“Apa salahku jika bayiku perempuan?”
Lea pikir pernikahannya sempurna—hingga dua garis merah di testpack justru jadi awal mimpi buruk. Saat tahu ia mengandung anak perempuan, rumah mertuanya berubah dingin. Suaminya mulai menjauh. Dan perempuan lain mulai dilirik untuk menggantikan posisinya.
Saat hamil menuju trimester kedua, Lea memilih pergi. Ia ingin anaknya lahir tanpa tekanan, tanpa hinaan, tanpa dipandang rendah hanya karena bukan laki-laki.
Tapi apa semudah itu lepas dari masa lalu?
Bagaimana jika suaminya datang menyesal?
Bagaimana jika cinta itu belum benar-benar mati?
Di antara luka, air mata, dan kekuatan menjadi ibu, Lea harus memilih: bertahan, melawan, atau memulai hidup baru?
https://www.wattpad.com/story/400894684?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=ekprisa