dominicuan
Link to CommentCode of ConductWattpad Safety Portal
Komitmen gw selama ini adalah memisahkan pandangan pribadi gw, baik sebagai Dominicuan maupun sebagai orang di balik Dominicuan, dengan keberadaan di sini. Fokus gw adalah menulis cerita yang ingin gw tulis dan biarkan pandangan gw muncul di cerita itu, disaring melalui karakter-karakter gw. Komitmen ini harusnya mudah buat diikutin. Harusnya gak ada kejadian yang membuat gw, seorang pengkhayal amatir, merasa dunia di mana dia tinggal gak beda jauh dengan dunia di karangannya.
Kalo ada satu momen di mana komitmen itu bisa dilanggar, saat ini adalah salah satunya.
Normalnya, seorang pelanggan berhak melayangkan komplain ke perusahaan ketika kualitas produk atau layanan mereka tidak sesuai standar. Normalnya, kalo perusahaan itu dijalankan dengan benar, komplain itu ditanggapi serius, pelanggan dibuat merasa terdengar, dan ada komitmen ke perubahan nyata. Apa yang terjadi sekarang nunjukkin kalo kita berada di situasi yang jauh dari kata normal.
Gw gak punya privilege untuk berpartisipasi aktif ke protes yang terjadi. Gw juga yakin tulisan ini gak mungkin menyentuh banyak orang. Minimal gw bisa tenang kalo saat ini gw masih bisa bersuara dan mendukung dengan cara gw, walau kecil serta tidak signifikan.
Bagi yang aktif berpartisipasi, terdampak langsung, dan semua di antara itu, tolong utamakan keselamatan diri. Sejarah mencatat perubahan besar gak terjadi dalam sehari, sepekan, ato sebulan. Mereka siap meredam suara dalam sehari. Sisihkan suara itu untuk waktu yang lama dan konsisten, cepat ato lambat mereka akan kewalahan. Ketika tidak kondusif, fokus utama adalah keselamatan diri. Ada orang tersayang yang menunggu, ada kewajiban dan impian yang perlu diperjuangkan setiap harinya. Jaga diri baik-baik karena saat ini gak ada yang bisa dipercaya menjaga kita selain kita sendiri. 'Kita' yang gw maksud bukan 1 ato 2 orang saja. 'Kita' semua adalah pelanggan, berurusan dengan perusahaan yang sama.
Doa gw untuk kita semua.
SmiletoDelusion
@dominicuan weelah, dibalas cik. Btw Cybernetica udah terbit, tinggal nunggu cetaknya (ketunda TwT), dan gue baik kok. Lagi nyoba nyari-nyari motivasi buat nulis lagi sih. Writing like there's no tomorrow :)
•
Reply
dominicuan
@SmiletoDelusion Hi! Gw gak punya tempat lain buat berekspresi selain di sini. Gimana kabar lu? Terakhir gw denger lu berencana buat nerbitin Cybernetica. Damn, kayaknya lu author pertama yang gw kenal di sini yang bisa sampe nerbitin ceritanya. Iya, apa yang terjadi sekarang memang gak ada di rencana kita semua. Wajar kalo kita semua merasa cemas dan khawatir sama kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Gw yakin kita semua berharap semuanya bisa segera membaik. Sampai momen itu datang, yang bisa kita lakukan adalah memastikan kondisi kita semua. Terus jalani hidup, terus berekspresi, dan terus berkarya :)
•
Reply
SmiletoDelusion
@dominicuan lama gak keliatan Kak, untung Kakak masih aktif Wattpad TwT Btw gua langsung tau lu ngomongin apa pas lu bilang 'protes', dan meski gua gak ikut dalam aksinya, gua tetep khawatir klo semua bisa berakhir buruk (yah walau sebenarnya udah buruk sih). Moga-moga aja ini gak jadi lebih parah lagi - kita udah punya banyak kekacauan untuk tahun ini.
•
Reply
dominicuan
Komitmen gw selama ini adalah memisahkan pandangan pribadi gw, baik sebagai Dominicuan maupun sebagai orang di balik Dominicuan, dengan keberadaan di sini. Fokus gw adalah menulis cerita yang ingin gw tulis dan biarkan pandangan gw muncul di cerita itu, disaring melalui karakter-karakter gw. Komitmen ini harusnya mudah buat diikutin. Harusnya gak ada kejadian yang membuat gw, seorang pengkhayal amatir, merasa dunia di mana dia tinggal gak beda jauh dengan dunia di karangannya.
Kalo ada satu momen di mana komitmen itu bisa dilanggar, saat ini adalah salah satunya.
Normalnya, seorang pelanggan berhak melayangkan komplain ke perusahaan ketika kualitas produk atau layanan mereka tidak sesuai standar. Normalnya, kalo perusahaan itu dijalankan dengan benar, komplain itu ditanggapi serius, pelanggan dibuat merasa terdengar, dan ada komitmen ke perubahan nyata. Apa yang terjadi sekarang nunjukkin kalo kita berada di situasi yang jauh dari kata normal.
Gw gak punya privilege untuk berpartisipasi aktif ke protes yang terjadi. Gw juga yakin tulisan ini gak mungkin menyentuh banyak orang. Minimal gw bisa tenang kalo saat ini gw masih bisa bersuara dan mendukung dengan cara gw, walau kecil serta tidak signifikan.
Bagi yang aktif berpartisipasi, terdampak langsung, dan semua di antara itu, tolong utamakan keselamatan diri. Sejarah mencatat perubahan besar gak terjadi dalam sehari, sepekan, ato sebulan. Mereka siap meredam suara dalam sehari. Sisihkan suara itu untuk waktu yang lama dan konsisten, cepat ato lambat mereka akan kewalahan. Ketika tidak kondusif, fokus utama adalah keselamatan diri. Ada orang tersayang yang menunggu, ada kewajiban dan impian yang perlu diperjuangkan setiap harinya. Jaga diri baik-baik karena saat ini gak ada yang bisa dipercaya menjaga kita selain kita sendiri. 'Kita' yang gw maksud bukan 1 ato 2 orang saja. 'Kita' semua adalah pelanggan, berurusan dengan perusahaan yang sama.
