dari kalian! So feel free to drop your thoughts. Or just say hi if you prefer to :D

dominicuan

@Hedj__ Maaf baru bales pesan lu! Makasih buat penyemangatnya. Gw setuju kalo kegiatan kreatif itu mengasingkan. Gak heran kenapa banyak yang bermimpi buat ngewujudin karyanya, tapi gak banyak yang sanggup bertahan. Gw gak bilang kalo gw ada di posisi itu saat ini, cuman emang frustrasi aja ketika rencana lu gak berjalan semulus yang diharapkan :(
            
            Gw bener-bener tersanjung dengan pujian lu, tapi gw merasa masih jauh dari kata layak buat mendapatkan itu. Gw cuman penulis FF (saat ini setidaknya) yang sedang mengerjakan draft pertamanya. Gw yang sebenernya beruntung bisa kenal dengan lu dan juga penulis-penulis hebat lainnya, apa pun media kalian, yang menurut gw lebih inspiratif buat penulis-penulis yang mau ato sedang berkarya. Penulis seperti lu yang menurut gw lebih berkontribusi ke ekosistem platform ini; gw yakin bukan gw doang yang merasakan itu kalo mereka baca karya lu! Dan ini juga berlaku buat temen-temen author FF yang mungkin nemu post ini; apa yang kalian buat berhasil nunjukkin kalo FF bisa punya nilai yang gak kalah dengan fiksi orisinal. Gw harap kalian bisa mengapresiasi diri kalian atas pencapaian tersebut :D
Reply

Hedj__

Hi! Seneng rasanya dapat kabar bahwa u baik-baik aja di sana. Ane turut bersimpati sama kondisi yang u alami.
            
            Sebagai sesama rekan, ane mungkin paham gimana rasanya bertahan dalam proses kreatif yang secara alami sangat sepi dan rapuh. Sebab, menurut ane menulis itu aktivitas yang soliter, penuh keraguan, mudah bikin orang stagnan, dan sering bikin orang ngerasa disalahpahami. 
            
            Ditambah lagi kesibukan RL, terkadang bikin apa yang sudah direncanaain nggak selalu sejalan dengan realitas. Dan menurut ane, itu fine dan sah-sah saja. Menulis adalah tentang proses, dan proses biasanya diikuti dengan harga yang harus dibayar. Ada yang lambat dan ada pula yang mahal. Tapi ane percaya bahwa semua proses nggak akan pernah mengkhianati hasil, setidaknya untuk diri sendiri (padahal ane sendiri juga sama was-wasnya, wk). Misalnya seperti kayak yang u barusan bilang soal feedback dari fitur poll, ane rasa itu tanda bahwa proses yang u jalani ternyata nggak sia-sia serta layak buat diperjuangkan seterusnya.
            
            Ane berharap u masih tetap semangat nulis. Semangat ngasih support tulus yang mungkin nggak u sadari menularkan dampak positif dan  sangat membantu ekosistem ini lebih sehat. Semangat yang u pancarkan buat kita semua. 
            
            Salam,
            —Hedj.
Reply

dominicuan

Salah satu target gw di tahun ini, selain yang udah pernah gw post, adalah menamatkan baca 1 buku. Kedengarannya gampang, kan? Enggak ketika kalian tau kalo target ini masih sama sejak 3 tahun yang lalu.
          
          Yes. Targetnya belum tercapai sampe sekarang.
          
          Bukan berarti gw gak mencoba. 2 tahun terakhir, ada 1 buku sci-fi Indonesia yang gw coba baca tapi rasanya sulit banget. Plotnya gak rumit—sekilas mirip dengan plot dystopian ala Orwell—cuman eksekusi ceritanya aja yang bikin gw berat buat lanjut. Biasanya gw akan DNF, tapi karna gak banyak cerita sci-fi berlatar Indonesia, gw berkomitmen buat minimal nyelesain 1, meskipun gw harus melawan otak gw yang nemu banyak "catatan" di tiap baris ato halaman.
          
