ell_zezaliam

Tengah merasa karya lama sudah terlalu kacau balau :)
          	
          	Ganti aja kali ya? Tapi ke versi baru :)
          	Bosen juga, wkwk.

ell_zezaliam

Dari semua alasan kalo ditanya kenapa pengen punya banyak uang atau sebut aja 'kaya' ya pasti satu.
          
          Pengen bantu orang.
          
          Siapa sih yang nggak kasihan ngeliat orang lagi kesusahan? Normalnya orang pasti pengen bantu kan? Entah dengan doa, donasi atau jadi relawan yang langsung terjun ke lapangan. Tapi kadang doa aja nggak cukup, langsung terjun ke lapangan aja nggak cukup, berdonasi tanpa liat kemana uang ini akan dialirkan juga nggak cukup.
          
          Semua pilar ini tuh punya peran masing-masing yang sama-sama penting.
          
          Masa iya, kita harus terus menutup mata seolah-olah kita setara kayak para aristokrat yang duduk seolah mereka raja?
          
          Raja aja mikir, lah ini?
          
          Di ajak mikir aja nggak mau. Udah sesuai sama kata-kata viral. Berdebat sama orang goblok itu buang-buang waktu. Apalagi orang ini punya kekuasaan, gimana bisa kebodohan itu berbalik ke arah kebajikan? Sementara kebijaksanaan aja nggak punya. Adanya nafsu sama ego. Apalagi itu empati udah ilang entah kemana. Mau jadi apa kita-kita ini kalo dibawah kepemimpinan orang-orang kayak gitu?

ell_zezaliam

 #Reminder_Today
          
          Berita perselingkuhan udah nongol pagi-pagi, terlebih hal ini terasa mengejutkan banget bagi yang tau kisah dibalik pasangan ini. Awalnya denial, nggak percaya. But who knows?
          
          Someone can act like that.
          
          Freedom yang dikasih pasangan seharusnya dipakai untuk menenangkan hati dan memperbaiki diri.
          
          Act of jealousy, salah satu sikap yang dimiliki semua orang tanpa terkecuali dan merupakan salah satu sikap yang bisa dikendalikan juga. Kadang kita ngerasa rendah diri, takut, cemas kalo sampe-sampe yang dikhawatirkan itu beneran kejadian. Dan mungkin masalah kali ini emang nggak jauh-jauh dari rasa 'kecemasan' dan 'ego diri' masing-masing.
          
          Kesal boleh, tapi siapa yang malu kalau hal jelek kayak gini sampe kesebar ke khalayak ramai?
          
          Ada pikiran di kepala kalau: Bagusnya orang-orang kayak gini yang perlu diboikot.
          
          Why?
          
          Emang rela ngebiarin bibit jelek kayak gini sampai ke orang-orang yang sebelumnya nggak ngerti hal ginian beneran ada?
          
          Emang nggak kasian sama orang-orang yang terpengaruh sama konten dan berita kayak gitu ngebikin orang-orang disekitar kamu ngalamin hal yang sama juga?
          
          Please, please, please banget ya. Jangan normalisasi selingkuh.
          
          _Ell

ell_zezaliam

 #Tell you my story
          
          Akhir-akhir ini tuh rasanya kayak banyak banget problem pribadi yang bikin dilema. Yang aku rasa emang wajar, normal dan bisa dirasain semua orang.
          
          Tapi pas baca punya orang tuh awalnya kayak, "Masa sih?" "Yang bener ini?" "Kok aku nggak bisa gini juga sih?"
          
          Jadi liat sosmed tuh tiap hari ngeschroll berasa kayak nyakitin diri sendiri. Entah soal ekspektasi ke diri sendiri dan rasa rendah diri kenapa diri sendiri masih aja kayak gini. Seolah-olah tuh pengen ambisius, pengen serius, tapi badan kerasa nggak keurus sampe mau gerak buat ngewujudin itu tuh kayak bodoamat. Kayak seolah, "Aelah, rehat bentar ngapa?" padahal itu tuh ajakan sesat buat leha-leha. Mikir nya sih buat "istirahat" tapi kalau lama jatuhnya sih "males" dan akhirnya balik nggak konsisten. Kadang juga mikir, "Besok lah, biar sekalian banyak. Baru sibuk juga." padahal ya emang ogah aja, wkwk.
          