Doa gw untuk kita semua.
SmiletoDelusion
@dominicuan weelah, dibalas cik. Btw Cybernetica udah terbit, tinggal nunggu cetaknya (ketunda TwT), dan gue baik kok. Lagi nyoba nyari-nyari motivasi buat nulis lagi sih. Writing like there's no tomorrow :)
•
Reply
dominicuan
@SmiletoDelusion Hi! Gw gak punya tempat lain buat berekspresi selain di sini. Gimana kabar lu? Terakhir gw denger lu berencana buat nerbitin Cybernetica. Damn, kayaknya lu author pertama yang gw kenal di sini yang bisa sampe nerbitin ceritanya. Iya, apa yang terjadi sekarang memang gak ada di rencana kita semua. Wajar kalo kita semua merasa cemas dan khawatir sama kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Gw yakin kita semua berharap semuanya bisa segera membaik. Sampai momen itu datang, yang bisa kita lakukan adalah memastikan kondisi kita semua. Terus jalani hidup, terus berekspresi, dan terus berkarya :)
•
Reply
SmiletoDelusion
@dominicuan lama gak keliatan Kak, untung Kakak masih aktif Wattpad TwT Btw gua langsung tau lu ngomongin apa pas lu bilang 'protes', dan meski gua gak ikut dalam aksinya, gua tetep khawatir klo semua bisa berakhir buruk (yah walau sebenarnya udah buruk sih). Moga-moga aja ini gak jadi lebih parah lagi - kita udah punya banyak kekacauan untuk tahun ini.
•
Reply
dominicuan
Pembahasan terakhir kita membahas, dengan contoh sederhana, perbedaan antara surprise vs suspense. Satu kemiripan dari beberapa buku yang khusus membahas teknik kepenulisan adalah penulis suka struktur. Buat ini, gw akan merujuk ke pembahasan dari James Scott Bell di Elements of Fiction Writing. Di bukunya, dia menyebutkan kalo suspense terdiri dari 4 struktur yang saling melengkapi. Artinya, idealnya sebuah cerita memiliki keempat komponen ini untuk menciptakan suspense.
Struktur suspense yang pertama adalah macro suspense. Sesuai namanya, suspense di level struktur ini merujuk ke keseluruhan cerita (ie., level makro) dari awal sampe akhir. Ini berkaitan dengan salah satu bahasan yang pernah gw tulis: konflik dan konsekuensinya. Kalo kita inget lagi, suspense adalah "menunda resolusi". Resolusi yang dimaksud adalah penyelesaian dari konflik utama cerita kita.
Konflik dan resolusi gak cukup untuk menciptakan macro suspense karena kita butuh konsekuensi ato taruhan: apa yang terjadi ketika karakternya gagal menyelesaikan konflik. Menunda resolusi juga melibatkan menunda karakter menemukan solusi untuk konfliknya. Suspense lahir ketika karakter berada sedekat mungkin dengan kegagalan dan membuat audiens menunggu apakah yang terjadi ketika kegagalan itu benar terjadi.
Film Zodiac (2007) menurut gw adalah salah satu contoh penerapan macro suspense. Film ini berdasarkan investigasi asli dari pembunuh berantai Zodiac Killer yang aktif di California sekitar tahun 60-an. Konfliknya simpel: apakah mereka bisa menangkap pembunuhnya? Cuman semua yang punya waktu buat nyari di internet bakal tau kalo sampe sekarang gak ada yang tau identitas asli pembunuhnya.
Jadi... di mana resolusinya? Apa filmnya curang karena dia berdasarkan kejadian nyata yang gak akan ada resolusinya?
dominicuan
Resolusi gak selamanya berarti "jawaban". Tidak ada jawaban, dengan sendirinya, adalah resolusi. Lebih penting lagi, filmnya gak benar-benar soal menangkap pembunuh karena, ya, emang gak ada yang pernah ketangkep. Gak kayak film misteri ala whodunit, kita ditunjukkan berkali-kali, sepanjang film, momen di mana Zodiac Killer membunuh korbannya. Itu karena bukan di situ letak misterinya. David Fincher sengaja menaruh lensanya ke orang-orang yang terobsesi selama investigasi ini. Suspense-nya berasal dari konsekuensi tanpa resolusi: berapa banyak yang akan mati sampai pembunuhnya tertangkap? Komponen konsekuensi itu yang mendorong suspense dan membuat kita terus bertanya-tanya meski tau kenyataan pahit dari salah satu cold case terkenal di AS. Kita mau tau sejauh mana obsesi ini berlangsung seakan mereka punya kesempatan untuk mencegah semua kematian itu.
Macro suspense berarti memerhatikan, tidak hanya konflik dan resolusi yang ditunda, tapi konsekuensinya ke karakter utama. Hilangkan konsekuensi itu dan kita kehilangan pendorong utama yang membuat sebuah resolusi cerita bisa ditunda. Satu praktik yang Bell sebutkan di bukunya adalah dengan memformulasikan satu kalimat yang menggambarkan kombinasi konflik-resolusi-konsekuensi cerita kita. Kalo kita punya itu, setidaknya suspense di level terbesar sudah terjawab.
Damn, gw gak nyangka bakal sepanjang ini dan baru satu struktur. Kita akan lanjut di post selanjutnya. Selagi nunggu, coba kalian bagikan kalimat yang menjadi macro suspense cerita kalian. Jangan sungkan juga jika ada pertanyaan ato feedback yang ingin kalian berikan! Udah lama gw gak bikin post kayak gini jadi gw pengen denger penilaian kalian :D
•
Reply
dominicuan
Gw waktu itu janjiin kalo post selanjutnya akan membahas soal struktur dan mekanisme suspense cerita. Kalo kalian baca post ini, gw bisa pastikan gw gak menepati janji :) Sulit menemukan waktu di antara kesibukan dan merangkum materi dari buku untuk dikemas agar mudah dicerna. Iya ini alasan yang sama kayak yang gw bagikan sebelumnya, dan iya gw cuman sempet nulis bab baru yang gw bagikan tapi gak sempet buat rangkum materi. What can I say, am I right :D
Melihat ke belakang, setelah sekian banyak post yang gw tulis—bahasan atau diskusi soal kepenulisan, opini pribadi, sedikit intermezzo—gw belum pernah benar-benar menanyakan pertanyaan penting: apa ini yang kalian cari ato butuhkan?