          Ketika gw gagal di buku, gw lebih sukses di film. Per Januari, gw udah nonton 4 film: "High and Low", "Sunset Boulevard", "Nightcrawler", dan "Black Coal, Thin Ice". Kalian yang tau mungkin bisa melihat kesamaan keempat film itu. Dan wow, what a fantastic movie! Tiap film sukses membawa pengalaman noir yang kaya akan suspense dan mood yang anti-katarsis. Gak ada kembang api ketika filmnya selesai—ini lucu kalo kalian pernah nonton salah satu film yang gw sebut—dan gw rasa itu alasan genre ini masih punya tempat di imajinasi kita sampe sekarang.
          
          Kayaknya tontonan selanjutnya masih di genre yang sama, tapi gw pengen mix-and-match juga. Btw, shoutout @bluberrysoda buat rekomendasi filmnya; I will start with "Elysium" perhaps :) Mungkin film cyberpunk perlu menunggu sampe draft pertama Tabula Rasa selesai. Ini lucu, tapi gw pengen menjaga biar ceritanya lebih kental neo-noir :D
          
          Kalo kalian punya rekomendasi buku ato film, feel free to share it with us! Gw juga penasaran alasan kalian ngerekomendasiin itu. Semisal kalian pengen menambah variasi tontonan, gw rekomendasiin 4 film yang gw sebutin. Dan kalo kalian dah nonton, do let me know what you think about them. Sapa tau kita bisa tukeran rekomendasi film!
          
          Juga buku. Gw selalu lupa soal buku :P

dominicuan

Post pertama di 2026!
          
          Gw ngecek riwayat update Tabula Rasa dan selama 2025, gw menerbitkan 9 bab (bab 49 diitung sama WP terbit di 31 Des, tapi aslinya terbit 1 Jan jam 2). 1 bab per bulan; masih di frekuensi sesuai ekspektasi gw. Gw tau itu gak sesuai ekspektasi pembaca, jadi gw minta maaf soal tahun lalu :) Bab 50 sedang di draft, tapi kemungkinan Februari baru selesai. Gw akan mengusahakan tahun ini paling enggak gw bisa nyelesain 12 bab—mungkin lebih!—cuman pada akhirnya semua tergantung seberapa susah babnya (aka seberapa gw pengen nyusahin diri sendiri nulis draft pertama yang sok bagus!).
          
          Pertanyaan besarnya adalah: apakah draft pertama Tabula Rasa bisa selesai tahun ini? Itungan gw, mungkin ada 10—maksimal 15—bab sebelum tamat. Angka ini tentatif karena gw gak mau ngasih hard cap, belum lagi kendala sama kecepatan nulis gw. Yang pasti, Tabula Rasa udah memasuki babak terakhir yang, moga aja, kalian bersedia untuk terus ikutin!
          
          Satu goals lagi yang, gak bener-bener buat sekarang, tapi gw pengen bikin buku yang berisi rangkuman materi soal penulisan fiksi. Rencananya, rangkuman ini sifatnya lebih teoritis yang isinya diadaptasi dari craftbook, artikel, dan video kuliah beberapa penulis. Gw tau format ini beda dari tips praktis pada umumnya, cuman gw ngerasa belajar cara kerja struktur ato teknik narasi bisa sangat membantu pemahaman selama menulis dan menerapkan tips. Setidaknya, itu yang membantu gw sampe sekarang!
          
          Lagi-lagi, goals jangka panjang, bukan buat sekarang. Yang jelas gw dah tau apa bab pertamanya: adegan. Mungkin setelah draft pertama Tabula Rasa selesai? Tapi gimana pendapat kalian soal ide ini? Mungkin gw bisa terpancing untuk menyusunnya lebih cepat :D
          
          Itu rencana gw buat tahun ini. Oh! Hampir lupa buat lanjutin bahasan soal suspense di wall. Kalian sendiri gimana? Ada cerita yang pengen diselesain, buku yang pengen kalian tamatin? Mungkin film ato game? Oh... ada banyak film yang pengen gw tonton. Anyway, feel free to share it with us!

Hedj__

@dominicuan well, dugaan lu mungkin ada benarnya. Tapi percaya deh, lambat bukan berarti mandek, itu bukti kalau dunia yang kita ceritakan sebenarnya menuntut sebab-akibat naratif yang konsisten.
            
            Perfeksionis? Bisa jadi.
            