          Merangin rasa nggak nyaman tuh emang sesusah itu dan mau balik ke tempat yang mungkin nggak gitu nyaman pun juga nggak semudah itu. Jadi kalo orang bilang, "Loh, kok masih gini-gini aja?" Ya say hi aja sama ego nya. Nggak tau juga sesusah apa buat bisa jadi lebih baik dan ninggalin hal buruk.

ell_zezaliam

Kalo dibilang karena males, ya emang males. Tapi orang lain nggak ada hak dong buat nge-judge apa yang berusaha kita lakuin. Syukur-syukur kasih semangat biar kita juga merasa kalau dibalik semua kesusahan ini tuh orang-orang yang udah maju duluan masih mau nungguin kita. Masih mau narik kita kalo kita lagi capek.
          
          Ya kali mau sama yang nge-judge terus dan malah sok-sokan songong karena dia udah lebih dari kita. Dih, toxic amat.
          
          Syukur-syukur orang jadi korban toxic nya punya mental baja, lah kalo kaya ager-ager?
          
          Nggak hilang nyawa aja masih syukur.
          
          Jadi reminder aja yang baik, jadi supporter yang baik, jadi orang yang bisa ada kalo dibutuhin. Tapi ya jangan dimanfaatin dong. Mentang-mentang tau orangnya baik dimanfaatin, cut off lah. Ya kali mau meres darah buat orang-orang nggak tau diri.
          
          _With Peace
          _Ell
          
          _Bagi dua soalnya kepanjangan.

ell_zezaliam

Random fictional short stories edition:
          
          .
          .
          .
          
          "Well, who are you?"
          
          Bola lampu oranye tergantung mengayun, memetakan wajah maskulin yang tengah menatap wanita dihadapannya penuh beban penderitaan di dalam ruangan pengap beraroma oli. Tak sekalipun tatapannya berpindah dari wanita itu meski nyeri tinjuan yang membuat bibirnya sobek masih terasa menyakitkan.
          
          Wanita itu melipat tangan, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk lengan yang tertutup jaket training hitam kala ia menanti lelaki yang diikat pada kursi di depannya membuka mulut.
          
          Menghela napas, ia sedikit merunduk. Tangannya bertumpu pada lutut, menatapi mata lelaki itu dalam jarak yang begitu dekat hingga napasnya pun hingga terasa menerpa wajahnya.
          
          "Setidaknya aku tau kau bukan dari kelompok para ba****an itu. Jadi buka mulutmu dan jawab aku."
          
          Detik demi detik berlalu selama wanita itu masih dengan sabar menunggu jawaban. Namun lelaki itu hanya menatap, bahkan dengan perasaan yang sama tanpa berubah sedikitpun.
          
          Menegakkan tubuh, si wanita akhirnya berpikir sejenak dan berkata pada anak buahnya yang diam menyaksikan segalanya sembari berjaga.
          
          "Ambilkan air minum. Sepertinya dia haus."

ell_zezaliam

Selagi seseorang mengambilkan air minum, si wanita hanya diam menatapi lelaki yang tampak masih enggan membuka mulutnya tersebut. Lelah berdiri, ia mengambil kursi untuk duduk dihadapannya. Balik menatapnya yang saat ini tengah dipaksa minum hingga dengan sengaja menyemburkan air pada si wanita. Seolah minum dari wanita itu pun ia tak sudi.
          
          Mengelap wajah dan area yang terkena semburan si pria, wanita itu menghela napas.
          
          "Yahh, baiklah jika kau tak ingin bicara. Biar aku yang bicara."
          
          Menyilangkan kakinya, si wanita duduk tegap menatap pria yang nampak memiliki dendam pribadi padanya.
          
          "Aku Sierra Malvis. Saat ini kau berada di sebuah gudang terbengkalai daerah Mapo milikku. Entah bagaimana kucing sepertimu malah terjebak dalam jebakan tikus yang aku siapkan. Tampaknya otakmu sudah dicuci ya?"
          
          Sierra tersenyum tipis, "Karena kau tidak berniat mengatakan apapun. Jadi sepertinya aku harus memelihara mu."
          
          Tangan Sierra menggantung kesamping, menerima sebuah kalung yang anak buahnya berikan.
          
          Berdiri dari tempat duduk, Sierra mendekat. Memasangkan kalung itu di leher si lelaki yang hanya bisa tercekat tanpa perlawanan dengan mata bergetar.
          
          "Neko-chan, matane."
          
          Setelah nya, Sierra pergi meninggalkan tempat dan lelaki yang baru bereaksi melawan itu berakhir dibuat pingsan. Menatap punggung Sierra yang menjauh kala si lelaki digotong entah akan dibawa kemana.