Gw pernah mengutarakan kalo gw jarang fokus ke bahasan soal EYD, PUEBI, gramatikal, ato yang sifatnya baku seperti "tulisan memerlukan X kalo ingin bagus". Ketertarikan gw, yang membawa gw terjun menulis fiksi dan ingin bagikan ke kalian, adalah memperlakukan tulisan sebagai seni. Tau aturan bahasa, pengejaan, ato memilih dialogue tags adalah bagian dari seni, tapi buat gw terlalu fokus ke situ seakan mereduksi seni cerita menjadi rentetan aturan ato checklist. Sebagai gantinya, gw menawarkan perspektif yang lebih fleksibel. Bahasan mengenai teknik yang gw temui dan aplikasikan bukan untuk dijadikan patokan cerita bagus. Sebaliknya, gw ingin nunjukin bagaimana mekanisme prinsip ato teknik itu, apa kemungkinan efeknya ke cerita, dan dari situ, kita punya keputusan bagaimana mengaplikasikannya sesuai kebutuhan serta efek yang kita inginkan. Bahkan wajar banget kalo pada akhirnya kita gak pengen nerapin itu sama sekali!
dominicuan
Apakah pendekatan ini tepat? Awalnya gw mengira iya. Seni gak bisa mudah didikotomi "benar-salah" ato "baik-buruk". Tapi beberapa kali berselancar di media sosial, terutama konten tips ato materi penulisan, penilaian gw berubah. Apa yang selama ini gw lakukan kayaknya sangat tidak membantu kebutuhan ato kesulitan teman-teman penulis. Bisa jadi karena topik yang gw pilih, bisa juga karena cara gw mengemasnya. Apa pun itu, gw ngerasa gw mungkin perlu mengevaluasi pendekatan gw.
Gw pernah mengangkat ini, tapi baru kali ini gw mencoba menanyakan secara langsung ke kalian. Menurut kalian, terutama yang sedang ato tertarik untuk menulis cerita, materi seperti apa yang kalian butuhkan selama ini? Sejauh mana bahasan ato diskusi yang gw bagikan membantu kebutuhan itu? Apa yang menurut kalian ingin lebih banyak dibahas?
Pertanyaan itu cuman sebagian yang terlintas di benak gw, tapi jangan sungkan untuk membagikan perspektif kalian di luar pertanyaan tersebut. Gw ingin mendengar semuanya. Gw gak menjamin ini akan mengubah tujuan ato approach gw dalam membagikan topik ato bahasan ke kalian, tapi bukan berarti pandangan kalian gak bernilai buat gw. Little bit of listening can go a long way after all!
•
Reply
SmiletoDelusion
Hai Kak Dom! Been a while :) Btw gak pantengin Cybernetica ngab? Udah kelar revisi lho
dominicuan
@CyberneticWanderer Hi! Iya, gw cek draft kedua Cybernetica udah selesai. Congrats to you! Kayaknya gw dah tinggal beberapa bab lagi sebelum selesai baca. Sayangnya kesibukan membuat gw sulit buat baca secara konsisten (buat nulis aja rasanya gak ada waktu!), padahal gw punya beberapa pengamatan menarik yang bisa gw bagikan soal hasil draft terbarunya. Maaf ya kalo itu perlu menunggu, tapi gw usahakan lu gak perlu menunggu terlalu lama :)
•
Reply
dominicuan
Kenapa kita butuh suspense? Apakah kejutan gak cukup?
Percaya ato enggak, tanpa kita sadari, kita menerapkan prinsip suspense dalam tiap cerita yang kita buat. Kalo kita liat lagi definisi dari James Scott Bell, suspense adalah menunda resolusi. Buat sebagian yang menangkap, cukup mudah melihat kalo, sebentar, menunda resolusi? Bukannya semua cerita seperti itu? Kita tidak ingin semua konflik tuntas, tiap pertanyaan terjawab, tiap rahasia terungkap, semuanya dalam jarak yang dekat dari awal cerita. Kita ingin semua itu bisa disimpan sampe bagian paling akhir. Lebih dari itu, kita ingin pembaca terus membalik halaman karena rasa penasaran, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa lagi yang sedang menunggu kita?
Yup. Semua itu adalah suspense.
Menurut gw, dan alasan kenapa gw tertarik membahas topik ini, bukan karena kita butuh suspense. Gw percaya kita semua melakukannya sehingga gak ada gunanya mempertanyakan kenapa kita membutuhkannya. Yang lebih menarik lagi justru, bagaimana kita bisa secara sadar menerapkan dan memaksimalkan potensi suspense di cerita kita. Untuk itu, kita harus kenalan dengan struktur dan mekanisme di balik suspense.
Andai gw udah nyiapin materi itu, gw akan bagikan sekarang. Ato dalam waktu dekat. Sayangnya gw belum :)
Iya post ini singkat dan gak menambah dari post sebelumnya. Ini permintaan maaf gw. Gw akan kembali ke diskusi ini setelah gw punya waktu menyiapkan dan merangkum materi. And oh boy, do we have a lot to cover!