            Tapi kita sebagai penulisnya juga perlu sadar bahwa satu kesalahan kecil bisa ngerusak banyak layer dalam dunia cerita kita (politiknya, sistem ekonominya, sisi kriminalnya, atau teknologinya). Dan menurut ane, cerita-cerita fiksi ilmiah yang matang emang nggak bisa dikebut. Mereka butuh fondasi kokoh jauh sebelum konflik diperkenalkan.
            
            Emang udah lama banget, ya, hehe, tapi pada akhirnya gw seneng kita bisa diskusi lagi dan saling menyapa.
Reply

dominicuan

@Hedj__ Hi, it's so good to see you! Thank you so much for your kind words :)
            
            Gw gak nyangka kalo 1 bab per bulan itu tergolong luar biasa karena, damn, ada yang bisa rutin update per pekan! Memang kisaran babnya 1k kata, tapi bisa mempertahankan pace itu butuh konsistensi di level yang sama kayak Stephen King ato Brandon Sanderson. Well, antara itu ato emang, lagi-lagi, gw aja yang kelewat perfeksionis dan harus membiarkan draft mengendap 1-2 pekan, hanya untuk dirombak lagi, cuman buat update di WP yang itungannya masih draft pertama :P
            
            I can't believe it's been a long time since I've last seen you. Dapet kesempatan buat ngobrol lagi sama lu udah cukup bukti buat gw kalo lu setidaknya masih hidup! Terlepas dari itu, gw harap kabar lu baik-baik aja di tengah kesibukan duniawi dan, secercah harapan gw, agar lu bisa lanjut berkarya lagi :D Here's hoping for a great year to you too!
Reply

Hedj__

@dominicuan Wow! Congrats, Broh. Bisa konsisten nulis sebanyak itu adalah suatu pencapaian yang luar biasa. Ane jadi mengiri sekaligus terinspirasi. Haha. But take it easy, gw percaya bahwa nulis adalah proses, dan proses itu sendiri tentunya butuh pengorbanan yang luar biasa
Reply

dominicuan

Komitmen gw selama ini adalah memisahkan pandangan pribadi gw, baik sebagai Dominicuan maupun sebagai orang di balik Dominicuan, dengan keberadaan di sini. Fokus gw adalah menulis cerita yang ingin gw tulis dan biarkan pandangan gw muncul di cerita itu, disaring melalui karakter-karakter gw. Komitmen ini harusnya mudah buat diikutin. Harusnya gak ada kejadian yang membuat gw, seorang pengkhayal amatir, merasa dunia di mana dia tinggal gak beda jauh dengan dunia di karangannya.
          
          Kalo ada satu momen di mana komitmen itu bisa dilanggar, saat ini adalah salah satunya.
          
          Normalnya, seorang pelanggan berhak melayangkan komplain ke perusahaan ketika kualitas produk atau layanan mereka tidak sesuai standar. Normalnya, kalo perusahaan itu dijalankan dengan benar, komplain itu ditanggapi serius, pelanggan dibuat merasa terdengar, dan ada komitmen ke perubahan nyata. Apa yang terjadi sekarang nunjukkin kalo kita berada di situasi yang jauh dari kata normal.
          
          Gw gak punya privilege untuk berpartisipasi aktif ke protes yang terjadi. Gw juga yakin tulisan ini gak mungkin menyentuh banyak orang. Minimal gw bisa tenang kalo saat ini gw masih bisa bersuara dan mendukung dengan cara gw, walau kecil serta tidak signifikan.
          
          Bagi yang aktif berpartisipasi, terdampak langsung, dan semua di antara itu, tolong utamakan keselamatan diri. Sejarah mencatat perubahan besar gak terjadi dalam sehari, sepekan, ato sebulan. Mereka siap meredam suara dalam sehari. Sisihkan suara itu untuk waktu yang lama dan konsisten, cepat ato lambat mereka akan kewalahan. Ketika tidak kondusif, fokus utama adalah keselamatan diri. Ada orang tersayang yang menunggu, ada kewajiban dan impian yang perlu diperjuangkan setiap harinya. Jaga diri baik-baik karena saat ini gak ada yang bisa dipercaya menjaga kita selain kita sendiri. 'Kita' yang gw maksud bukan 1 ato 2 orang saja. 'Kita' semua adalah pelanggan, berurusan dengan perusahaan yang sama.
          