Kalo kalian ada yang menemukan post ini, makasih banyak sudah bersedia menunggu. Silakan banget kalo ada pertanyaan ato masukkan buat pembahasan ini. Kalian semua adalah kolaborator di sini, dan gw ingin kalian merasa jadi bagian dari semua diskusi kita. Feel free to drop your thoughts here!
dominicuan
@FizzlingSoda Great point! Yang lu sebutkan itu adalah salah satu bentuk suspense. James Scott Bell punya bab tersendiri buat ngebahas cara membuat suspense dengan menunjukkan karakter dalam bahaya atau terancam bahaya. Suspense terbangun karena pembaca ingin tahu apa yang akan terjadi dengan karakternya, ato lebih tepatnya, apa yang karakternya akan lakukan untuk keluar dari bahaya. Iya, risiko dari penggunaan terlalu sering adalah suspense-nya jadi mencolok dan mudah diprediksi. Ketika kita cuma make satu varian terus menerus, pembaca bisa memiliki persepsi yang salah, kayak karakter yang terlihat lemah yang lu sebutkan. Biasanya ini paling sering terjadi ketika suspense dijadikan sebagai penutup bab sehingga pembaca jadi penasaran akan seperti apa karakternya di bab selanjutnya. Gw pengen banget bisa membahas itu, tapi kayaknya gw gak akan sanggup! Rencana gw adalah suspense yang gw fokuskan lebih granular, yaitu di level dialog dan adegan. Mungkin, suatu saat, gw bisa merangkum dan menyederhanakan materi di Elements of Fiction Writing - Conflict and Suspense. Sampai waktu itu tiba, gw harap lu gak keberatan dengan bahasan yang terpotong-potong kayak saat ini :)
•
Reply
dominicuan
@CyberneticWanderer Iya, gw mengamati ada banyak akhiran bab yang sifatnya seperti suspense. James Scott Bell mengklasifikasikan itu sebagai cliffhanger dan dia ngebahas beberapa tipe cliffhanger yang bisa dipakai. Nah, apakah normal menggunakannya berkali-kali? Kita bisa berargumen kalo akhiran semacam itu yang kita inginkan! Suspense membuat pembaca ingin membaca halaman selanjutnya untuk tahu seperti apa resolusi yang menanti. Tantangan sebenarnya, dan ini ditekankan sama Bell di bukunya, adalah bagaimana menyembunyikan si suspense ini agar gak keliatan mencolok. Terlalu mencolok dan ilusi suspense-nya bisa hilang dan melemahkannya. Ini berlaku untuk banyak hal; kayak kejutan! Terlalu sering dan mencolok, pembaca memprediksinya sehingga gak ada 'kejutan' lagi di kejutan itu.
•
Reply
FizzlingSoda
@dominicuan nah, kadang suspense sendiri bisa buat karakter jadi terlihat lemah sih. Contoh di gw biasanya ada satu karakter terlihat kayak samsak terus sih wkkw
•
Reply
dominicuan
Bayangkan kita sedang menonton 2 adegan.
Adegan pertama, kita melihat karakter utama turun dari mobil sambil membawa belanjaannya. Dia menekan tombol untuk mengunci mobil dan berjalan ke pintu depan rumahnya. Dia membuka pintu, kaki kanannya yang pertama kali memasuki rumah.
Di saat yang sama, rumahnya meledak.
Adegan kedua, kita melihat karakter utama yang sama, keluar dari mobil membawa belanjaan dan berjalan ke rumahnya. Kali ini, kamera berpindah ke loteng di atas rumah. Sebuah bom rakitan dengan timer yang mulai menghitung mundur ketika tombol kunci mobilnya ditekan. 30 detik tersisa. Persis waktu yang dibutuhkan untuk masuk ke rumah.
25 detik. Kakinya sudah melangkah masuk. 20 detik. Pintu depan dikunci. 15 detik. Belanjaan mulai dimasukkan ke laci dan kulkas. 8 detik. Ada belanjaan yang ketinggalan di mobil. 5 detik. Dia berjalan santai ke pintu depan. Tangannya memutar kenop pintu. 3... 2... 1...
Apa yang berbeda dari 2 adegan tadi?
dominicuan
Bisa dilihat, pembeda utama antara surprise dan suspense adalah seberapa cepat resolusi atau ekspektasi dipertahankan. Surprise berusaha memutarbalik ekspektasi secepat mungkin sedangkan suspense mengulurnya. Surprise terjadi ketika ekspektasinya berubah sedangkan suspense menunda ekspektasinya terkonfirmasi. Kita juga bisa melihat perbedaan pengalaman emosi audiens di antar keduanya. Surprise membuat kita terkejut, sedangkan suspense membuat kita menunggu atau mengantisipasi.
Dua istilah berbeda dengan cara kerjanya masing-masing, tapi apakah artinya kita memilih salah satu? Menariknya, kedua buku yang gw kutip sepakat kalo keduanya punya banyak irisan dan bisa saling melengkapi. Surprise bisa menjadi setup suspense atau menjadi resolusinya. Sebaliknya, suspense bisa berperan dalam menyiapkan surprise yang memutarbalik ekspektasi.
Khusus untuk topik ini dan selanjutnya, kita hanya akan membahas suspense. Gw ngerasa udah ada banyak penulis yang membahas surprise secara lebih mendalam dan lebih baik. Kali ini gw pengen mencoba bikin suspense mendapat perhatian yang sama dari para penulis!
Kita udah kenalan dengan definisi surprise dan suspense serta perbedaan keduanya. Kalo kita balik ke 2 contoh adegan di awal post, mana menurut kalian yang surprise dan suspense? Apa alasannya? Gw juga tertarik apakah kalian pernah mendengar atau punya penjelasan berbeda soal definisi surprise dan suspense. Kalo iya, feel free to share it with us! Jangan sungkan juga buat membagikan penilaian kalian soal post ini :D
•
Reply
dominicuan
Jane Cleland di bukunya Mastering Suspense, Structure, and Plot mendefinisikan surprise sebagai kejadian di cerita yang terjadi berlawanan dengan sangkaan atau dugaan yang dibangun. Surprise terjadi secara tiba-tiba dan tanpa pengetahuan pembaca sebelumnya. Bayangkan pesulap yang menarik koin dari telinga kita. Kita gak pernah tau ada koin di sana, kita gak pernah menyangka pesulapnya bisa mengeluarkan koin, dan semua itu berubah akibat satu tindakan yang pesulapnya lakukan.
Bagaimana dengan suspense? Di Elements of Fiction Writing - Conflict and Suspense oleh James Scott Bell, suspense adalah upaya menunda resolusi. Kalo diliat, definisi ini tidak menyebut ekspektasi, sangkaan, atau dugaan. Itu karena pembaca perlu memiliki informasi, tidak harus lengkap atau utuh, tapi cukup untuk bisa membangun ekspektasi mengenai apa yang akan atau mungkin terjadi. Ekspektasi ini tidak akan dilawan atau diubah 180°, tapi kesimpulannya diulur selama mungkin. Selama diulur itu, kita tetap tau kemungkinan yang akan terjadi meski kita gak langsung mendapat konfirmasi apakah akan terjadi atau tidak. Menggunakan contoh pesulap, bayangkan triknya kali ini adalah menebak kartu yang kita ambil secara acak dari tumpukan. Kita tau yang terjadi di akhir triknya adalah si pesulap akan menebak kartu kita. Pengetahuan itu yang membuat kita betah, karena yang kita ingin lihat adalah kapan dan bagaimana triknya diselesaikan.
•
Reply
dominicuan
Oke, adegan pertama lebih singkat. 100 poin buat jawaban benar! Apa yang bikin adegannya lebih singkat? Bom meledak lebih cepat di adegan pertama dibanding yang kedua. Bahkan di adegan kedua kita gak tau apakah bomnya bakal meledak. Oke, 100 poin lagi! Sekarang perhatikan bomnya. Ada yang beda, kan? Bukan beda jenisnya, tapi penyajiannya di adegan. Di adegan pertama, kita baru tau ada bom setelah dia meledak, sedangkan di adegan kedua, kita tau cukup awal kalo ada bom dan selalu diingatkan keberadaannya sepanjang adegan berlangsung.
Kenapa perbedaan ini penting? Karena contoh ini yang dipake sama Alfred Hitchcock (dengan parafrase gw) buat nunjukkin dua pendekatan agar penonton terus nempel ke layar: surprise dan suspense. Untuk seterusnya, gw akan menggunakan 2 istilah ini dalam bahasa Inggris karena sulitnya menemukan padanan bahasa Indonesia yang tepat. Surprise bisa diterjemahkan menjadi 'kejutan', tapi suspense? Gw mencoba menggunakan istilah ketegangan di post sebelumnya, tapi ketegangan lebih tepat diterjemahkan menjadi tension, dan seperti yang akan kita bahas nanti, tension adalah elemen yang dipake baik di surprise dan suspense.
Tapi ngomongin soal surprise vs suspense, apa bedanya?
•
Reply
dominicuan
Kalian ngerasa gak kalo banyak cerita, terutama berbahasa Indo, berusaha membuat kita terkejut? Gak cuma di genre yang menjual kejutan; romance, drama, misteri, dll pun menggunakan teknik yang sama.
Setidaknya, itu yang gw rasain selama ngebaca beberapa karya di WP dan di platform lain. Rasanya selalu ada plot twist, cliff hanger, ato penggalan "tiba-tiba..." di sebuah adegan yang memberi sinyal akan ada kejutan, ato lebih tepatnya, agar kita merasa kaget. Iya bacaan gw masih terbatas (jujur gak bertambah pesat sejak gw mulai nulis), tapi gw cukup tergelitik. Apakah ini kebetulan ato fenomena yang lebih luas?
Gw pun mencoba merefleksikan dengan tren media kita. Genre horor secara konsisten merajai dunia perfilman, dan kita tau genre itu kental dengan kejutan. Di luar itu, seperti di film/series yang non-horor, seperti yang gw bilang sebelumnya, ada aja kejutan yang disajikan. Perlu diakuin, kejutan adalah salah satu yang sering kita denger sebagai teknik untuk membuat cerita seru dan tidak membosankan. Gw pun suka dikagetin, cuma di level tertentu, terlalu banyak kejutan membuat gw tidak terkejut lagi. Gw jadi mikir, apakah kita terlalu sering menggunakan kejutan sebagai alat? Kalo iya, memangnya apa alternatifnya?
Buat yang baca karya gw, kalian menemukan gak banyak kejutan di sana. Gw gak bilang karya gw adalah contoh yang bagus, tapi gw make contoh itu buat nunjukkin kalo kejutan ato emosi kaget bukan satu-satunya yang penulis bisa pake. Ada emosi lain yang, meski serupa, punya cara kerja yang berbeda: ketegangan. Gw ngerasa, kayaknya emosi itu masih bisa dimaksimalkan lagi di lanskap cerita Indo.
Ada banyak yang bisa kita pelajarin ketika ngebahas topik ini secara mendalam. Gw gak tau mana yang lebih baik: post dipecah per pekan ato dibuat panjang dalam 1 post. Gw tertarik mendengar pendapat kalian. Selagi menunggu, gw pengen tau apakah kalian juga ngerasa soal banyaknya penggunaan kejutan di media kita? Punya perspektif lain? Feel free to share it!
dominicuan
@231AgniKai37 I agree with you. Gw malah mau bilang kalo yang lu sebutin itu bukan sekadar trik, tapi elemen yang paling krusial dalam cerita! Fiksi adalah pelarian terstruktur dan terkontrol sehingga yang mengonsumsi bisa merasa menjadi bagian di dalamnya. Karakter adalah kendaraan yang pembaca pake untuk bisa masuk lari ke dunia fiksi. Bisa dibayangkan kalo kendaraannya gak sesuai dengan ekspektasi pembaca atau gak cocok dengan medannya, pelarian yang diinginkan bisa jadi gak maksimal dinikmati. Relatability adalah indikator yang biasanya dipake buat ngecek seberapa cocok karakter dengan cerita dan pembaca. Gw seneng banget karena lu menggunakan 2 contoh yang menunjukkan wajah berbeda relatability :) Di contoh pertama, kita ngeliat relatability sebagai kesamaan atribut eksternal karakter dengan pembaca. Kita mudah membangun ikatan atau kedekatan emosional dengan karakter yang berbagi pengalaman yang sama dengan kita. 'Pekerjaan' bisa dianggap sebagai label atau kemasan yang tersurat dan mudah dikenali pembaca. Di contoh kedua, relatability gak bisa diatributkan ke kesamaan eksternal. Gak ada di antara kita yang punya Jinchuriki tersegel di dalam tubuh yang bikin kita diasingkan seisi desa. Tapi apa yang gak sama secara label eksternal tersurat, kita menemukan kesamaan di level internal tersirat. Kita semua pernah merasa asing dan bertahan melawan keadaan sulit. Gak kayak label atau kemasan di luar, perasaan itu sifatnya manusiawi dan universal. Latar belakang dan konteks kehidupan kita jelas beda dengan Naruto, tapi kesamaan kita adalah pengalaman emosional. Kayak yang lu bilang, kesamaan ini yang bikin kita merasa seperti melihat "diri sendiri" di dalam si tokoh. Topik ini sebenarnya layak banget buat dapet pembahasan mendalam. Tapi kayaknya udah banyak yang ngebahas ini juga. Terlepas dari itu, makasih banyak udah mau membagikan tipsnya. Sekarang penulis FF JKT48 yang lain bisa tau rahasia kenapa cerita lu sukses :D
•
Reply
231AgniKai37
@ dominicuan pertama, saia minta maaf karena butuh waktu lama untuk membalas pesan ini, tiba-tiba—atau mungkin juga tidak—kesibukan kembali menelan saia.