          Doa gw untuk kita semua.

SmiletoDelusion

@dominicuan weelah, dibalas cik. Btw Cybernetica udah terbit, tinggal nunggu cetaknya (ketunda TwT), dan gue baik kok. Lagi nyoba nyari-nyari motivasi buat nulis lagi sih. Writing like there's no tomorrow :)
Reply

dominicuan

@SmiletoDelusion Hi! Gw gak punya tempat lain buat berekspresi selain di sini. Gimana kabar lu? Terakhir gw denger lu berencana buat nerbitin Cybernetica. Damn, kayaknya lu author pertama yang gw kenal di sini yang bisa sampe nerbitin ceritanya.
            
            Iya, apa yang terjadi sekarang memang gak ada di rencana kita semua. Wajar kalo kita semua merasa cemas dan khawatir sama kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Gw yakin kita semua berharap semuanya bisa segera membaik. Sampai momen itu datang, yang bisa kita lakukan adalah memastikan kondisi kita semua. Terus jalani hidup, terus berekspresi, dan terus berkarya :)
Reply

SmiletoDelusion

@dominicuan lama gak keliatan Kak, untung Kakak masih aktif Wattpad TwT
            
            Btw gua langsung tau lu ngomongin apa pas lu bilang 'protes', dan meski gua gak ikut dalam aksinya, gua tetep khawatir klo semua bisa berakhir buruk (yah walau sebenarnya udah buruk sih). Moga-moga aja ini gak jadi lebih parah lagi - kita udah punya banyak kekacauan untuk tahun ini.
Reply

dominicuan

Pembahasan terakhir kita membahas, dengan contoh sederhana, perbedaan antara surprise vs suspense. Satu kemiripan dari beberapa buku yang khusus membahas teknik kepenulisan adalah penulis suka struktur. Buat ini, gw akan merujuk ke pembahasan dari James Scott Bell di Elements of Fiction Writing. Di bukunya, dia menyebutkan kalo suspense terdiri dari 4 struktur yang saling melengkapi. Artinya, idealnya sebuah cerita memiliki keempat komponen ini untuk menciptakan suspense.
          
          Struktur suspense yang pertama adalah macro suspense. Sesuai namanya, suspense di level struktur ini merujuk ke keseluruhan cerita (ie., level makro) dari awal sampe akhir. Ini berkaitan dengan salah satu bahasan yang pernah gw tulis: konflik dan konsekuensinya. Kalo kita inget lagi, suspense adalah "menunda resolusi". Resolusi yang dimaksud adalah penyelesaian dari konflik utama cerita kita. 
          
          Konflik dan resolusi gak cukup untuk menciptakan macro suspense karena kita butuh konsekuensi ato taruhan: apa yang terjadi ketika karakternya gagal menyelesaikan konflik. Menunda resolusi juga melibatkan menunda karakter menemukan solusi untuk konfliknya. Suspense lahir ketika karakter berada sedekat mungkin dengan kegagalan dan membuat audiens menunggu apakah yang terjadi ketika kegagalan itu benar terjadi.
          
          Film Zodiac (2007) menurut gw adalah salah satu contoh penerapan macro suspense. Film ini berdasarkan investigasi asli dari pembunuh berantai Zodiac Killer yang aktif di California sekitar tahun 60-an. Konfliknya simpel: apakah mereka bisa menangkap pembunuhnya? Cuman semua yang punya waktu buat nyari di internet bakal tau kalo sampe sekarang gak ada yang tau identitas asli pembunuhnya. 
          