Dan kedua, untuk alternatif yang dapat saia pikirkan dan bagikan sekarang adalah dengan membuat karakter yang relatable.
One of the oldest tricks in the book.
Dan lagi ini, sama seperti plot twist dan cliffhanger, bukanlah sebuah keharusan. Yah, sejak awal ini tak lebih dari trik sederhana.
Saia sendiri berkaca ketika membaca novel Bentala Sella dari Akaigita. Yah, meskipun saia sendiri sudah membaca novel pertamanya terlebih dahulu (Enigma Pasha di aplikasi ipusnas) akan tetapi alasan kuat saia ngebet beli novel keduanya itu adalah karena aspek relatable-nya. Saia beresonansi dengan pekerjaan Sella di bidang hidroponik, yang mana juga merupakan pekerjaan saia dulu setelah selesai kuliah. Dan saia pikir banyak pembaca mengalami hal yang serupa.
Agar emosi pembaca dapat terikat dengan tokoh/cerita yang kita buat, seringkali pemicunya adalah dari aspek kedekatan antara karakter dengan realita kehidupan mereka. Dengan hadirnya aspek itu—seringkali membuat—pembaca jadi lebih cepat terkoneksi dengan cerita yang disajikan.
Tentu, karakter yang kuat penokohannya tidak serta merta bergantung dengan aspek ini. Sebuah cerita yang imersif pun tidak harus memasukkannya sama sekali. Akan tetapi, jika berbicara tentang bagaimana cara agar pembaca dapat bersimpati lebih cepat pada karakter yang kita buat, maka trik ini adalah salah satu yang saia anjurkan.
Ambil saja contoh dari anime Naruto. Salah satu alasan yang mendongkrak kesuksesan cerita tersebut adalah karakter Naruto yang relatable. Sang Underdog yang ingin membuktikan pada orang-orang tentang dirinya. Dan saia rasa itulah mengapa banyak orang menyukai karakter itu (meski tentu ada aspek lainnya juga) karena mereka merasa dekat dengan apa yang dialami Naruto. Dan mereka mendukungnya, berharap Naruto berhasil karena mereka seperti melihat diri sendiri.
•
Reply
dominicuan
@231AgniKai37 Iya gw setuju. Kita berhadapan dengan banyaknya judul di luar sana, sedangkan di saat yang sama, attention span semakin rendah. Pembaca perlu tertarik secara cepat dan mempertahankan ketertarikan tersebut yang bisa pergi dengan cepat. Gratifikasi instan adalah salah satu cara yang memanfaatkan fenomena itu; kejutan, cliffhanger, plot twist, dll. Wattpad, boleh dibilang, adalah bukti kalo cara ini berhasil! Menarik karena lu menyebutkan soal kebanggaan penulis ketika menghasilkan plot yang tak tertebak. Menulis berisiko menjadi kegiatan yang overindulging; ditujukan untuk kepuasan penulis dan bukan pembaca. Lebih parah lagi, kita mengorbankan plot yang koheren, karakter menarik, latar yang menggugah, pengalaman emosional, eksplorasi tema, dan aspek kualitas menulis lainnya hanya untuk mengejutkan pembaca. Pembaca ingin terhibur, dan seperti yang kita tau, kejutan bukan satu-satunya cara menghibur di sebuah karya. Pertanyaannya buat para penulis, terutama kayak kita yang pemula, adalah apa alternatifnya? Karena gak bisa dipungkiri, kadang sesuatu menjadi lumrah karena keliatannya kayak gak ada alternatif lain. Lebih bagus lagi, buat apa mencoba di luar yang lumrah kalo itu aja udah berhasil. Yang artinya, post gw yang ini dan setelahnya gak lebih dari angin lalu aja sebenernya :D Berkaca dari pengalaman lu, alternatif apa yang pernah lu pake untuk menggantikan kejutan ato shock value di karya lu? Apakah menurut lu alternatif itu bisa dipake lebih sering ato dimaksimalkan lagi di cerita-cerita yang ada di sini ato pasar Indo secara keseluruhan? It'll be fun to hear if you have anything to share to us!
•
Reply
dominicuan
Kita sering denger dua istilah saat ngomongin penggunaan outline: plotter dan pantser. Plotter mempersiapkan outline sebelum menulis, sedangkan pantser lebih seperti improvisasi. Istilah lain yang mungkin dipake selain pantser adalah discovery writer atau discoverer, di mana penulis "menemukan" akan seperti apa ceritanya berkembang selagi penulisan berjalan.
Dengan seringnya pesan soal penting dan harusnya outline sebelum menulis, keliatannya dari 2 istilah tadi, cuma ada 1 yang "benar". Setidaknya, itu kalo outline adalah syarat, yang sendirinya kurang tepat. Brandon Sanderson pun menggunakan perbandingan berbeda soal plotter vs discoverer. Plotter menghabiskan lebih banyak usahanya sebelum menulis, karena harus menyiapkan outline ato strukturnya. Discoverer menghabiskan lebih banyak usahanya setelah menulis, karena dengan tidak memiliki outline sebelumnya, kemungkinan ada lebih banyak penyesuaian setelah ceritanya terbentuk. Sanderson gak pernah menyebut yang satu lebih bener karena: a) keduanya tetap mengharuskan proses menulis cerita itu sendiri, dan b) keduanya tetap melakukan editing ketika draft pertama selesai. Bisa dibilang, keduanya cuma beda porsi kerjaan, di mana plotter lebih banyak di awal dibanding akhir draft, discoverer lebih banyak di akhir dibanding awal draft. Dilihat dari kacamata ini, gak ada yang bener dan salah, kan? Keduanya valid, tetap membutuhkan usaha, dan keduanya bisa menghasilkan cerita.
Menulis adalah seni, dan layaknya semua upaya kreatif, sulit melabeli benar dan salah ke sebuah proses (tidak menghitung proses yang melibatkan pertimbangan etis karena itu di luar pembahasan ini). Outline, tidak outline, selama bisa membantu perjalanan seni kita, I say why not? Jadi terkhusus buat kita yang kecil hati untuk nulis karena sulit buat outline, just write!
Gimana menurut kalian? Apakah kalian merasa lebih plotter dibanding discoverer? Di antara keduanya? Mungkin kalian ingin membagikan perspektif kalian? Feel free to drop it here!
dominicuan
@Hedj__ Gw ngerti perasaan lu. Di kuliah yang sama, Sanderson pernah bilang kalo mayoritas penulis sebenernya berada di antara plotter dan pantser. Outline hampir pasti tidak sepanjang novelnya. Artinya, untuk tiap patokan ato marka di cerita yang kita rancang, kita tetap perlu mengisi perjalanan dari marka ke marka selanjutnya sampe selesai. Itulah kenapa Sanderson bilang kebanyakan penulis aslinya gonta-ganti antara plotter dan pantser. Gak semua detail langkah dalam perjalananya bisa kita siapkan sejak awal (yang ada outline-nya sepanjang cerita dan kita malah gak nulis ceritanya!). Memang sih, kadang ada kekhawatiran ketika kita melenceng dari marka yang kita buat. Tapi hey, inilah indahnya berkreasi! Ketika kita masuk begitu dalam ke cerita kita, kadang kita dikejutkan oleh keputusan ato kejadian yang hanya bisa dibuat dalam konteks plot dan karakter di ceritanya. Mungkin istilah lainnya adalah insting; ketika kita tau, sadar ato tidak, kalo melenceng dari marka adalah kejutan yang ceritanya butuhkan. Kejutan-kejutan ini yang memberi warna dan bumbu ke sebuah seni. Mungkin, sesekali kita bisa mendengarkan insting itu dan mengapresiasinya. Setidaknya, Stephen King mungkin akan berbagi sentimen yang sama :)
•
Reply
Hedj__
Saya sangat setuju, dan memang bagian paling rumitnya ada di antara kedua itu: pantser maupun outliner.
Saya sendiri adalah tipe perencana. Isi kepala saya cenderung abstrak, jadi agak sulit membayangkan apa yang akan terjadi secara linear ketika saya menyusun sebuah plot. Dengan adanya alat seperti struktur naratif, senggaknya membantu saya menyusun kepingan gagasan-gagasan tersebut menjadi susunan peristiwa secara kronologis, bagaimana tokoh dalam peristiwa tersebut bertindak, dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Jadi ketika ada ide baru muncul, saya langsung tahu di mana meletakkannya, serta kenapa itu releva dalam cerita.
Akan tetapi, di sisi lain, ini memaksa saya mengikuti rancangan yang sudah saya buat sendiri dan sangat dibutuhkan kreativitas extra untuk menyesuaikan diri. Kadang-kadang, ini juga menimbulkan frustasi apabila gagal dieksekusi sesuai harapan
—Cheers
•
Reply
dominicuan
@CyberneticWanderer Wajar kok kalo bagi sebagian orang outline justru terasa canggung untuk digunakan. Stephen King sendiri menghindari outline karena menurutnya, outline membuat ceritanya terasa "udah komplit". Bagi dia, proses menulis itu justru bagian paling menyenangkan, terutama ketika karakter yang ia buat seperti menuntun arah ceritanya tanpa arahan si penulis. Jadi ya, dia salah satu contoh terkenal dari penulis yang tidak menggunakan outline secara baku. Mungkin yang gak banyak dibahas adalah, proses menulis sebenarnya terjadi di draft kedua. Draft pertama memang dan hampir pasti berantakan. Di draft kedua ini di mana kita mulai menyusun dan merangkai bentuk ceritanya. Dalam kasusnya Stephen King, di draft inilah dia baru merapikan ceritanya si karakter yang ia biarkan berkembang natural. Memang sih, level dia berbeda dengan kita yang masih pemula—beberapa kali dia menyebutkan paling sering ceritanya sudah komplit di draft kedua ato ketiga—tapi pendekatan ini tetap valid. Tinggal bagaimana kita memaksimalkan penggunannya untuk proses berkarya!
•
Reply
dominicuan
Ketika gw ngebahas soal outline, gw kira akan selesai di situ. Sekarang gw jatuh lebih dalam! Gw rasa, ketika ngomongin "aturan" menulis, tantangan terbesarnya adalah melihat sisi lain atau alternatif dari "aturan" tersebut. Lebih sulit lagi melihat alternatif itu sebagai pilihan yang valid, jika dieksekusi dengan baik.
Sayangnya, gw belum nyiapin material buat post-nya :D Gimana kalo sekarang kita intermezzo lagi? Selama ini gw ngerasa seperti terjebak dalam gelembung kecil kalo soal bacaan. Mengingat gw bukan pembaca, bacaan gw terbatas sama yang beririsan dengan tulisan gw. Dalam kasus gw, biasanya gak jauh dari fanfiction atau cyberpunk.