          Jadi... di mana resolusinya? Apa filmnya curang karena dia berdasarkan kejadian nyata yang gak akan ada resolusinya?

dominicuan

Resolusi gak selamanya berarti "jawaban". Tidak ada jawaban, dengan sendirinya, adalah resolusi. Lebih penting lagi, filmnya gak benar-benar soal menangkap pembunuh karena, ya, emang gak ada yang pernah ketangkep. Gak kayak film misteri ala whodunit, kita ditunjukkan berkali-kali, sepanjang film, momen di mana Zodiac Killer membunuh korbannya. Itu karena bukan di situ letak misterinya. David Fincher sengaja menaruh lensanya ke orang-orang yang terobsesi selama investigasi ini. Suspense-nya berasal dari konsekuensi tanpa resolusi: berapa banyak yang akan mati sampai pembunuhnya tertangkap? Komponen konsekuensi itu yang mendorong suspense dan membuat kita terus bertanya-tanya meski tau kenyataan pahit dari salah satu cold case terkenal di AS. Kita mau tau sejauh mana obsesi ini berlangsung seakan mereka punya kesempatan untuk mencegah semua kematian itu.
            
            Macro suspense berarti memerhatikan, tidak hanya konflik dan resolusi yang ditunda, tapi konsekuensinya ke karakter utama. Hilangkan konsekuensi itu dan kita kehilangan pendorong utama yang membuat sebuah resolusi cerita bisa ditunda. Satu praktik yang Bell sebutkan di bukunya adalah dengan memformulasikan satu kalimat yang menggambarkan kombinasi konflik-resolusi-konsekuensi cerita kita. Kalo kita punya itu, setidaknya suspense di level terbesar sudah terjawab.
            
            Damn, gw gak nyangka bakal sepanjang ini dan baru satu struktur. Kita akan lanjut di post selanjutnya. Selagi nunggu, coba kalian bagikan kalimat yang menjadi macro suspense cerita kalian. Jangan sungkan juga jika ada pertanyaan ato feedback yang ingin kalian berikan! Udah lama gw gak bikin post kayak gini jadi gw pengen denger penilaian kalian :D
Reply

dominicuan

Gw waktu itu janjiin kalo post selanjutnya akan membahas soal struktur dan mekanisme suspense cerita. Kalo kalian baca post ini, gw bisa pastikan gw gak menepati janji :) Sulit menemukan waktu di antara kesibukan dan merangkum materi dari buku untuk dikemas agar mudah dicerna. Iya ini alasan yang sama kayak yang gw bagikan sebelumnya, dan iya gw cuman sempet nulis bab baru yang gw bagikan tapi gak sempet buat rangkum materi. What can I say, am I right :D
          
          Melihat ke belakang, setelah sekian banyak post yang gw tulis—bahasan atau diskusi soal kepenulisan, opini pribadi, sedikit intermezzo—gw belum pernah benar-benar menanyakan pertanyaan penting: apa ini yang kalian cari ato butuhkan?
          
          Gw pernah mengutarakan kalo gw jarang fokus ke bahasan soal EYD, PUEBI, gramatikal, ato yang sifatnya baku seperti "tulisan memerlukan X kalo ingin bagus". Ketertarikan gw, yang membawa gw terjun menulis fiksi dan ingin bagikan ke kalian, adalah memperlakukan tulisan sebagai seni. Tau aturan bahasa, pengejaan, ato memilih dialogue tags adalah bagian dari seni, tapi buat gw terlalu fokus ke situ seakan mereduksi seni cerita menjadi rentetan aturan ato checklist. Sebagai gantinya, gw menawarkan perspektif yang lebih fleksibel. Bahasan mengenai teknik yang gw temui dan aplikasikan bukan untuk dijadikan patokan cerita bagus. Sebaliknya, gw ingin nunjukin bagaimana mekanisme prinsip ato teknik itu, apa kemungkinan efeknya ke cerita, dan dari situ, kita punya keputusan bagaimana mengaplikasikannya sesuai kebutuhan serta efek yang kita inginkan. Bahkan wajar banget kalo pada akhirnya kita gak pengen nerapin itu sama sekali!

dominicuan

Apakah pendekatan ini tepat? Awalnya gw mengira iya. Seni gak bisa mudah didikotomi "benar-salah" ato "baik-buruk". Tapi beberapa kali berselancar di media sosial, terutama konten tips ato materi penulisan, penilaian gw berubah. Apa yang selama ini gw lakukan kayaknya sangat tidak membantu kebutuhan ato kesulitan teman-teman penulis. Bisa jadi karena topik yang gw pilih, bisa juga karena cara gw mengemasnya. Apa pun itu, gw ngerasa gw mungkin perlu mengevaluasi pendekatan gw.
            