Gw sering banget mengulang ini, tapi gw beruntung bisa kenalan dengan beragam author dengan gaya masing-masing. Gw bisa bilang berkat mereka gelembung bacaan gw makin membesar. Namun, belakangan ini, gw merasa ada yang mengganjal tiap kali gw mencari cerita baru untuk dibaca. Rasanya tiap judul, tiap sinopsis, tiap blurb, semuanya seperti cerita yang sama.
Gw gak bilang kalo ini hal yang tabu. Cerita pastinya terinspirasi dari karya yang lain, dan wajar kalo ada elemen yang sama. Tapi yang gw rasakan jauh lebih dari sekadar kesamaan inspirasi. Rasanya seperti membaca cerita yang sama dengan nama dan latar yang diubah. Kadang gw suka bercanda dengan menantang seberapa jauh gw bisa membaca sampe ketemu plot atau trope yang sama dengan cerita lain. Sayangnya, tantangan ini yang bikin bacaan gw gak bertambah banyak dari sebelumnya :(
Yang jelas ini gak ada hubungannya dengan bagus/jelek. Yang gw rasakan lebih simpel. Seperti... stagnansi. Seperti menginginkan sesuatu yang segar.
Apakah kalian pernah ato sedang merasakan yang gw rasakan? Kalo iya, apa alasannya? Gimana cara kalian menanggapi perasaan itu? Mungkin kalian punya perspektif lain yang bisa menambah diskusi ini. Looking forward to hear from you guys :)
dominicuan
@231AgniKai37 Hei, gw percaya lu tau apa yang ingin lu lakukan. Kadang yang dibutuhkan cuma outlet untuk menyalurkannya. Sama seperti cerita di kepala kita :) Kedengarannya counterintuitive, tapi kita butuh lebih banyak penulis, fan atau original fiction. Meski gw setuju dengan tindakan tegas, gw akan sedih kalo suatu saat penulis seperti lu menyerah dan kehilangan semangat berkarya. Gw sadar gw bukan siapa-siapa dan yang gw lakukan gak ada artinya dalam skala besar, tapi gw harap dukungan kecil ini bisa menjaga penulis-penulis lain, termasuk lu tentunya, untuk terus memberikan yang terbaik untuk kita. So really, I should be one thanking you. Makasih karena mau membagikan pandangan, cerita, dan perspektif lu untuk kita semua :D
•
Reply
231AgniKai37
@ dominicuan perang yang tidak bisa dimenangkan ya... Itu memang ungkapan yang cocok untuk situasi ini.
Wkwkwkwk harus diakui mungkin saia sendiri sedikit lembek dalam menghadapi konflik. Bagaimanapun saia sebisa mungkin mencoba menghindarinya. Karena jujur, saia sendiri tidak menaruh dendam pada mereka yang melakukan aksi plagiarisme tersebut. Karena jelas bagi saia; sama seperti saia sendiri, mereka juga masih belajar (yah, walaupun itu tidak membenarkan tindakan yg 100% salah tersebut). Bagaimanapun sejak awal, mereka juga termasuk pembaca setia karya saia. Teman saia. Yang mengecewakan adalah mereka seolah tidak mengakui, setidak-tidaknya, mengambil inspirasi dari cerita saia. Bukannya saia menuntut credit. Tapi klw setidaknya mereka melakukan hal tersebut, saia bisa membantu mengarahkan mereka (walau yah, Saia juga masih belajar), dan saia tidak perlu ditempatkan dalam situasi tidak mengenakkan ini sendiri.
I don't know, I've been conflicted about this
Mungkin saja memang saia yg terlalu banyak pertimbangan.
Yah apa pun itu.
Terima kasih. Sungguh-sungguh terima kasih. Saia beruntung mempunyai teman seperti kamu. Yang selalu punya jawaban dan pandangan atas segala hal yang tidak saia ketahui. Ketika saia kesulitan dalam menyampaikan sesuatu, kamu selalu mempunyai kata-kata yang saia cari.
•
Reply
dominicuan
@231AgniKai37 Gw baca notes yang lu bagikan di salah satu bab lu. Gw bisa membayangkan beratnya situasi yang lu alamin. Lu hebat bisa bertahan, dan itu sendiri mungkin pencapaian yang lebih bernilai dibanding kemampuan lu dalam menyelesaikan cerita. Maaf ya gw baru sempet mengucapkan itu sekarang. Kayak yang lu bilang, sangat wajar ketika kita ingin melindungi integritas karya yang kita buat dengan jerih payah. Sisi tegas gw pun menganggap ultimatum semacam itu adalah keputusan yang benar. Ide itu gratis, eksekusinya yang mahal. Plagiarisme sangat menyakitkan karena dia merengut apa yang membuat tulisan berharga: aktivitas menuangkan idenya itu sendiri. Bukan cuma penulis yang dilukai; pembaca kehilangan kesempatan membaca karya yang berharga dengan banyaknya plagiarisme di luar sana. Meski harus diakui, ekosistem platform ini yang gratis dan terbuka menjadi faktor kerentanan maraknya plagiarisme. Rasanya kayak perang yang gak bisa dimenangkan. Kadang tindakan ekstrem diperlukan agar pesan dan keresahan kita didengarkan. Di sisi lain, gw mengerti konteks lu. Karya yang lu buat bukan sekadar persembahan ke pembaca ato fandom yang lu gemari, tapi menjadi alasan kenapa lu masih di sini. You are writing a story for yourself. Menurut gw gak ada nilai yang sebanding dengan itu. Gw setuju dengan keputusan lu meski sangat menyakitkan. Lu punya batasan yang jelas, dan kalo batas itu dilanggar, gw mendukung kalo lu mau menindak secara serius. It's small, but you can count that I have your back. Permasalahannya tetap ada. Kita perlu akui, ini terlalu besar untuk ditangani sendirian. What we have, I think, is to support each other in any way possible. Karena pada akhirnya, korban terbesar plagiarisme adalah matinya suara penulis, baik plagiator maupun yang diplagiat. Mungkin gak bernilai banyak, tapi kita bisa raih kemenangan kecil itu; suara lu akan tetap dikenal oleh mereka yang benar-benar membaca karya lu :)
•
Reply