            Gw pernah mengangkat ini, tapi baru kali ini gw mencoba menanyakan secara langsung ke kalian. Menurut kalian, terutama yang sedang ato tertarik untuk menulis cerita, materi seperti apa yang kalian butuhkan selama ini? Sejauh mana bahasan ato diskusi yang gw bagikan membantu kebutuhan itu? Apa yang menurut kalian ingin lebih banyak dibahas?
            
            Pertanyaan itu cuman sebagian yang terlintas di benak gw, tapi jangan sungkan untuk membagikan perspektif kalian di luar pertanyaan tersebut. Gw ingin mendengar semuanya. Gw gak menjamin ini akan mengubah tujuan ato approach gw dalam membagikan topik ato bahasan ke kalian, tapi bukan berarti pandangan kalian gak bernilai buat gw. Little bit of listening can go a long way after all!
Reply

SmiletoDelusion

Hai Kak Dom! Been a while :) Btw gak pantengin Cybernetica ngab? Udah kelar revisi lho

dominicuan

@CyberneticWanderer Hi! Iya, gw cek draft kedua Cybernetica udah selesai. Congrats to you! Kayaknya gw dah tinggal beberapa bab lagi sebelum selesai baca. Sayangnya kesibukan membuat gw sulit buat baca secara konsisten (buat nulis aja rasanya gak ada waktu!), padahal gw punya beberapa pengamatan menarik yang bisa gw bagikan soal hasil draft terbarunya. Maaf ya kalo itu perlu menunggu, tapi gw usahakan lu gak perlu menunggu terlalu lama :)
Reply

dominicuan

Kenapa kita butuh suspense? Apakah kejutan gak cukup?
          
          Percaya ato enggak, tanpa kita sadari, kita menerapkan prinsip suspense dalam tiap cerita yang kita buat. Kalo kita liat lagi definisi dari James Scott Bell, suspense adalah menunda resolusi. Buat sebagian yang menangkap, cukup mudah melihat kalo, sebentar, menunda resolusi? Bukannya semua cerita seperti itu? Kita tidak ingin semua konflik tuntas, tiap pertanyaan terjawab, tiap rahasia terungkap, semuanya dalam jarak yang dekat dari awal cerita. Kita ingin semua itu bisa disimpan sampe bagian paling akhir. Lebih dari itu, kita ingin pembaca terus membalik halaman karena rasa penasaran, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa lagi yang sedang menunggu kita?
          
          Yup. Semua itu adalah suspense.
          
          Menurut gw, dan alasan kenapa gw tertarik membahas topik ini, bukan karena kita butuh suspense. Gw percaya kita semua melakukannya sehingga gak ada gunanya mempertanyakan kenapa kita membutuhkannya. Yang lebih menarik lagi justru, bagaimana kita bisa secara sadar menerapkan dan memaksimalkan potensi suspense di cerita kita. Untuk itu, kita harus kenalan dengan struktur dan mekanisme di balik suspense.
          
          Andai gw udah nyiapin materi itu, gw akan bagikan sekarang. Ato dalam waktu dekat. Sayangnya gw belum :)
          
          Iya post ini singkat dan gak menambah dari post sebelumnya. Ini permintaan maaf gw. Gw akan kembali ke diskusi ini setelah gw punya waktu menyiapkan dan merangkum materi. And oh boy, do we have a lot to cover!
          
          Kalo kalian ada yang menemukan post ini, makasih banyak sudah bersedia menunggu. Silakan banget kalo ada pertanyaan ato masukkan buat pembahasan ini. Kalian semua adalah kolaborator di sini, dan gw ingin kalian merasa jadi bagian dari semua diskusi kita. Feel free to drop your thoughts here!

dominicuan

@FizzlingSoda Great point! Yang lu sebutkan itu adalah salah satu bentuk suspense. James Scott Bell punya bab tersendiri buat ngebahas cara membuat suspense dengan menunjukkan karakter dalam bahaya atau terancam bahaya. Suspense terbangun karena pembaca ingin tahu apa yang akan terjadi dengan karakternya, ato lebih tepatnya, apa yang karakternya akan lakukan untuk keluar dari bahaya. 
            
            Iya, risiko dari penggunaan terlalu sering adalah suspense-nya jadi mencolok dan mudah diprediksi. Ketika kita cuma make satu varian terus menerus, pembaca bisa memiliki persepsi yang salah, kayak karakter yang terlihat lemah yang lu sebutkan. Biasanya ini paling sering terjadi ketika suspense dijadikan sebagai penutup bab sehingga pembaca jadi penasaran akan seperti apa karakternya di bab selanjutnya.
            
            Gw pengen banget bisa membahas itu, tapi kayaknya gw gak akan sanggup! Rencana gw adalah suspense yang gw fokuskan lebih granular, yaitu di level dialog dan adegan. Mungkin, suatu saat, gw bisa merangkum dan menyederhanakan materi di Elements of Fiction Writing - Conflict and Suspense. Sampai waktu itu tiba, gw harap lu gak keberatan dengan bahasan yang terpotong-potong kayak saat ini :)
Reply

dominicuan

@CyberneticWanderer Iya, gw mengamati ada banyak akhiran bab yang sifatnya seperti suspense. James Scott Bell mengklasifikasikan itu sebagai cliffhanger dan dia ngebahas beberapa tipe cliffhanger yang bisa dipakai.
            
            Nah, apakah normal menggunakannya berkali-kali? Kita bisa berargumen kalo akhiran semacam itu yang kita inginkan! Suspense membuat pembaca ingin membaca halaman selanjutnya untuk tahu seperti apa resolusi yang menanti.
            
            Tantangan sebenarnya, dan ini ditekankan sama Bell di bukunya, adalah bagaimana menyembunyikan si suspense ini agar gak keliatan mencolok. Terlalu mencolok dan ilusi suspense-nya bisa hilang dan melemahkannya. Ini berlaku untuk banyak hal; kayak kejutan! Terlalu sering dan mencolok, pembaca memprediksinya sehingga gak ada 'kejutan' lagi di kejutan itu.
Reply

FizzlingSoda

@dominicuan nah, kadang suspense sendiri bisa buat karakter jadi terlihat lemah sih. Contoh di gw biasanya ada satu karakter terlihat kayak samsak terus sih wkkw
Reply

dominicuan

Bayangkan kita sedang menonton 2 adegan.
          
          Adegan pertama, kita melihat karakter utama turun dari mobil sambil membawa belanjaannya. Dia menekan tombol untuk mengunci mobil dan berjalan ke pintu depan rumahnya. Dia membuka pintu, kaki kanannya yang pertama kali memasuki rumah.
          
          Di saat yang sama, rumahnya meledak.
          
          Adegan kedua, kita melihat karakter utama yang sama, keluar dari mobil membawa belanjaan dan berjalan ke rumahnya. Kali ini, kamera berpindah ke loteng di atas rumah. Sebuah bom rakitan dengan timer yang mulai menghitung mundur ketika tombol kunci mobilnya ditekan. 30 detik tersisa. Persis waktu yang dibutuhkan untuk masuk ke rumah.
          
          25 detik. Kakinya sudah melangkah masuk. 20 detik. Pintu depan dikunci. 15 detik. Belanjaan mulai dimasukkan ke laci dan kulkas. 8 detik. Ada belanjaan yang ketinggalan di mobil. 5 detik. Dia berjalan santai ke pintu depan. Tangannya memutar kenop pintu. 3... 2... 1...
          
          Apa yang berbeda dari 2 adegan tadi?

dominicuan

Bisa dilihat, pembeda utama antara surprise dan suspense adalah seberapa cepat resolusi atau ekspektasi dipertahankan. Surprise berusaha memutarbalik ekspektasi secepat mungkin sedangkan suspense mengulurnya. Surprise terjadi ketika ekspektasinya berubah sedangkan suspense menunda ekspektasinya terkonfirmasi. Kita juga bisa melihat perbedaan pengalaman emosi audiens di antar keduanya. Surprise membuat kita terkejut, sedangkan suspense membuat kita menunggu atau mengantisipasi.
            
            Dua istilah berbeda dengan cara kerjanya masing-masing, tapi apakah artinya kita memilih salah satu? Menariknya, kedua buku yang gw kutip sepakat kalo keduanya punya banyak irisan dan bisa saling melengkapi. Surprise bisa menjadi setup suspense atau menjadi resolusinya. Sebaliknya, suspense bisa berperan dalam menyiapkan surprise yang memutarbalik ekspektasi.
            
            Khusus untuk topik ini dan selanjutnya, kita hanya akan membahas suspense. Gw ngerasa udah ada banyak penulis yang membahas surprise secara lebih mendalam dan lebih baik. Kali ini gw pengen mencoba bikin suspense mendapat perhatian yang sama dari para penulis!
            
            Kita udah kenalan dengan definisi surprise dan suspense serta perbedaan keduanya. Kalo kita balik ke 2 contoh adegan di awal post, mana menurut kalian yang surprise dan suspense? Apa alasannya? Gw juga tertarik apakah kalian pernah mendengar atau punya penjelasan berbeda soal definisi surprise dan suspense. Kalo iya, feel free to share it with us! Jangan sungkan juga buat membagikan penilaian kalian soal post ini :D
Reply

dominicuan

Jane Cleland di bukunya Mastering Suspense, Structure, and Plot mendefinisikan surprise sebagai kejadian di cerita yang terjadi berlawanan dengan sangkaan atau dugaan yang dibangun. Surprise terjadi secara tiba-tiba dan tanpa pengetahuan pembaca sebelumnya. Bayangkan pesulap yang menarik koin dari telinga kita. Kita gak pernah tau ada koin di sana, kita gak pernah menyangka pesulapnya bisa mengeluarkan koin, dan semua itu berubah akibat satu tindakan yang pesulapnya lakukan.
            
            Bagaimana dengan suspense? Di Elements of Fiction Writing - Conflict and Suspense oleh James Scott Bell, suspense adalah upaya menunda resolusi. Kalo diliat, definisi ini tidak menyebut ekspektasi, sangkaan, atau dugaan. Itu karena pembaca perlu memiliki informasi, tidak harus lengkap atau utuh, tapi cukup untuk bisa membangun ekspektasi mengenai apa yang akan atau mungkin terjadi. Ekspektasi ini tidak akan dilawan atau diubah 180°, tapi kesimpulannya diulur selama mungkin. Selama diulur itu, kita tetap tau kemungkinan yang akan terjadi meski kita gak langsung mendapat konfirmasi apakah akan terjadi atau tidak. Menggunakan contoh pesulap, bayangkan triknya kali ini adalah menebak kartu yang kita ambil secara acak dari tumpukan. Kita tau yang terjadi di akhir triknya adalah si pesulap akan menebak kartu kita. Pengetahuan itu yang membuat kita betah, karena yang kita ingin lihat adalah kapan dan bagaimana triknya diselesaikan.
Reply

dominicuan

Oke, adegan pertama lebih singkat. 100 poin buat jawaban benar! Apa yang bikin adegannya lebih singkat? Bom meledak lebih cepat di adegan pertama dibanding yang kedua. Bahkan di adegan kedua kita gak tau apakah bomnya bakal meledak. Oke, 100 poin lagi! Sekarang perhatikan bomnya. Ada yang beda, kan? Bukan beda jenisnya, tapi penyajiannya di adegan. Di adegan pertama, kita baru tau ada bom setelah dia meledak, sedangkan di adegan kedua, kita tau cukup awal kalo ada bom dan selalu diingatkan keberadaannya sepanjang adegan berlangsung.
            
            Kenapa perbedaan ini penting? Karena contoh ini yang dipake sama Alfred Hitchcock (dengan parafrase gw) buat nunjukkin dua pendekatan agar penonton terus nempel ke layar: surprise dan suspense. Untuk seterusnya, gw akan menggunakan 2 istilah ini dalam bahasa Inggris karena sulitnya menemukan padanan bahasa Indonesia yang tepat. Surprise bisa diterjemahkan menjadi 'kejutan', tapi suspense? Gw mencoba menggunakan istilah ketegangan di post sebelumnya, tapi ketegangan lebih tepat diterjemahkan menjadi tension, dan seperti yang akan kita bahas nanti, tension adalah elemen yang dipake baik di surprise dan suspense.
            
            Tapi ngomongin soal surprise vs suspense, apa bedanya?
Reply